Tanggal 8 Mei 2020, tepat 27 tahun Marsinah dibunuh pada usia 24 tahun. Marsinah adalah seorang aktivis dan buruh pabrik Jaman Pemerintahan Orde Baru, bekerja pada PT. Catur Putra Surya (CPS), Porong Sidoarjo, Jawa Timur.

Awal mula kasus ini berawal dari Surat Edaran Gubernur KDH Tingkat I Jawa Timur yang mengimbau para pengusaha menaikan gaji karyawan sebesar 20 persen dari gaji pokok sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan karyawan. Karyawan sudah tentu menyambut penuh suka cita. Mereka menuntut agar kebijakan ini segera direalisasikan.

Demikian juga yang terjadi di PT. Catur Putra Surya (CPS), Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Para karyawan sampai menggelar aksi untuk rasa dan mogok kerja selama dua hari, 3 dan 4 Mei 1993. Awalnya mereka menuntut kenaikan upah dari Rp. 1.700 menjadi Rp. 2.250 per hari, sesuai upah minimum regional (UMR).

Belakangan tuntutan berkembang meliputi cuti haid, hamil, perhitungan upah lembur, dan pembayaran unit kerja Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) yang dianggap tidak mewakili kepentingan buruh. Marsinah adalah salah satu diantara mereka, bahkan dikatakan ia termasuk pentolan aksi.

Pemogokan itu berhenti setelah 24 wakil buruh, termasuk Marsinah, berunding dengan pihak perusahaan dan mencapai kata sepakat, melibatkan pihak keamanan di Kodim Sidoardjo sebagai penengah. Dalam perundingan selanjutnya, yang ditengahi pejabat keamanan, Marsinah bersama 12 rekannya ditawari uang pesangon, asalkan bersedia mengundurkan diri. Marsinah dan rekan-rekannya menolak dan mengirim surat keberatan ke Depnaker Sidoardjo.

Dalam situasi penuh ketegangan dan ketidakpastian diantara para pekerja itulah, Marsinah, pada tanggal 5 Mei 1993, mendengar 13 rekan kerjanya telah di-PHK oleh perusahaan di kantor Kodim Sidoarjo. Aktivis buruh ini sangat marah. Ia lantas mengirim sepucuk surat ke pimpinan perusahaan yang isinya akan membeberkan segala kebobrokan dan penyelewengan yang telah dilakukan oleh perusahaan, jika persoalan ini tidak diselesaikan dengan baik.

Hari itu juga tiba-tiba menghilang dari rumah kontrakannya setelah pamit kepada temanya mencari makan. Empat hari kemudian, 9 Mei 1993, di sebuah gubuk di tepi sawah di Desa Jegong, Kecamatan Wilangan, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, aktivis buruh itu ditemukan tewas mengenaskan. Terdapat jeratan pada bagian leher, sekujur tubuh memar akibat benturan benda keras, vagina-nya robek akibat benda tumpul dan terdapat bercak darah.

Menurut rekan kerja Marsinah, Marsinah memang mempunyai watak pemberani. Di kalangan rekan-rekannya dia juga dikenal mempunyai rasa solidaritas yang tinggi. Tidak jarang Marsinah membantu teman sekerja yang diperlakukan kurang adil oleh atasan. Kalau ada teman sakit, dia selalu menyempatkan diri untuk berkunjung. Ia juga kadang meminjami uang pada teman-temanya yang pas lagi perlu.

Gadis pendiam, lugu namun ramah inipun ternyata sangat menggemari berita-berita politik. “Mbak Marsinah itu sering kali membaca buku dan koran. Dia suka baca berita-berita politik. Biar didapat di keranjang sampah, koran itu diambilnya dan dicari berita politiknya. Kalau sudah baca sering kali kepalanya menggeleng dan suara berdesis,” ujar Susi, teman kerja dan satu kos Marsinah di Desa Siring, Kecamatan Porong, Sidoarjo.

