2 bulan lalu · 2209 view · 4 menit baca · Agama 71398_63069.jpg
Bangka Pos

Masa Bodoh Murtadnya Calon Istri Basuki Tjahaja Purnama

Akan halnya Indonesia yang mengakui eksistensi beberapa agama termasuk Islam, kelihatannya bangsa ini belum benar-benar dewasa dalam menyikapi orang yang pindah agama.

Masyarakat muslim sebagai mayoritas justru tak jarang bersikap tidak adil dalam hal ini. Sebut saja Felix Siauw jadi mualaf, mereka kepalang senang dan banyak yang salut. Giliran ada kabar Bripda Puput Nastiti Devi akan melangsungkan pernikahan dengan BTP, yang katanya dengan cara Nasrani, banyak warga muslim menyoal bahkan menghujatnya. 

Sebelumnya atlet wushu Lindswell Kwok dikabarkan masuk Islam, tapi tak membuat sebagian muslim merasa impas barang secuilpun ketika ada kabar Briptu Puput akan murtad meninggalkan Islam.

Ya, diakui, di dalam Islam benar ada teks-teks agama yang menghakimi bahwa nerakalah tempat orang yang murtad kelak. Sungguh hal itu selayaknya justru menyelesaikan persoalan kecam-mengecam orang pindah agama; bahwa biarlah nanti di akhirat itu diperkarakan. Di dunia, santai saja; masa bodoh kalau perlu.

Konstitusi kita menjamin tiap-tiap warga negara berhak memeluk agama. Mempermasalahkan kemurtadan orang lain sama sekali tak ada dalih kewarganegaraan yang patut dijadikan alasan mengecamnya. Mau pindah agama kek, itu urusan pribadi yang akibat akhiratnya bukan urusan kita, baik sebagai pemeluk agama maupun warga negara.

Untuk lebih menyadari duduk perkara yang proporsional, ada baiknya menengok ayat Alquran tentang kehendak manusia terkait pilihan beragama. Dalam Al-Kahfi ayat 29, Allah berfirman:

Dan katakanlah (Muhammad), 'kebenaran itu datangnya dari Tuhan kalian; barangsiapa hendak biarlah dia beriman, dan barang siapa hendak biarlah dia kafir. Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka bagi orang yang zalim, yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminta pertolongan, mereka akan diberi air yang seperti besi mendidih yang menghanguskan wajah. Itulah seburuk-buruknya minuman dan sejelek-jeleknya tempat beristirahat.

Secara tekstual, ayat tersebut memberi pesan bahwa orang mau beriman, silakan; mau kafir, silakan. Ancaman yang ada sudah jelas, neraka.

Berbeda dengan tekstualitas ayat di atas, banyak warga Islam yang justru ingin menghalang-halangi Bripda Puput murtad. Barangkali mereka merasa punya tanggung jawab lebih daripada Allah sendiri, yang justru mempersilakan orang untuk jadi kafir.

Cerminan kelompok radikalis memang kerap kali begitu; memantulkan sikap seolah-olah mereka wakil Tuhan di muka bumi ini. Padahal, sejak kapan Allah menunjuk mereka sebagai wakil untuk menghujat manusia lainnya?

Allah saja masa bodoh, orang mau beriman atau kafir. Tidak mungkin, sebagai Tuhan yang punya kuasa dan mahakaya, Dia merasa sedih dan rugi dengan kemurtadan satu orang saja. Tak disembah orang sejahat pun, tak mengurangi eksistensi ketuhanan-Nya.

Barangkali akan ada bantahan tentang Allah mempersilakan orang untuk kafir seperti yang saya tafsirkan; dengan alasan bahwa ayat itu bukan membuka opsi iman-kafir, melainkan bentuk sindiran yang mengancam orang yang tidak beriman. Dalam pelajaran bahasa Indonesia, itu disebut majas sinisme.

Itu jelas, ya. Tuhan mana yang rela diingkari hambanya?

Hanya masalahnya belum selesai sampai di situ saja. Pada kesempatan lain, Allah mengakui bahwa apa yang menjadi perilaku manusia adalah ciptaan-Nya. Dan Allah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian lakukan (Q.S As-Shaffat: 96).

Dengan kata lain bahwa bila benar Briptu Puput akan keluar dari Islam yang tercatat di KTP-nya, maka itu juga merupakan suratan kehendak Allah yang di luar kendali kita sebagai makhluk. Lantas apa hak kita menghakimi si Briptu?

Oleh sebab itulah, untuk menyikapi masalah Bripda Puput ini, setidaknya perlu dibangun logika yang waras dan santai dari warga muslim.

Saya tidak yakin dengan kewarasan logika para pengecam murtadnya Bripda Puput. Nabi Muhammad sendiri dalam sejarah tercatat mempunyai seorang paman yang tidak masuk Islam sampai dia meninggal. Apakah Nabi mengecamnya? Tidak pernah, pun tak menganggapnya musuh yang harus dibunuh.

Lalu saat dihadapkan fenomena murtadnya orang lain, mengapa tak jarang dari kita mempersoalkannya? Padahal tak ada alasan, yang religius sekalipun, yang layak kita perjuangkan untuk mencegah orang lain berpindah agama.

Selain konstitusi negara menjamin hak beragama, Islam pun tidak njelimet-njelimet amat menyikapi perihal murtadnya seseorang; dalam arti, silakan kafir dan tanggung sendiri akibatnya kelak.

Adil sejak dalam pikiran menjadi barang yang lumayan langka akhir-akhir ini. Demokrasi Pancasila yang mengakomodir kebebasan memeluk agama masih menyisakan masalah kekerdilan pikiran sebagian penganut agama.

Menjadi mayoritas tidak lantas membuat warga muslim secara umum sadar betul bagaimana seharusnya berdemokrasi. Masih ada yang beranggapan jika anggotanya seiman berkurang satu, itu adalah pelecehan karena agama lain merebutnya, lalu ribut mengecam. Padahal mualaf sudah tak terhitung jumlahnya, tanpa banyak keributan dari warga agama lain.

Kehilangan sikap masa bodoh dalam barang yang sebenarnya sepele memang sedikit menjengkelkan, terutama untuk diri sendiri. Urusan agama yang sebenarnya privat digunjingkan di muka medsos adalah cermin umat kurang kerjaan. Begitu kok minta jadi umat yang maju?

Meski sungguh masa bodoh sebenarnya bukan bodoh sesungguhnya, namun dalam hal agama lain ceritanya. Banyak akal sebagian warga muslim hanya terpaku dengan ilusi bahwa yang sakral tak boleh disentuh-sentuh.

Sedikit saja menyentuh atau menyerobot, maka hujatanlah solusi mereka menghadapinya.

Mereka lupa, padahal Allah Yang Maha Kuasa santai saja, mengazab pun belum. Toh hidayah masih bisa Dia mainkan sesuka kehendak-Nya. Kalau tak rela orang lain jadi murtad, kenapa tidak berdoa pada-Nya saja, agar orang itu tak jadi murtad?