Hantu sedang membayangi Eropa, hampir dua abad lalu. Hantu itu bernama Karl Marx. Seorang orang tua brewokan dengan janggut dan rambut yang ‘berantakan’, keputihan-putihan, dengan tatapan mata tajam.

Ia memang seperti hantu, bukan karena penampilannya atau bukan pula karena perjalanannya ke setiap tempat karena pengusiran yang ia lalui. Tapi pikiran-pikirannya memang seperti hantu. Membangunkan raksasa-raksasa kemarahan dari balik selimut ketenangan yang menindas. Pikirannya mempengaruhi hampir separuh dunia. Menginspirasi lahirnya pemberontakan-pemberontakan melawan ketidakadilan di seluruh penjuru dunia. Foto-fotonya terpajang dimana-mana. Ia dipuja seperti nabi, tapi juga dilaknat layaknya iblis.

Kematiannya 133 tahun yang lampau tidak membuat namanya hilang bersama jasadnya. Lagi-lagi, ia memang seperti hantu. Bergentayangan kemana-mana. Mengusik tidur dan kenyamanan banyak orang. Ada hantu yang membayangi kita. Hantu-hantu yang tidak hanya bisa datang di malam hari, namun di sore hari hingga siang hari. Celakanya, hantu ini tidak mempang dengan Ayat Kursi. Ia bahkan bisa hadir di tempat-tempat suci dimana Tuhan disembah.

Inilah Karl Marx, seorang pendiri ajaran komunis. Yang belakangan ini hampir membuat kita gila karena kehebohan phobia komunis.

Betapa tidak hebohnya, dari soal rectoverso uang, Alexis, sampai isu penistaan agama, semua karena komunis! Apapun masalah yang terjadi sudah pasti itu karena komunis! Segala bentuk kejahatan, keburukan adalah dengan sendirinya disebabkan oleh komunis. Weleh weleh….

Komunis sudah seperti iblis, yang diasosiasikan terhadap segala bentuk keburukan. Setiap persoalan yang tidak bisa dicerna dengan sumbu kepala yang pendek, maka otomatis komunislah kesimpulannya sebagai biang keladi. Tak perlu ada pembuktian. Toh, karena hantu itu sendiri tidak bisa dibuktikan keberadaannya. Ia hanya bisa dirasakan dengan was-was kehadirannya, namun tidak bisa ditunjuk keberadaannya.

Phobia komunis tidak hanya menjangkiti masyarakat awam. Tapi ironisnya justru kebanyakan dari mereka yang ibadahnya paling rajin. Dalam kadar ketakutan, mereka bahkan mungkin lebih takut kepada komunis daripada tuhannya sendiri. Seorang tokoh agama bahkan mengeluarkan pernyataan, bahwa di istana presiden, setiap malam para komunis selalu rapat. Ha? Sambil mengkampanyekan “Awas komunis!”

Padahal mereka-mereka yang suka berteriak “Awas kebangkitan komunis!!!” ini, secara tidak langsung mereka-mereka jugalah yang membangkitkan komunisme itu sendiri. Lha? Yang teriak-teriak komunis itu ada, siapa coba? Ya, kamu. Kamu-kamu yang selalu berteriak “Awas kebangkitan komunis!!!”. Secara tidak langsung dengan sendirinya meng-ada-kan komunisme itu sendiri. Mereka yang membangkitkan, mereka pula yang takut. Hehe.

Bahkan ada yang bilang kalau komunis itu sudah ada hampir 1,5 juta orang. Diam-diam menyusun strategi. Pemimpinnya bernama wahyudi. ckckck. Saat ditanya 1,5 juta orang itu dari mana? Kata mereka, ya keluarga keturunan para anggota PKI itu. Hehe

Apa mereka-mereka ini lupa membaca sejarah, bahwa sejak 1965, bukan hanya partai PKI yang dibunuh tapi termasuk mereka yang punya keterkaitan dengan PKI. Jumlah anggota maupun yang sekadar dituduh PKI, yang dibunuh berkisar dari angka 500.000 sampai dengan 3 juta jiwa? Lantas 1,5 juta itu dari mana? Hantu?

Saat ini, isu komunis di media sosial bahkan sudah menjadi-jadi. Ia sudah menjadi ekspresi ketidaksepakatan terhadap segala hal. Ketika kelompoknya tidak diuntungkan dengan suatu pemberitaan atau peristiwa politik tertentu, maka dengan mudahnya mereka menuding sebagai konspirasi. Dan ingat,di balik kata-kata konspirasi selalu ada komunis di belakangnya. wkwk

Apa tidak lucu, ketika Patrialis Akbar ditangkap KPK, lantas semua berita yang memberitakannya lantas dituduh konspirasi komunis. “Dasar media komunis!” “Hati-hati konspirasi komunis!” hehe.

