Saluran televisi BBC Earth beberapa hari ini menayangkan beberapa program yang bertemakan nasib bumi di masa depan. Beberapa di antaranya yang saya ikuti adalah program dengan judul Drowning in Plastic, 7.7 Billion People and Counting, dan Climate Change: The Facts.

Program Climate Change: The Facts hendak menyajikan fakta-fakta perubahan iklim di hampir belahan benua (Amerika, Eropa, Asia, Afrika), bahkan perubahan iklim menciptakan kenaikan suhu udara di lautan maupun di darat serta udara. Sebuah grafik yang dikeluarkan NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) peningkatan suhu air laut dari tahun 1880-2015.

www.epa.gov

Tahun 2018 lalu, NASA membagikan sebuah rekaman yang menunjukkan gelembung metana muncul di danau Arktik. Fenomena ini terjadi ketika permafrost atau lapisan es abadi yang telah membeku selama ribuan tahun tiba-tiba mencair lebih cepat dari yang diperkirakan.

climate.nasa.gov

Sementara program 7.7 Billion People and Counting memperlihatkan kebutuhan manusia yang mendesak terus-menerus dipenuhi. Namun, di satu sisi, menciptakan sejumlah persoalan problematik pada ekosistem.

Berdasarkan laporan PBB bahwa tahun 2050 jumlah umat manusia akan mencapai 10 miliar. Chris Packham pemandu acara ini mengkhawatirkan masa depan dunia yang terdiri dari sepuluh miliar mungkin terlalu banyak orang untuk menopang bumi, mengingat dampak yang sudah dimiliki oleh 7,7 miliar manusia. 

Bepergian keliling dunia untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan sulit dan terkadang kontroversial, Chris menyelidiki mengapa populasi kita tumbuh begitu cepat, apa dampaknya terhadap dunia alami, dan apakah ada sesuatu yang dapat dilakukan.

Adapun program Drowning in Plastic memperlihatkan banyaknya sampah plastik yang tidak bisa diurai dan mencemari bukan hanya daratan melainkan lautan di hampir semua benua. Sejumlah hewan kedapatan mengonsumsi plastik saat dibuka isi perutnya.

Ikan di Pasifik Utara menelan 12.000 hingga 24.000 ton plastik setiap tahun, yang dapat menyebabkan cedera usus dan kematian dan mentransfer plastik ke rantai makanan untuk ikan yang lebih besar, mamalia laut, dan pemakan makanan laut manusia. Sebuah studi baru-baru ini menemukan bahwa seperempat ikan di pasar di California mengandung plastik dalam isi perut mereka, sebagian besar dalam bentuk serat mikro plastik.

Industri bukan hanya memberikan supply terhadap kebutuhan manusia, melainkan sejumlah risiko yang membahayakan ekosistem masa depan, jika tidak diantisipasi sedemikian rupa.

Tidak mungkin memutar kembali dunia dan memuji romantisisme masa lalu serta memimpikan Taman Eden yang asri. Dunia kita terus berubah dan mengalami kemajuan dengan segala eksesnya.

Setidaknya, yang diperlukan adalah sebuah mekanisme baru yang diatur oleh regulasi eksekutif bahkan diinisiasi oleh para pelaku industri agar senantiasa menciptakan teknologi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Beberapa contoh diperlihatkan dalam tayangan program di atas bagaimana sejumlah pelaku industri peternakan yang membuang hasil limbah ternak (padat dan cair) dalam sebuah laguna buatan, namun ditutupi plastik sehingga tidak menghasilkan bau yang mengganggu lingkungan dan gas metana yang dihasilkan kotoran tersebut tidak menguap ke udara dan berkontribusi meningkatkan perubahan iklim. 

Sebaliknya, gas metana yang dihasilkan disalurkan menjadi tenaga yang menggerakkan mesin produksi termasuk kebutuhan akan listrik.

Demikian juga diperlihatkan pilihan yang dilakukan sejumlah negara (Amerika, Jerman, Spanyol, Cina, India) untuk menggunakan kekuatan alam seperti angin dan cahaya matahari menjadi sebuah tenaga yang dipergunakan untuk memenuhi pasokan listrik dan kebutuhan lainnya sehingga meminimalisasi emisi karbon yang menghasilkan efek rumah kaca.

Mungkin kita berpikir bahwa peristiwa-peristiwa kerusakan ekosistem terjadi di negara-negara super power. Ternyata di hampir semua negara bahkan negara yang dikategorikan dunia ketiga.

Bukankah semua negara terkoneksi satu sama lain? Di era digital ini, dunia seakan "terlipat” dan bumi menjadi "datar" karena teknologi informasi mengoneksikan masing-masing negara. Memperpendek jarak mempercepat komunikasi. Bahkan kita semua berbagi masalah yang sama di seluruh dunia, khususnya perubahan iklim (climate change).

Apa yang bisa kita lakukan sebagai bagian dari masyarakat dunia? Kita bisa berkontribusi dengan melakukan tindakan yang peduli terhadap lingkungan yang bersih (jalan, sungai, hutan) dan membuang sampah pada tempatnya. Kita bisa lebih peduli dengan menjaga sungai-sungai di lingkungan bukan sebagai tempat pembuangan sampah melainkan saluran mengalirnya air dari hulu menuju muara. 

Mengutip Emma Marris dalam artikelnya berjudul Jika Terjadi Pembaruan, “Kita tidak dapat mengatasi krisis iklim dengan menjadi konsumen yang ‘baik’. Namun kita jelas dapat membuat berbagai hal menjadi jadi jauh lebih baik dengan menjadi warga negara yang baik.” (National Georaphic Indonesia, Vol 16 No 4:21)

Dilansir dari BBC (2018 lalu), seorang pemuda bernama David Christian berusia 25 tahun berhasil membuat sebuah kertas berbahan rumput laut yang tidak mudah sobek untuk menggantikan plastik. Ini pun merupakan bentuk inovasi dalam merespons perubahan iklim dan mencari sumber alternatif yang lebih aman bagi masa depan lingkungan.

Demikian pula para pelaku usaha industri bertanggung jawab terhadap limbah yang dihasilkan dari proses produksi dan berinovasi menjadikan limbah bukan sebagai sumber malapetaka bagi lingkungan.

Pemerintah harus memiliki awareness untuk menjalankan pembangunan berkelanjutan (sustainable development), yaitu proses pembangunan yang berprinsip memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan.

Kesadaran dan komitmen terhadap sustainable development ini tentunya diterjemahkan dalam sebuah regulasi yang bukan hanya menguntungkan dari segi ekonomi namun terjaganya keseimbangan ekosistem masa kini dan masa depan.

Apa yang kita lakukan hari ini sangat berpengaruh terhadap apa yang akan diterima oleh generasi masa depan. Jika menginginkan kehidupan bumi dan lingkungan tetap terjaga sebagai rumah masa depan, maka janganlah mengambil lebih dari yang kita perlukan dan menginvestasikan kembali apa yang telah kita ambil dari alam agar dapat dipergunakan oleh generasi yang akan datang.