Sejak kecil, kehidupan Marsinah memang keras dan penuh tantangan. Sebagai anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Sumini-Mastin, Marsinah, kelahiran 10 April 1969, telah ditinggal ibunya untuk selama-lamanya ketika baru berusia tiga tahun. Ia dan dua saudaranya Marsini dan Widji diasuh bapaknya.

Itu pun tak lama, lantaran bapaknya menikah lagi dengan wanita lain, Marsinah dititipkan kepada neneknya, Pu’irah, yang tinggal bersama bibinya, Sarini, serta pamannya Suradji, Suradji yang petani bawang itu sebenarnya tak cukup mampu membiayai sekolah Marsinah. Untung ada bantuan biaya dari Pakde Sunardi, sehingga Marsinah lulus SMA Muhammadiyah.

Marsinah selalu berusaha hidup mandiri, menyadari nenek dan keluarga pamannya kesulitan mencari kebutuhan sehari-hari, Marsinah memanfaatkan waktu luang berjualan makanan keci. Sebagai anak petani, dia pun terkadang harus membantu menuai hasil bumi di sawah.

Di lingkungan keluarga Marsinah dikenal sebagai anak rajin dan pemberani. Jika tak ada kegiatan di sekoah, tak segan-segan membantu bibi Sini, memasak di dapur. Sepulang sekolah, di antarkan makanan untuk paman di sawah. “Marsinah sering kirim Bontotan ke sawah untuk saya,” ujar Sunardji.

Marsini juga bilang, di sekolah, Marsinah dikenal anak pandai, bahkan tak jarang memperoleh ranking di kelasnya. Mungkin, prestasi ini ditunjang oleh kegemarannya belajar dan membaca. Kegemaran itu pun, masih tetap tampak ketika bekerja di PT. Catur Putra Surya (CPS), perusahaan pabrik arloji, di Porong.

Setelah lulus SMA, Marsinah mengirim lamaran ke beberapa perusahaan. Tahun 1989 ia di terima di pabrik sepatu Bata di Surabaya. Setahun kemudian, pindah ke pabrik arloji PT. CPS di Rungkut Industri Surabaya, sebelum akhirnya perusahaan tersebut membuka cabang di Siring, Porong, Sidoarjo, dan Marsinah pun  pindah ke Porong.

Marsini sebetulnya kurang setuju adiknya bekerja di Surabaya. Faktor keamanan menjadi pertimbangan utama. Tetapi tekad Marsinah sudah bulat, sehingga dengan berat hati keluarga pun melepaskannya. “Marsinah tidak hanya ingin bekerja, tetapi ia juga ingin menambah wawasan dan modal di Surabaya”, begitu kenang Marsini.

Keberanian dan rasa solidaritas yang tinggi ini pula, yang membuat Marsinah tampil ke depan sewaktu terjadi pemogokan di tempatnya bekerja tanggal 3 dan 4 Mei 1993. Ketika pengunjuk rasa di PT CPS dihalau aparat, Marsinah menolak.

Ia bahkan, tampil dengan lantang menentang permintaan Direktur PT. CPS agar bekerja tidak mogok dan bekerja seperti biasanya. “tidak usah kerja, teman-teman tidak usah masuk. Biar pak Yudi (direktur) sendiri yang bekerja,” ujar teman sekerjanya menirukan keberanian Marsinah.

Disekap Tiga Hari Sebelum Dibunuh. 

Tanggal 5 Mei 1993 sore, Direktur Utama PT Catur Putra Surya (CPS), Yudi Susanto menggelar rapat dengan sejumlah staf pimpinan dan karyawan PT CPS yang dianggap bisa bekerja sama, yakni Soewono, Suprapto, Karyono Wongso aliyas Ayip, Bambang, Widayat, AS Prayogi, dan Mutiari yang menjabat kepala personalia PT CPS Porong. 

Agenda rapat, evaluasi kondisi produksi perusahaan yang mengalami penurunan sehubungan terjadinya unjuk rasa buruh, serta membahas rencana menghilangkan nyawa Marsinah.

Keterangan di atas adalah kesaksian Koordinator Satuan Pengamanan (Satpam) PT CPS, Soewono (48 tahun) dan Pengawas/Kepala Perawatan Widayat (43 tahun) dalam sidang lanjutan pemeriksaan kasus Mutiari, senin (29 November 1993), di Pengadilan Negeri Sidoarjo.

