Mas Anji yang baik, meskipun saya tidak menjadi follower-mu, tak tahan saya untuk tidak menulis kepadamu tentang video yang heboh kemarin itu. Bacalah kalau sempat, entah kapan itu.

Begini, Mas, awalnya saya serius menyimak video wawancara yang bergaya infotainment itu. Mas Anji dengan sangat sopan dan hormat menanyakan kepada bapak yang keren itu tentang rapid test dan swab test.

Waduh, saya kaget, entah berapa ribu pemirsa yang juga kaget bareng-bareng saya, ketika bapak yang berulang kali Anda panggil “dakdok” atau “prafprof” itu menjelaskan bahwa ada dijitel tekhnologi, demikian beliau dengan fasih menyebut, yang bisa melakukan pengetesan dengan biaya hanya Rp. 10.000-20.000.

Mas Anji, mengapa orang seperti bapak ini tidak ditemukan pemerintah RI? Berapa ratus miliar yang bisa dihemat negari tercinta ini jika swab tes yang biayanya 2 jeti bisa diganti teknologi berbiaya seharga sebungkus rokok?

Nah, saya yakin banyak yang kaget luar biasa. Kaget karena kagum dan gembira atau kaget karena meragukan dan tidak percaya. Saya termasuk yang terakhir, Mas.

Belum lagi ketika pak profesor itu menjelaskan bahwa Covid-19 baru bisa mati pada suhu 300⁰ C, padahal pak presiden dulu yakin iklim tropis Indonesia yang hangat akan menghambat perkembangannya. Ya memang gak terbukti sih, orang memasuki musim kemarau angka penularan juga makin meningkat kok. Tapi, Mas Anji, para ahli, bahkan WHO sendiri mengatakan virus ini hancur pada suhu 56⁰ C.

Hal lain yang juga membuat saya kaget adalah ketika Anda berseru “waow” hampir setengah menit panjangnya, lalu bilang, “padahal baja saja meleleh pada suhu 350⁰.” Semoga Mas Anji baik-baik dan tabah menjalani, setelah kemudian tahu, baja baru bisa meleleh pada suhu 1400-1500 derajat Celcius.

Mas Anji yang followernya jutaan orang, sungguh saya memahami berbagai perasaan tidak enak yang meliputi hati Anda, sejak video ini ramai diperbincangkan orang. Hingga akhirnya video ini diturunkan oleh YouTube.

Saya bisa memahami, Anda pasti kesal sudah dibohongi oleh profesor kw yang mengaku dokter tapi gak tercatat sebagai anggota IDI, masih dihujat netizen dituduh membohongi mereka. Banyak yang menuduh Mas Anji hanya cari popularitas instan dari wawancara ini. Tapi saya lebih percaya, ini terjadi lebih karena ketidaktahuan Anda.

Mas, meskipun ini amat sangat klise, izinkan saya mengajak Anda mengambil beberapa pelajaran, hikmahlah yang keren, dari musibah ini.

Saya sebelumnya mohon maaf sebesar-besarnya meskipun hari raya Idulfitri sudah lewat beberapa bulan lalu. Saya melihat kejadian ini berpangkal dari ketidaktahuan Anda, bahwa profesi jurnalis tidak sama dengan presenter. Dan Mas Anji tidak menyadari bahwa Mas tak punya kapasitas kewartawanan. Mohon ini tidak menambah keruwetan pikiran Anda, Mas.

Mas Anji yang baik, saya lanjutkan, ya? Mohon ditahan-tahankan jika ini tidak menyenangkan. Dari kejadian ini, kita menyadari bahwa kerja jurnalistik tidak sesederhana memotret, memvideo, dan menanyai sumber informasi, lalu membagikan ke khalayak ramai. Ia bukan hasil rekaman video tentang artis top yang mengeluh tidak tahu caranya membuka buah salak. Juga bukan video tentang seleb yang bilang ingin dan ingin lagi pergi umrah setelah ke sana 3 kali. Bukan seperti itu, Mas.