Phobia palu arit ini, memang bisa dikata sudah diambang untuk sulit menyebutnya kewarasan. Ia tidak hanya bisa disebut sebagai bentuk kesalahan berpikir. Tapi mungkin sudah bisa dikata sejenis sindrom berpikir. Dan ini terbentuk tidak begitu saja. Ada proses indoktrinasi historis yang berangsur-angsur menyemai melahirkan sejenis kebencian-kebencian khas phobia seperti ini.

Kebencian-kebencian yang muncul dari irrasionalitas pengasosiasian terbalik terhadap segala bentuk apa yang disebut kebenaran. Kalau ada yang disebut “baik” terasosiasi terbalik terhadap “buruk”, mungkin seperti itu. Komunis adalah asosiasi terbalik dari segala bentuk yang apa yang mereka sebut kebenaran ideal secara material. Dan itu bahkan dianggapnya sebagai tabiat. Ketika ada yang mereka anggap keburukan, jawabnya: “Komuniskan memang begitu, dll,”.

Karena itu tak perlu pemahaman untuk memahami apa itu komunis untuk bisa membenci segala bentuk apapun yang ingin dilabeli sebagai komunis. Penghianat, pembantai, erotis, kudeta, pemberontakan, ateis, anti-agama, pembunuh ulama, iblis, dan segala bentuk kekejaman dan keburukan adalah tanda dari segala hal yang mereka sebut bahaya laten komunis!

Masih ingat, salah seorang jenderal menjelaskan tentang komunis di salah satu simposium, yang mengatakan kalau komunis itu berawal dari Aristoteles? Hehe. Atau tentang seorang tokoh agama yang menjelaskan komunis dalam orasinya, dengan mengatakan bahwa komunis itu adalah ajaran Thomas Darwin? hehe.  

Apa yang mereka pahami sebagai komunis adalah jauh dari apa yang sebenarnya dimaksud dengan komunisme itu sendiri. Dan memang seperti itu, kebencian tak membutuhkan pemahaman dan rasionalitas. Orang bodoh yang menghasut memang jauh lebih berbahaya dari pada orang pintar yang menghasut. Karena kebodohan tak membutuhkan rasionalitas, ia hanya mengandalkan kebencian doktrinal semata.

Pembusukan idiom-idiom komunis sekarang ini memang bisa dikata adalah warisan dari narasi sejarah yang masih berlanjut sejak era Soeharto. Pembusukan-pembusukan politis, yang tak lain merupakan alat untuk melegitimasi dan mengokohkan kekuasaan Soeharto sendiri dengan menciptakan apropriasi ‘musuh bersama’, sembari melucuti sedikit demi sedikit pengaruh Soekarno, yang masih memiliki keterkaitan basis massa dengan PKI. Ada proses politik destruktif disini yang terjadi berangsur-angsur dan sistematik.

Apakah phobia PKI/komunis sekarang ini juga masih inheren dengan politik destruktif itu? Dimana selalu ada pihak-pihak dengan karakter Machivellian selalu meneguk keuntungan dari setiap fenomena phobia komunisme ini? Entahlah.

Padahal dulu, sejak orde lama, kita tahu bahwa perseteruan komunis dan partai-partai agama misalnya, itu hal yang biasa dan memang murni karena perseteruan politik konstruktif dalam arti perseteruan ide. Bukan perseteruan kebencian. Karena itu, tidak heran ketika Natsir tokoh besar Masyumi saat itu dan Aidit Ketua CC PKI, berdebat ‘panas’ di dewan, tapi masih bisa duduk bersama minum kopi di kantin gedung parlemen.  

Sedang sekarang? Saya justru teringat Bung Hatta. Bung Hatta tidak sepakat dengan komunisme, tapi tidak membuat dia menjadi phobia dan membenci secara cara buta terhadap segala sesuatu yang terkait komunisme. Dalam tulisannya ia bahkan dengan cakap menjelaskan komunisme itu sendiri, sambil memperjelas ketidaksepakatan dia. Begitupun dengan Tjokroaminoto yang menulis Sosialisme Islam misalnya.

Intinya, paling tidak kita hanya butuh untuk memahami sebelum menghakimi. Apalagi kalau penghakiman-penghakiman itu hanya ditujukan kepada sesuatu yang tak tampak, yang tak lain hanya imajinasi ketakutan diri sendiri.

Dan terlepas dari itu semua. Saya ingin menutup tulisan pendek ini dengan mengajak pembaca untuk mendoakan agar Marx tenang disana. Mungkin saja benar apa yang dikatakan orang, bahwa Marx tidak akan pernah mati dan akan terus hidup, selama ketidakadilan masih memenuhi lipatan-lipatan sejarah kehidupan manusia.

Ia akan terus bergentayangan dimana-dimana dengan berbagai cara. Mungkin saja dibalik ekspresi phobia komunis ini, pertanda ada perut yang lapar, atau mungkin juga ada perebutan sumber daya-sumber daya ekonomi politik di tingkat elit. Atau kemungkinan lain, dibalik gejala syndrom berpikir phobia ini, ada persoalan logistik yang terhambat, menghambat logika tidak berjalan dengan baik.