Dalam sebuah perjalanan untuk menjemput seorang mahasiswa yang kecelakaan di luar kota, seorang mahasiswa saya bertanya kepada saya tentang penyitaan buku 'berbau' komunisme yang belum lama ini terjadi juga di Kota Padang. Termasuk tentang pelarangan aksi massa yang disertai penangkapan beberapa aktivis mahasiswa oleh beberapa organisasi massa (ormas) karena juga 'berbau' komunisme di Kota Bukittinggi setelah itu. 

Mahasiswa yang bertanya tersebut baru masuk tahun kedua kuliah di Program Studi Hubungan Internasional di tempat saya mengajar. Saya pun tertarik dan berminat untuk berdiskusi dengannya. Apalagi mahasiswa saya tersebut juga terlibat dalam forum dan aksi menggugat penyitaan buku, pelarangan aksi, dan penangkapan para aktivis mahasiswa di Sumatra Barat.

Saya menjawab dengan kalimat sederhana, semua bentuk penyitaan buku, pelarangan aksi massa, dan penangkapan para aktivis mahasiswa itu adalah tindakan yang tidak bijaksana. Terutama jika kita melihatnya dalam beragam perspektif atau pandangan dari berbagai pertimbangan. Namun bisa jadi itu justru menimbulkan hal lain yang menurut saya bisa menjadi positif jika kita cukup bijak menghadapinya.

Pertama, bukankah masyarakat pada akhirnya justru semakin tertarik untuk mencari tahu apa itu komunisme dan setidaknya ingin mencium baunya? 

Maka beruntunglah para mahasiswa Hubungan Internasional atau anak HI. Karena tanpa harus beli buku ataupun tertangkap memiliki buku berbau komunis pun, akan mendapatkannya dari kelas perkuliahan. 

Mengapa demikian? Karena bau komunisme itu akan terasa ketika kita belajar Teori Marxisme dalam studi Hubungan Internasional. Apalagi sebagian besar teori-teori dalam Hubungan Internasional itu dipengaruhi oleh Marxisme. 

Komunisme adalah salah satu ideologi politik yang dipraktikkan dengan pengaruh yang kuat dari Marxisme. Oleh sebab itu, dalam Hubungan Internasional, Marxisme itu dipahami sebagai filsafat karena mendasari banyak teori. Bahkan, varian dari Marxisme telah berkembang; selain Marxisme (Klasik), juga ada Neo-Marxisme, dan Post atau Pasca-Marxisme. 

Sehingga, komunisme itu hanya salah satu kajian tentang ideologi politik selain sosialisme dan anarkisme. Sehingga bau-bau komunisme itu pasti ada dalam buku-buku teori Hubungan Internasional.

Lalu apakah buku-buku teori Hubungan Internasional akan disita semuanya? Kalaupun disita, apakah kita akan kehilangan sumber bacaan untuk belajar? 

Tentu saja perlu diuji, begitu cara pandang saya sebagai dosen atau akademisi. Disita semuanya pun buku-buku teori Hubungan Internasional yang berbau komunisme atau sebut saja Marxisme, kita bisa mengaksesnya secara online atau daring. Bahkan saya yakin lebih banyak koleksi buku elektronik atau e-book Marxisme yang disimpan para mahasiswa ketimbang buku cetak. 

Demikianlah kiranya. Ini era industri 4.0 yang memungkinkan apa pun tidak bisa dihambat begitu saja. Termasuk memiliki, menyimpan, membaca, atau mengonsumsi teks apa pun yang konon disebut sebagai 'terlarang'. Bukankah tidak salah jika dikatakan penyitaan buku itu tidak bijaksana?

Kedua, ketika aksi massa oleh para aktivis mahasiswa dihalang-halangi, bukannya para aktivis mahasiswa lebih semangat lagi untuk beraksi?

Sebab aksi massa tidak hanya berdemonstrasi di jalanan atau di kampus saja. Ada banyak sekali berbagai bentuk aksi massa yang bisa dipilih untuk dilakukan. 

Para aktivis mahasiswa pastinya lebih kreatif ketimbang siapa pun, bahkan ketimbang para mahasiswa umumnya yang bukan aktivis.

Sehingga, jika kita maknai secara bijaksana, bukankah berbagai bentuk forum diskusi, forum literasi, dan bahkan forum ngopi di berbagai kafe atau warung kopi yang dilakukan para mahasiswa selama ini juga bentuk-bentuk aksi? Jika aksi adalah tindakan untuk menguji diri setiap aktivis mahasiswa, maka bermacam bentuk ujian bisa dipilih untuk dilakukan.

Agar ketika lulus menjadi sarjana, para mahasiswa tidak gagap hidup di tengah realitas sosial dan masyarakatnya. Maka cara menguji diri para mahasiswa bisa dilakukan dengan apa pun, bagaimana pun, kapan pun, dan di mana pun. Termasuk jika para aktivis mahasiswa bermaksud menguji demokrasi yang diterapkan di negara ini. Masih banyak jalan menuju perubahan, bukan?

Ketika ada aktivis mahasiswa yang ditangkap, bukankah itu keren?

Setidaknya mencatat sejarah dalam hidup yang akan bisa diceritakan kepada anak cucu atau generasi kita nantinya. Mungkin memang berbeda ketika ditangkap organisasi massa dibanding ditangkap polisi apalagi tentara. Namun pernah mengalami pengalaman itu, sungguh seharusnya tidak membuat seorang aktivis mahasiswa harus merasa kalah, apalagi merasa salah. 

Bukankah harus diuji ukuran salah dan benarnya? Apa dasar yang dipakai untuk menilainya? 

Maka dari semua itu, seharusnya seorang mahasiswa apalagi aktivis mahasiswa justru banyak belajar. Termasuk belajar membangun makna dari setiap peristiwa. Sehingga kita semua pada akhirnya benar-benar dan sungguh-sungguh menjadi manusia yang bijaksana.

Sehingga, menurut saya, apa pun yang terjadi di hadapan kita, ternyata adalah realitas penuh makna yang bisa dijadikan alat atau instrumen menguji diri kita sendiri, orang lain, masyarakat, bahkan negara kita. Tidak akan pernah ada sebuah bangsa menjadi besar ketika tidak berdialektika. 

Termasuk ketika anak bangsanya sendiri harus melihat penyitaan buku, dihalang-halangi untuk belajar menguji diri sendiri dan masyarakatnya, bahkan ditangkap karena mengekspresikan kegelisahan dengan tuduhan yang tentu saja tidak relevan di zaman ini. 

Akhir kata, begitulah, mahasiswaku. Jadikan itu pelajaran dan ambil hikmahnya agar kamu lebih bijaksana menjadi manusia.