Seorang teman menulis begini di Facebook, Kasus Anji adalah pelajaran bahwa kerja-kerja jurnalistik itu secara kulit bisa dengan mudah ditiru, tapi secara hakikat ndak seremeh itu.

Dengan peralatan broadcast, yang bisa dibeli oleh siapa pun yang berduit, tiap orang sejauh mau ya bisa wawancara orang lain, mengabarkan sesuatu. Tapi apa kemudian kabar itu mengandung kebenaran?

Belum lagi perkara seberapa legitimate narasumber, sudahkah diriset? Narasumber yang "bener" pun, cuma bermodal pertanyaan ala anak SD, gak akan bisa mengupas informasi dengan baik. Mendapat jawaban pun harus dikonfirmasi lagi terkait jawaban itu. Gimana caranya bertanya untuk mengcross-check? Ndak semua bisa.

Kawan yang lain mengutip ucapan dosen etika jurnalistiknya, jurnalisme itu semacam ini: kalau ada si A bilang di luar Hujan, sedangkan si B bilang di luar itu cerah, jurnalis tidak boleh hanya memberitakan kata-kata mereka, tapi lihat keluar jendela dan cek sendiri, hujan atau cerah sebenarnya.

Apa nggak ngeri to, Mas, kalau banyak orang percaya bahwa vaksin bisa merusak organ tubuh, seperti yang dibilang bapak yang mengaku mengepalai tim riset antibodi herbal, yang ternyata ndak jelas di mana laboratoriumnya? Bisa-bisa mereka bikin gerakkan menolak vaksin Corona nanti.

Lebih dari itu, yang terjadi sekarang adalah bangkitnya semangat ngefans yang melebar memanjang, dibawa ke mana-mana. Ketika seseorang dikagumi dan diikuti karena kehebatan dia di satu bidang, ia juga akan diikuti di segala hal lainnya.

Sekali lagi, Mas Anji, izinkan saya mengutip pendapat teman di Facebook. Ia menulis: JRX kita tahu pemain musik. Dia punya follower karena bermusik. Tapi followernya sendiri mungkin sering lupa kenapa ia memfollow JRX. Maka ketika JRX bicara soal perkara di luar musik, terkait virus misalnya, followernya lengah. Lupa kalau dulu dirinya ngefans orang itu karena musik.

Boleh saya sok menganalisis, ya. Fenomena ngefans ini awalnya dimulai oleh partai politik. Ada artis top, pelawak, penyanyi terkenal, yang punya banyak fans, kemudian dilirik, dijadikan caleg, cabub, atau cagub. Masyarakat pikirannya dikacaukan; Kamu nih fans-nya si A, kamu harus dukung dia dong. Masyarakat dibikin lupa bahwa nge-fans terhadap sandiwara televisi adalah hal berbeda dan tak ada hubunganya dengan memilih orang yang punya kemampuan memimpin.

Mas, Mas tak perlu terlalu merasa malu dan bersedih. Menyampaikan hal-hal yang tidak sesuai kenyataan bukanlah hal baru. Dari dulu biasa ada tukang obat di bawah pohon beringin pasar mengoceh, tentang obat segala rupa penyakit. Tapi mereka dimaklumi, itu hanya tukang obat yang tak perlu terlalu dipercaya.

Sebelum Mas Aji, walaaaah, banyak yang menyampaikan hal yang tak sesuai kenyataan. Ada pemimpin yang bilang cuaca panas Indonesia membasmi virus Corona, ada lagi yang bilang sudah bikin kalung yang bisa menangkal Corona. 

Ketidakbenaran yang lainnya sudah saya lupakan dan saya maafkan, karena sering liat poster forgive and forget di kaos teman. Dan mereka yang membuat klaim di atas, Mas Anji tidak pernah ditanyai risetnya di mana, punya laboratorium apa enggak.

Mas Anji yang baik, gak usah lama-lama sedihnya. Sebentar lagi orang juga akan lupa. Akan ada kehebohan baru, yang bisa diproduksi negeri yang kaya aneka kelucuan ini. Itu yang akan menyita pikiran khalayak ramai dari kasus Anda.

Salam sehat, Mas.