Profesi akuntan, istilah yang tidak asing lagi bagi sebagian orang. 

Di zaman dengan teknologi yang berkembang sangat pesat ini, terutama di zaman Revolusi Industri 4.0, tidak jarang media-media, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar negeri, menyebut akuntan sebagai salah satu pekerjaan yang berpotensi besar untuk digantikan oleh mesin (kecerdasan buatan)

Akibat kesan yang melekat pada pekerjaan akuntan disebut-sebut monoton. Lantas, apakah akuntan hanya akan menjadi sebuah “sejarah”?

Revolusi Industri 4.0 menciptakan berbagai kemudahan bagi penggunanya, salah satu di antaranya adalah dengan adanya Data Analytics. Teknologi ini memungkinkan penggunanya untuk dapat membantu pembuatan keputusan keuangan dengan cepat dan akurat.

Tak luput juga dengan adanya bantuan dari Big Data dan Internet of Things, semua data akuntansi maupun bisnis akan terintegrasi dengan cloud.

Walaupun Revolusi Industri 4.0 memberikan banyak keuntungan, di sisi lain hal ini menjadi suatu tantangan yang berat bagi para akuntan karena keefisienan yang ditawarkan oleh teknologi ini. Menurut Kepala Pusat Pembinaan Profesi Keuangan, Langgeng Subur MBA., Ak., CA., kemungkinan profesi akuntan tergantikan oleh robot adalah sebesar 95 persen.

Hal ini didukung oleh perkembangan Big Data, Machine Learning, dan Internet of Things yang makin pesat. Pekerjaan dasar yang dilakukan akuntan, seperti mencatat transaksi, memisahkan dan mengolah transaksi makin tergerus digantikan oleh teknologi-teknologi yang ada.

Apakah dengan adanya teknologi ini selalu merugikan seorang akuntan? Justru dengan adanya teknologi di masa kini, pekerjaan akuntan akan lebih terbantu.

Teknologi ini membantu mengotomatisasi proses pencatatan dan pembuatan laporan keuangan (sehingga akuntan dapat lebih fokus untuk menganalisis data dan laporan serta pertimbangan keputusan yang ada), meminimalisasi kesalahan-kesalahan yang tidak disengaja (human error).

Proses audit dapat dilakukan secara real time dan efisien serta dapat menemukan kecurangan yang terjadi dalam perusahaan secara cepat saat pengauditan berlangsung.

Peran akuntan tetap dibutuhkan dalam perusahaan mengingat akuntan juga sebagai pemberi pertimbangan kepada perusahaan mengenai kondisi keuangan yang sedang dihadapi oleh perusahaan tersebut, selain memberi informasi-informasi keuangan yang ada.

Kabar baiknya, kebutuhan akan akuntan profesional di Indonesia sendiri dikabarkan akan terus meningkat.

Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), Indonesia masih membutuhkan sekitar 452 ribu akuntan profesional. Sedangkan berdasarkan data dari Pusat Pembinaan Akuntan dan Jasa Penilai (PPAJP), akuntan profesional yang tersedia kurang dari 16 ribu orang. Dengan begitu, kelangsungan akuntan di Indonesia masih terbilang tetap hidup saat ini.

Meski begitu, lulusan akuntansi dari perguruan tinggi di Indonesia pada tahun 2010 ternyata mencapai angka 35.304. Ini juga harus menjadi perhatian untuk akuntan di Indonesia untuk dapat memaksimalkan diri dengan mengikuti pembinaan sertifikasi akuntan profesional.

Anda dapat memilih berbagai sertifikasi akuntan profesional, seperti Chartered Accountant (CA), Certified Public Accountant (CPA), Certified Management Accountant (CMA), dan sebagainya. Perlu diingat bahwa dengan adanya sertifikasi ini, peluang untuk mendapat pekerjaan menjadi makin besar.

Selain sertifikasi profesional, akuntan di masa kini juga perlu untuk mempelajari dan menerapkan teknologi yang ada. Penerapan teknologi untuk akuntan tidak hanya berkutat dengan program Microsoft Excel. Akuntan juga perlu untuk mempelajari programming dan algoritma untuk dapat beradaptasi dengan keadaan saat ini maupun mendatang.

Hal ini disebabkan dengan mempelajari programming, value sebagai akuntan pun juga akan meningkat. Apalagi kombinasi skill akuntansi dan programming sangat jarang ditemukan, sehingga akan membuat Anda “tidak akan terkalahkan”.

Jika Anda tertarik untuk mempelajari programming, Anda tidak perlu untuk kuliah kembali untuk bisa coding. Banyak laman yang menyediakan kursus gratis programming. Jika Anda benar-benar berniat untuk mempelajari programming, tentunya akan sangat membantu Anda untuk dapat belajar secara online dan menghemat kantong Anda.

Salah satu pilihan bahasa pemrograman yang dapat Anda pelajari adalah Python, mengingat bahasa ini tergolong bahasa pemrograman yang tidak terlalu sulit dan banyak peminatnya.

Perubahan kerap menjadi momok yang menakutkan bagi banyak orang. Perubahan tidak mungkin dihindarkan, cepat ataupun lambat pasti akan terjadi, terutama perubahan pekerjaan di masa kini.

Revolusi Industri sudah mempengaruhi dan mengubah struktur kehidupan manusia. Satu-satunya cara agar dapat bersaing dengan tuntutan masa kini dan masa yang akan datang adalah dengan beradaptasi.

Salah satu profesi yang terancam untuk dapat digantikan oleh mesin (kecerdasan buatan) adalah akuntan. Jika akuntan tidak terus beradaptasi dengan perubahan yang ada, tentunya ia akan tertinggal oleh arus zaman. Akuntan di masa kini dituntut untuk memiliki value (nilai) lebih.

Karena itulah, akuntan masa kini tak hanya membutuhkan keterampilan secara akademik (hard skill), namun perlu juga untuk memahami dan dapat menerapkan teknologi yang ada serta meningkatkan soft skills seperti leadership, kemampuan bekerja sama dalam tim, kemampuan komunikasi dan presentasi, dan kemampuan untuk membuat keputusan

Soft skills inilah yang tidak akan tergantikan oleh robot karena pada dasarnya hanya manusia yang dapat melakukan hal tersebut.