Masa depan adalah suatu keniscayaan yang nantinya akan kita hadapi, berbagai bayangan tergambar dalam angan-angan yang penuh dengan cita. Sebagian besar dari kita, ketika berangan tentang masa depan, akan melukiskan sebuah keindahan-keindahan, proses yang indah serta hasil yang sempurna.

Pada masa muda, cenderung kita menjalaninya dengan mengabaikan apa yang akan menjadi bekal dikemudian hari, bahkan terkadang kita menjadikan masa muda berlalu tanpa menikmati proses yang ada. Sebagian besar dari kita justru berharap akan kenikmatan semata.

“Muda foya-foya. tua kaya-raya. mati, menikmati surga”. Semboyan ini kini tidak sepatutnya dijadikan prinsip dalam hidup, sebab hanya akan membelenggu kita pada kondisi yang penuh dengan kegagalan. tanpa memiliki makna akan sebuah proses mencapai surga.

Bagaimana mungkin kehidupan yang hanya foya-foya mampu memberikan dampak kebahagiaan di masa tua, kecuali ia anak sultan. Namun tak semua akan menikmati surga meskipun ia anak sultan.

Menata masa depan dimulai dari saat ini adalah bagian terpenting untuk menyajikan kebahagiaan kepada orang-orang di sekeliling kita, baik keluarga maupun sahabat kita. Sebagai sebuah implikasi akan kerja keras yang telah kita lakukan pada masa sebelumnya.

Berinvestasi di Era Digital

Investasi tidak selalu berkaitan dengan uang, dan tidak melulu soal akumulasi bentuk aktiva dengan suatu harapan mendapatkan keuntungan pada masa depan. 

Investasi yang penuh dengan bayangan angka-angka dan garis berwarna hijau merah dengan ritme naik turun (support) yang menjadikan tidak semua orang paham akan hal tersebut.

Investasi yang demikian terkadang dianggap sebagai persoalan yang serba rumit, menjadikan kita merasa enggan memahaminya, bahkan tidak tertarik untuk mempelajarinya. Bahkan investasi yang demikian dinilai membutuhkan kesiapan modal yang cukup besar untuk mendapatkan hasil yang besar.

Memasuki mode digital, dunia usaha mulai menjajakan produknya pada pasar online (e-commerce). Ddengan adanya implementasi teknologi, dimaksudkan untuk mempermudah urusan manusia dalam berbagai hal, termasuk menawarkan produk pada generasi milenial serta memperluar pasar investasi.

Dibarengi dengan banyaknya literasi finansial, menawarkan berbagai kemudahan aplikasi untuk para generasi muda melakukan invenstasi. Salah satunya adalah investasi Reksa Dana yang menjadi salah satu jenis investasi dengan gaya kekinian.

Bermodal kemudahan pembelian melalui aplikasi hingga integrasi dengan uang elektronik sehingga memudahkan dalam transaksi. Kemudahan tersebut dapat dimanfaatkan oleh semua kalangan, baik dari yang muda hingga yang berusia tidak muda lagi.

Pada dunia investasi digital dapat kita lihat pada dua startup teknologi Indonesia yang turut ambil bagian, yakni Bukalapak dan Tokopedia. Kehadiranya pada dunia investasi memberikan jalan masa depan generasi muda.

Masa depan memang tidak dapat ditebak, tapi kita mampu mempersiapkannya mulai saat ini. Dengan perkembangan teknologi yang kian maju, justru memunculkan banyak profesi-profesi baru yang juga sekaligus dapat menjadi menjadi ladang investasi dan profesi.

Generasi sebelum milenial mungkin tidak pernah memperkirakan akan sebuah kemajuan digital yang menghadirkan profesi baru seperti youtuber, selebgram, dropshipper, reseller dan lain sebagainya.

Kondisi dengan berbagai kemudahan juga menjadi ancaman bagi generasi yang tidak mampu mengikutinya, bahkan cenderung menggilas para pelaku investasi lama yang ada pada sector riil.

Determinisme teknologi sebagai perubahan yang terjadi dalam perkembangan teknologi sejak zaman dahulu sampai saat ini akan memberikan pengaruh yang besar terhadap masyarakat (Merrit Roe Smith & Loe Marx, 1994). Sehingga akan memberikan pengaruh yang besar kepada perkembangan nilai sosial dan kehidupan masyarakat.

Belajar dari Edward Buffett

Menghadapi semua itu, kita dapat belajar dari seorang investor Warren Edward Buffett (1930) yang telah berinvestasi sejak usia kurang lebih 13 tahun. Salah satu bisnis yang menjadi ketertarikanya pada masa muda adalah menjual permen karet dan majalah mingguan dari pintu ke pintu. Bahkan ia masih menyempatkan diri membatu berjualan pada toko klontong milik kakeknya.

Perjalanannya dalam dunia usaha dilatarbelakngi oleh kegigihan mimpi di kala muda. Buffett menyadari sebuah proses perjalanan panjang untuk menjadi orang yang sukses. Hingga selanjutnya memutuskan untuk berinvestasi dengan membeli saham preferen Perusahaan Utilitas Cities Service.

Selain berinvestasi pada pasar uang pada usia 15 tahun, Warren dengan modal yang dikumpulkan dari hasil saham dan mendistribusikan koran Washington Post, dapat berinvestasi pada sektor rill dengan membeli 16 hektare lahan pertanian yang selanjutnya disewakan kepada petani dalam rangka membuka lapangan pekerjaan.

Tidak hanya berinvestasi pada sektor riil dan non riil yang menjadi konsentrasinya, sebagai orang yang memiliki keterpanggilan sosial cukup tinggi. Bahkan ia bersumpah akan mendedikasikan 99% kekayaan Buffet untuk keperluan-keperluan Filantropi, yang mayoritas melalui Gates Foundation.

“Ide utama investasi adalah memilih saham sebagai sebuah bisnis, menggunakan fluktuasi sebagai keuntungan, dan mencari margin pengaman. Itulah yang diajarkan Benjamin graham kepada kita. Seratus tahun dari sekarang, pemikiran itu masih akan menjadi pondasi dari investasi.” - Warren Buffett