Membaca judul mungkin Anda akan langsung berkomentar, "Zaman sekarang kok masih ada yang nonton sinetron?"

Hei, ini sinetron "Tukang Ojek Pengkolan" yang meskipun membosankan tapi dekat dengan keseharian masyarakat kita. Tontonlah!

Saat Rinjani mulai muncul di sinetron ini, saya sudah mencium hawa tak sedap, skenario kisah Mas Pur dan Lola yang sedang berusaha mencari jalan pasti akan dibuat dramatis demi memertahankan konflik di sinetron. Ternyata benar terjadi. Ish!

Sebelum Rinjani, ada sembilan perempuan lain yang semuanya cantik dan menarik: Ani, Laras, Mimin, Sarah, Munaroh, Novita, Widya, Siska, dan Lola. Lika-liku perjalanan cinta Mas Pur memang tak main-main dan terkadang sangat menjengkelkan.

Sebagai penonton setia "Tukang Ojek Pengkolan", saya bersaksi bahwa selain Novita, tak ada yang bisa mengalahkan "chemistry" Mas Pur dengan Lola yang easy going dan baik hati. 

Sayangnya dikisahkan Novita dijodohkan orang tuanya dan pindah dari kos Bang Simin meninggalkan Mas Pur yang patah hati, sampai-sampai mau bunuh diri dengan cara memanjat pohon. Kehadiran Lola sebagai teman untuk berbagi keluh-kesah, menemani saat gundah, sangat membantu Mas Pur menata kembali perasaannya yang ambyar.

Sebagai tim Lola, pastinya saya kecewa melihat perkembangan hubungan Mas Pur dan Rinjani yang terlalu cepat, hampir seperti kejar tuntutan untuk mendapat cerita baru yang lebih segar.

Pernikahan Mas Pur dengan Rinjani menjadi salah satu momen yang paling menyebalkan sepanjang saya menonton TOP sejak episode satu. Diam-diam saya berharap mimpi Mas Pur yang menyebut nama Lola saat ijab qabul kemudian Rinjani minta pernikahan dibatalkan itu benar terjadi. 

Dalam hati sungguh-sungguh berdoa Mas Pur yang galau padahal sudah pulang ke Semarang untuk persiapan nikah bisa tercerahkan dan menetapkan pilihan hatinya pada Lola. Saat cincin kawin sempat hilang sebelum berangkat ijab kabul, saya mengucap hamdalah.

Bukannya jahat, realistis saja, perasaan yang muncul dari interaksi Mas Pur dan Rinjani hanyalah percikan asmara yang sementara. Ketertarikan semu yang mudah luntur jika diguncang prahara rumah tangga. 

Memperhatikan interaksi mereka sudah jelas terbaca satu sama lain tak cocok sebagai pasangan bahkan mungkin akan jalan di tempat saja hubungannya. Alih-alih bertumbuh, mereka justru akan saling menyakiti satu sama lain.

Entah kenapa orang-orang merasa terhibur dengan kemesraan ala ABG Mas Pur dan Rinjani. Saya sebaliknya, merasa terganggu, aneka konflik yang terjadi pada Mas Pur dan Rinjani tak bisa disebut bumbu-bumbu pernikahan yang bisa hilang seiring waktu. Ada lima alasan kenapa Mas Pur dan Rinjani adalah contoh toxic relationship:

Satu, setelah menikah, Rinjani sulit memiliki kehidupan sosial dan tidak bisa menjadi dirinya sendiri. Jangankan nongkrong sama teman, karena kebetulan Rinjani baru lulus kuliah, jadi temannya masih banyak beredar, menjawab pesan WA saja Mas Pur sudah berisik protes melulu karena merasa tidak diperhatikan. 

Biasanya Rinjani hanya menurut saja, tidak mau urusan jadi panjang, hanya diam menghindar. Mas Pur sih baik-baik saja, temannya hanya hitungan jari. Berpakaian dan make up saja dikoreksi oleh Mas Pur. Terlalu menggoda dan terlihat menarik katanya, khawatir di kantor ada yang naksir, padahal Rinjani bekerja untuk membantu Mas Pur yang uangnya tak cukup buat biaya hidup.

Dua, satu sama lain cemburuan. Bukan cemburu yang  dibicarakan seperti kayaknya dua orang dewasa yang berpasangan lalu selesai tanpa ribut, Mas Pur dan Rinjani lebih banyak ngambek dan berkata-kata ketus untuk menyakiti hati pasangannya. 

Bahkan Mas Pur beberapa ikut nongkrong bareng Rinjani dan teman-temannya untuk memantau lalu bete sendiri karena merasa tersisih. 

Yang paling menyebalkan adalah saat Mas Pur meminta Rinjani berhenti bekerja hanya karena supervisornya laki-laki. Mas Pur bahkan menghajar teman kuliah Rinjani karena salah paham, cowok tersebut ternyata sedang PDKT dengan sahabat Rinjani dan membutuhkan perantara.

Tiga, terlalu mengatur dan sulit terbangun kejujuran. Mas Pur dan Rinjani merasa tahu apa yang terbaik untuk pasangannya. Rinjani membeli helm pasangan yang bagus tanpa berpikir bahwa suaminya tukang ojek jadi pasti akan diminta penumpang untuk dipakai karena lebih bagus yang disediakan. Saat tepergok helmnya dipakai penumpang, Rinjani ngambek. 

Mas Pur bahkan lebih parah saking terlalu banyak ke-sotoy-an doi mengatur-atur hidup Rinjani padahal dirinya sendiri pun banyak menyembunyikan sesuatu seperti masih bertemu Lola dan teleponan bahkan curhat-curhatan dengan Novita yang gagal nikah.

*****

Karakter Mas Pur yang narsis, emosian, dan dangkal jika menyangkut urusan perasaan sepertinya tidak cocok untuk Rinjani yang penurut, manja, dan kekanakan. Mas Pur tipe agresif, sementara Rinjani pasif-agresif yang belum matang benar jadi suka ngambek dan menolak berkomunikasi tiap ada masalah.

Lola sebaliknya. Selain easy going dan baik hati, Lola juga lebih dewasa dan tangguh. Berkali-kali Lola membantu Mas Pur keluar dari masalah, dengan sabar memberi semangat dan penghiburan, tapi dengan cara yang santai. Mas Pur menjadi sosok yang kalem dan lebih optimis memandang hidup.

Jika saya jadi Mas Pur, saya akan pilih Lola, toh setelah menikah pun tetap ingin dekat. Tapi sudah telanjur menikah dengan Rinjani, gimana dong? Ya begitulah cinta yang nggak dewasa, penderitaannya tiada akhir, semoga bisa menemukan penyelesaian yang terbaik untuk kebahagiaan semua orang.

Mari sudahi tulisan ini sebelum terlalu terbawa perasaan, hahaha.

Pernikahan tak melulu tentang kata-kata manis dan senyum tersipu malu saja, lalu bisa menyelesaikan persoalan antara laki-laki dan perempuan.