Kedua saksi mengatakan Mutiari mengikuti rapat rencana pembunuhan sampai selesai. Terdakwa Mutiari dalam rapat tidak berbicara apa-apa. Saksi Widayat mengatakan tanggal 5 Mei 1993 malam ia mendapat tugas mengemudi mobil Hijet 1000 milik perusahaan untuk membawa Marsinah dari daerah sekitar tugu kuning, dekat tempat kos Marsinah di Porong sampai ke rumah Yudi Susanto di jalan Puspita, Surabaya. Saksi juga mengaku sebagai pengemudi mobil ketika membuat mayat korban ke Nganjuk.

Selain sebagai pengemudi, Widayat pada rapat tanggal 7 Mei 1993 diperintah oleh pimpinan rapat Karyono Wongso menyiapkan alat pemukul membunuh Marsinah. Alat pemukul dari besi buatan Widayat ini dipakai menganiaya saat korban dalam keadaan sekarat. Sementara saksi Soewono mengaku bertindak sebagai pengaman dan pelaksana penyekapan korban di dalam mobil dibantu Suprapto, AS Prayogi dan Bambang.

Korban selama dalam perjalanan di dalam mobil antara Porong-Surabaya tidak dianiaya, tetapi setelah korban curiga dan berontak baru kemudian kedua kaki dan tangannya diikat pada kursi mobil dalam kondisi mulutnya disumbat.

Sesampai di Surabaya atas petunjuk tuan rumah, Marsinah dibawa Soewono ke salah satu kamar pembantu rumah tangganya. Marsinah didudukkan di kursi lipat dalam kondisi kedua kaki dan tangannya ditarik ke belakang, serta mulutnya disumbat.

Saksi Soewono mengaku ketika bertugas mengambil untuk membuang Marsinah dari rumah Yudi Susanto tangga 8 Mei 1993 malam, posisi korban berubah tidak seperti waktu diserahkan 5 Mei 1993 malam. Korban saat itu sudah jatuh miring di lantai dalam kondisi kritis.

Dalam kondisi sedemikian itu, saksi diperintah Yudi Susanto memukul kepala korban dengan alat potongan besi. “Perintah semacam juga diberikan kepada Suprapto dan Bambang semuanya dilaksanakan,” ujar Soewono yang mengaku tidak berani menolak perintah karena takut dipecat.

Korban setelah mengalami penganiayaan oleh Soewono, Suprapto, Bambang dan AS Prayogi akhirnya meninggal, kemudian di bopong keluar dari kamar untuk seterusnya dimasukkan ke mobil di garasi. Korban di taruh di jok belakang. Penunjuk jalan pembuangan ke Nganjuk adalah Bambang yang duduk berdampingan dengan sopir Widayat. Agar tidak mencurigakan penduduk, Mayat Marsinah dibuang dalam posisi duduk dekat gubuk.

Sementara itu, dua pembantu rumah tangga keluarga Yudi Susanto, Susianawati dan Lasmini juga memberikan kesaksian. Dallam kondisi sekarat, Marsinah didudukkan di kursi lipat selama tiga malam di kamar, ditemani Susianawati dan Lasmini.

Setiap menemani, kedua pembantu itu tidak pernah tegur sapa dengan Marsinah, karena mulut Marsinah disumpal kain, kedua tangan dan kaki diikat pada kursi dan matanya berkedip lemah dengan napas pelan. Keterangan ini dikemukakan Susianawati (22 tahun) ketika didengar kesaksiannaya di Pengadilan Negeri Sidoarjo dalam perkara Judi Astono, Rabu (23 Maret 1994).

“yang jelas selama tiga hari tiga malam saya dan Lasmini tidak pernah memberi makan dan minum,” ujar Susianawati. Saksi meyakinkan selama dalam penyekapan orang lain pun tidak ada yang mengurusi. Susianawati yang oleh keluarga Yudi Susanto dipanggil Susi, menceritakan tanggal 5 Mei 1993 sekitar setengah sebelas malam datang ke rumah majikannya empat orang mengendarai mobil warna putih.

