Ini adalah kisah seorang yang bekerja sebagai pengisi bahan bakar minyak. Sebut saja ia Mas pom bensin. Suatu hari, Mas pom bensin tersenyum sumringah. Betapa tidak, pekerjaannya yang biasa cukup melelahkan, tangan yang sering sakit dan terasa pegal, kini tak lagi harus ia rasaakan. Maklum, bekerjanya kini cuma santai menerima uang dan mengarahkan para pengendara untuk mengisi bahan bakarnya secara mandiri.

Malahan pimpinannya mengatakan jika tak lama lagi pekerjaannya menerima pembayaran itu juga akan hilang, karena semua transaksi akan dipaksa untuk dilakukan secara cashless. Itu berarti bekerjanya akan jauh lebih santai lagi. Sayangnya Mas pom bensin tidak sadar jika ini adalah detik-detik menuju hilang ya sama sekali pekerjaan yang ia lakoni selama ini.

Fenomena ini sudah sering terlihat dalam masyarakat modern. Menurut Herbert Marcuse, Masyarakat modern adalah masyarakat yang sakit; sebuah masyarakat yang hanya berpikir dan bertindak dalam satu dimensi (one dimension). Maksud dari masyarakat satu dimensi adalah masyarakat yang segala segi kehidupanya diarahkan pada satu tujuan, yaitu meningkatkan dan melangsungkan system yang telah berjalan. Manusia tidak memiliki dimensi-dimensi lain, bahkan dengan satu tujuan itu, dimensi lain disingkirkan. Marcuse mengkritik itu dengan menawarkan sistem masyarakat yang baru.

Perkembangnan ilmu dan teknologi telah memberikan fungsi dan keberuntungan pada masyarakat. Perbaikan hidup, jaminan kesehatan, kemudahan-kemudahan, semuanya telah diperoleh. Namun pokok persoalan masyarakat modern adalah kelimpahan (affluent). Sehingga motivasi ekonomi dan perubahan social yang ditawarkan marx tidak dipakai lagi. Kaum buruh (protelar) telah larut dengan sistem yang ada.

Kemanusiaan, kebebasan, otonomi, kehidupan sosial tidak diberi kesempatan. Semuanya telah menjadi alat. Hanya untuk melindungi status-quo. Baik itu penganut sistem kapitalis maupun sosialis.

Di era modern,yaitu masa affluent society dimana kebutuhan manusia terpenuhi.  Kaum buruh tidak lagi merasa ditindas karena kebutuhan mereka terpenuhi sehingga mereka tidak revolusioner. Meskipun begitu mereka ditidas dengan cara yang lain. Energi yang dibutuhkan memang semakin berkurang, namun irama kerja yang rutin, monoton, terkung-kung dalam bidang masing-masing. Membuat mereka hanya diukur sebagai alat; pemerosotan manusia menjadi benda (reifikasi). Sama seperti alat industri lainya.

Kembali lagi ke Mas pom bensin tadi, yang tidak sadar jika santai yang dirasakan di hari-hari belakangan merupakan pertanda buruk bagi masa depannya. Saat ini mulai cukup banyak pom bensin yang melayani pengisian bahan bakar secara mandiri seperti di luar negeri terutama di kota-kota besar di Indonesia di berbagai tempat lainnya. Mengisi bensin secara mandiri memang belum dilakukan di beberapa daerah, tapi kemungkinan besar hanya menunggu waktu saja satu hal yang pasti perubahan yang terjadi.

 Mas pom bensin tidak sendiri, pekerjaan ini yang bukan satu-satunya yang akan hilang di masa depan menyebutkan ada banyak sekali pekerjaan manusia yang akan digantikan oleh robot mesin (sebagai alat industry) di masa mendatang. Ini belum termasuk cara bekerja yang terus berkembang dan berubah.

Pada akhirnya, jika hanya bekerja sesuai dengan job description kita maka sesungguhnya tidak terjadi sesuatu yang istimewa kita sudah dan memang dibayar untuk itu. Tetapi memberikan lebih dari apa yang ada di dalam job description adalah sebuah nilai tambah dan hal yang tidak dilakukan oleh setiap orang.

Kabar baiknya itulah pekerjaan yang tidak dapat dilakukan oleh mesin atau robot yang disinyalir akan menggantikan manusia. Robot atau mesin itu bekerja sesuai dengan apa yang diminta dan jika kita juga seperti itu maka wajar saja manusia tidak ada bedanya dengan robot atau mesin.

Rianto Astono mengatakan “Sebelum kamu mengatakan skill dan kompetensi yang lain, memperbanyak ijazah-ijazah, sertifikat-sertifikat yang kadang tidak terlalu perlu. Kamu harus terlebih dahulu memperbaiki soft skill yang kamu miliki itu adalah hal terpenting dan prioritas. Beberapa hal yang biasa di antaranya adalah inisiatif, kejujuran, rajin, energik, fokus, pandai bekerja sama, pandai mengelola waktu, dapat membuat orang lain merasa nyaman dan bahkan suka tersenyum.”

Coba pikir Kembali, tak ada satupun soft skill tersebut yang berhubungan dengan job description. Itulah yang dimaksud attitude dan semua itulah yang membedakan manusia dengan mesin atau robot manapun yang tercanggih di dunia.

Sebagaimana istilah yang sedang tren sekarang, manusia sebagai “Budak Korporat”. Hendaknya terus belajar dan memperbaiki attitude-nya, karena itulah eksistensi manusia sesungguhnya.  Usia kita berkurang setiap harinya bahkan setiap jam, setiap detik. Karena itu, jangan sampai kita menyia-nyiakan nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan kepada kita. Kita bersikap, maka kita ada.

Pada akhirnya, Apakah kita bisa beradaptasi dan menunjukan diri sebagai manusia yang eksis atau malah mengalami reifikasi dalam masyarakat satu dimensi?