Peneliti
2 tahun lalu · 897 view · 4 menit baca · Filsafat martin_heidegger_for_wp.jpg
Martin Heidegger (Foto: Wikimedia Commons)

Martin Heidegger Bicara Kematian

Kehidupan adalah sebuah fase di mana manusia bisa merasakan beragam aroma dan rasa dunia yang menggoda. Dunia yang fana’ (sementara) dianggap manusia sebaliknya, baqa’ (kekal). Indikatornya, manusia lupa akan kehidupan yang lebih kekal setelah ia melewati pintu kematian.

Kehidupan tersebut adalah semacam pertanggungjawaban saat ia mengecap manis pahitnya duniawi. Ia akan memanen apa yang ia tanam dulu. Ringkasnya, kehidupan setelah kematian sangat ditentukan oleh kegiatan atau aktivitas manusia sebelum bertemu dengan fase kehidupan yang kekal.

Beragam pesan kepada manusia sebelum ia bertemu pintu kematian. Jika ia seorang yang beragama, pesan tersebut dapat ia temukan berhamburan dalam kitab suci. Semua agama pasti bicara soal kehidupan, kematian dan pesan-pesan atau semacam tips sukses dalam menghadapi kehidupan yang kekal nanti. Dengan pesan moral yang telah disampaikan sebelumnya, harapannya adalah manusia bisa selamat di hari kemudian yang abadi.

M. Quraish Shihab, salah seorang tokoh besar Indonesia dalam bidang tafsir, secara khusus membuat satu buku yang berisi tentang kematian, yang berjudul Perjalanan Menuju Keabadian Kematian, Surga dan Ayat-ayat Tahlil. Beliau, dalam bukunya, mengajak kita membayangkan bagaimana perjalanan menuju kematian dan keabadian. Ia juga menjelaskan kematian secara sistematis dan komprehensif tanpa (dengan) menakut-nakuti dan melebih-lebihkannya.

Manusia mempunyai penyakit yang tak pernah ia sadari, ia merasa bahwa kehidupan di dunia ini akan mengekalkannya sehingga ia lupa bahkan takut akan sebuah kematian. Penyakit tersebut dalam bahasa agama disebut “al- wahn”.

Kematian adalah kewenangan mutlak Tuhan. Di balik kematian tersebut ada sesuatu yang belum pernah terlihat mata, terdengar telinga, dan terjangkau nalar. Ini menunjukkan bahwa kehidupan setelah kematian adalah rahasia Tuhan. Dan Tuhan memberi deskripsi awal, sebagai sebuah pengantarNya dalam kitab suci.   

Selain Tuhan, nabi dan rasul, para agamawan atau rohaniawan menyampaikan pesan kematian bagi umat agar tak terlena dengan kehidupan duniawi, para filsufpun bicara soal yang sama. Salahatunya adalah Martin Heidegger.

Siapakah Martin Heidegger?

Martin Heidegger (1889-1976) adalah filsuf besar yang berasal dari Jerman. Ia dikenal sebagai filsuf eksistensial dan fenomenologis. Ia juga dikenal sebagai pengkritik Immanuel Kant, seorang filsuf besar Jerman juga. Dalam kesempatan kali ini, saya tidak akan membahas apa yang ia kritik terhadapnya. Tetapi, saya akan mengemukakan pendapat Heideger soal kematian.

Heidegger membagi kematian manusia menjadi dua jenis: pertama, ia sebut dalam bahasa Jerman sebagai off-liven, jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah “mati”. Sebuah kematian yang niscaya akan datang dan tak bisa dihalangi oleh apa pun.

Mati kategori ini seperti matinya jam tangan yang kehabisan batrai, atau kendaraan yang kehabisan bahan bakarnya saat dalam perjalanan, maka akan tak berdaya dan tak bergerak, dan sejumlah contoh lain yang serupa dengannya.

Dalam konteks ini, manusia mati karena Tuhan sudah menentukan ajalnya sampai usia tertentu dan semuanya sudah ditentukan pula tempat di mana ia akan mati. Atau lebih simpelnya, saya sebut sebagai sebuah kematian yang konvensional, yakni sebuah kematian yang sudah biasanya seperti itu, dan semua orang mempersepsikannya demikian.

Kedua, Heidegger menyebutnya dalam bahasa Jerman sebagai sterben, jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah “mati” juga. Yang ia maksud adalah sebuah kematian, di mana sebelum manusia itu mati atau meninggal, ia terlebih dahulu merencanakan sesuatu untuk menyongsong kematiannya tersebut.

Sangat paradoks istilah kematian pertama dengan yang ke-dua ini. Dalam konsep kematian pertama, manusia sangat takut dalam menghadapi kematian. Kematian dianggapnya sebagai sesuatu yang memberatkan sekaligus mengerikan. Makanya ketika hidup di dunia, ia menghindari atau melupakannya dengan memperbanyak hiburan.

Sedangkan konsep kematian kedua, manusia yang merencanakannya. Artinya, sebelum kematian itu menjemput, ia sudah menyiapkannya dengan rencana-rencana yang jauh lebih baik, lebih matang dan mulia. Ibarat seorang yang akan pergi merantau ke negeri jauh, ketika waktunya tiba, ia sudah menyiapkan seluruh perbekelannya dengan baik, cermat dan terukur.

Dalam konteks kematian kedua, kita ambil sebuah contoh bagaimana kesiapan cucu Nabi Muhammad, Husein (626-680 M) menyambut kematiannya. Ia pernah berkata, “Laa ara al-mauta illa al-sa’aadah”  (saya tidak melihat kematian kecuali adalah sebuah kegembiraan). Di lain kesempatan ia juga berkata, “Yaa suyuuf, khudzini!” (wahai pedang, bawalah nyawaku!).

Perkataan di atas, ia ungkapkan sebagai simbol bahwa kematian menurutnya adalah sebuah cita-cita. Husain mengorbankan kematiannya dalam rangka persembahan kepada agama Islam yang dibawa oleh kakeknya, Nabi Muhammad.

Pertanyaan yang kemudian membuntuti kita adalah: “Kematian model mana yang ditawarkan Heidegger, yang akan kita pilih; model sterben atau off-liven?” Pertanyaan susulan, “Sudahkah bersiap untuk menghadapi kematian? Seberapa jauh persiapan tersebut?” Jawabannya tentu berbeda setiap individu. Sejatinya, masing-masing akan memilih model kematian ideal, yakni sterben.

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang. Manusia mati, apa yang ia tinggalkan? Manusia mati membawa nama baik yang bisa dikenang, dijadikan teladan bagi manusia-manusia yang masih hidup. Hidup mulia atau mati yang menginspirasi.

Kematian Fidel Alejandro Castro Ruz (1926-2016) yang dikenal sebagai Fidel Castro, sebagai tokoh revolusi negara Kuba, hari Jumat, 25 November 2016 meninggalkan kenangan tersendiri bagi para penerus ideologinya, khususnya, bahkan bagi masayarakat dunia sekalipun.

Heidegger pernah mengatakan, barangkali ini sejalan dengan perjalanan panjang hingga berakhirnya kehidupan Fidel Castro, bahwa manusia harus terus menerus mencari makna hidup, mengukir dan menciptakan sejarah sekaligus melakoninya.

Manusia adalah pencipta sejarahnya sendiri. Castro telah membuahkan inspirasi dari kematiaanya bagi pemimpin-pemimpin negara yang lain. Ia mengajarkan kemandirian dan kepercayadirian yang tinggi di tengah-tengah buasnya kapitalisme Amerika yang liberal dan menindas.

Artikel Terkait