Mobil segera dimasukkan ke garasi dalam posisi mundur setelah pintu garasi dibuka oleh Susi. Tidak lama kemudian keempat orang tersebut menurunkan seorang wanita dalam keadaan mulut disumpal dengan tangan dan kaki diikat. Wanita yang diakui usianya sebaya Susi, lalau didudukkan di kursi lipat dalam keadaan mulut disumpal dan tangan beserta kakinya diikat dengan kursi.

Diantara empat orang pembawa wanita itu, Susi hanya mengenal Karyono Wongso. Setelah mereka rampung mendudukkan wanita itu, Karyono Wongso berpesan agar Susi dan Lasmini mau menemani wanita itu tidur di kamarnya. “jangan takut, dia tidak mati,” ujar Karyono Wongso membesarkan hati Susi sebagai ditirukan Susi di sidang.

Pagi harinya, (6 Mei 1993), Yudi Susanto memberi tahu Susi bahwa di kamarnya ada seorang wanita. Terhadap keberadaan wanita ini, Susi diancam jangan bilang kepada siapapun. Sejak keberadaan wanita di kamarnya, Susi dan Lasmini ke kamar bila mau tidur malam sekitar pukul 20.00 WIB dan pukul 05.00 WIB sudah meninggalkan kamar untuk memulai pekerjaannya memasak air.

Pada siang hari keduanya sama sekali tidak pernah masuk kamar. Susi dan Lasmini menduga wanita asing itu pacar Karyono Wongso. “mungkin mempunyai kesalahan sehingga diperlakukan sedemikian,” duga Susi dan Lasmini.

Susi menjelaskan majikannya Yudi Susanto termasuk istrinya Rina Melati tidak pernah masuk kamar Susi, baik sebelum maupun setelah di sana ada wanita itu. Ruang tidur, kamar mandi termasuk ruang makan majikan di lantai dua, sedang kamar Susi di lantai dasar dekat garasi mobil. Susi sendiri tidak bisa memastikan Rina Melati mengetahui atau tidaknya keberadaan wanita di kamar Susi.

Pada tanggal 8 Mei 1993 sekitar pukul 23.00 WIB, keempat orang yang pernah membawa wanita itu datang ke rumah lagi diantaranya terdapat Karyono Wongso yang dikenal Susi sebagai karyawan PT CPS. Kedatangan mereka membawa mobil sama seperti waktu mengantarkan wanita tersekap, kemudian mobil dimasukkan ke garasi dalam posisi maju. Mereka turun dari mobil terus menuju kamar sekap itu.

Dari luar kamar, Susi mendengar suara gedebak-gedebuk antara tiga sampai empat kali, tetapi tidak disertai suara orang kesakitan. Tidak lama kemudian Susi disuruh masuk oleh Karyono Wongso membantu mengganti baju putih wanita itu dengan kaos warna hitam dan bagian rok bawah, dalam keadaan tangan dan kaki wanita itu dipegangi keempat laki-laki. Setelah selesai penggantian pakaian, wanita itu digotong keluar lalu dimasukkan ke mobil dan mobil pergi kemana Susi tidak jelas arahnya.

Malam terakhir kepergian wanita meninggalkan kamar, Susi dan Lasmini tidak berani tidur di kamarnya lagi. Keesokannya Lasmini membersihkan percikan darah di lantai dan menemukan sepotong kayu yang ujungnya terdapat bekas darah. Susi tidak tahu asal muasal kayu itu dan karena dianggap tidak ada gunanya dibuang oleh Lasmini.

Di lain sisi, Mutiari membantah semua tuduhan yang dilancarkan kepadanya dalam sidang di Pengadian Negeri Sidoarjo, Senin (13 Desember 1993). Menurut Mutiari, sore (5 Mei 1993), sekitar pukul 16.30-17.00 WIB ia bersama Riyanto berada di ruang kerja Judi Astono (Direktur PT CPS cabang Porong) menyiapkan uang pesangon bagi 13 buruh yang diputus hubungan kerjanya (PHK) di kantor Kodim Sidoarjo.

Terdakwa membantu Riyanto mengisi amplop dengan uang yang jumlahnya satu dengan amplop yang lain tidak sama. Sedang dalam rapat tanggal 7 Mei 1993 terdakwa (Mutiari) mengaku ikut tetapi tidak membicarakan soal bunuh membunuh itu. Rapat dipimpin Judi Astono membicarakan masalah penyelesaian PHK terhadap 13 buruh. Selesai rapat terdakwa bersama Judi Astono dan Widayat menuju ke Kodim Sidoarjo untuk menyerahkan uang pesangon tersebut.

Terdakwa mengaku judi Astono dalam pembicaraan rapat tanggal 7 Mei 1993 pernah memerintahkan kepada para peserta rapat agar Marsinah dihilangkan. Istilah “dihilangkan” di sini menurut terdakwa Marsinah agar ikut di PHK dan bukan di bunuh. Dalam pengertian tersebut, terdakwa kemudian mencacat nama Marsinah dan Mutmainah untuk didaftar usulan di PHK.

Mutiara baru mengetahui Marsinah meninggal pada tanggal 11 Mei 1993 di Nganjuk dri seorang karyawati Suwarni. Terdakwa lapor kepada Judi Astono dan mendapat tanggapan Judi Astono yang akan mengurus kemudian.

Kemaluan Disetrum Dipaksa Minum Air Seni

Kesaksian para terdakwa pembunuh Marsinah ternyata hasil rekayasa. Para terdakwa diculik dan ditahan tanpa pemberitahuan selama 19 hari di markas militer (dalam persidangan terkuak, markas militer tak ain adalah Den Intel Kodam V/Brawijaya, Wonocolo, Surabaya).

Mereka disiksa secara luar biasa, di luar nilai-nilai kemanusiaan agar mengaku dan menandatangani berita acara pemeriksaan (BAP) sebagaimana skenario yang terjadi dalam kesaksian mereka selama ini dalam persidangan. Para terdakwa mengadu dan meminta perlindungan Komnas HAM.

Di depan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya dalam lanjutan sidang kasus pembunuhan Marsinah, Kamis (17 Februari 1994), Soewono (49 tahun) koordinator satpam PT CPS, menunjukkan bekas luka memutih di pundak kirinya akibat siksaan fisik yang diterimanya selama proses pemeriksaan. Sidang ini mengadili terdakwa Bambang (38 tahun), Widayat (54 tahun) dan AS  Prayogi (56 tahun).

“BAP itu dibuat dengan paksaan dan siksaan, sehingga saya tidak berdaya dan terpaksa menandatangani. Tapi sekali lagi saya tegaskan, bahwa itu tidak benar,” tutur saksi Soewono. Tanggal 5 Mei 1993 malam, pada saat mana ketiga terdakwa dan saksi Soewono didakwa melakukan aksi penculikan terhadap Marsinah di dekat Tugu Kuning, beberapa ratus meter dari rumah kos Marsinah, Soewono sebenarnya sedang bertugas.

“Waktu itu saya sedang dinas jaga sampai pukul 05.00 WIB pagi di pabrik. Malahan sekitar pukul 22.00 WIB saya didatangi petugas Koramil Kecamatan Porong, Sidoarjo dan diajak ngobrol di Pos penjagaan pabrik sampai pukul 22.30 WIB. Jadi bagaimana mungkin saya disebut menculik Marsinah,” tandas Soewono.

Soewono juga membantah keterlibatan satpam AS Prayogi yang dituduh ikut dalam penyiksaan dan pembuangan mayat Marsinah dari rumah Yudi Susanto, pada tanggal 8 Mei 1993 malam. Katanya, pada tanggal 8 Mei 1993 malam itu terdakwa AS Prayogi sedang sakit dan tidk masuk kerja.

Menurut Soewono selama 19 hari, sejak 1 Oktober 1993, dia bersama sejumlah karyawan PT CPS diculik, ditahan, dan disiksa. “Baru pada tanggal 22 Oktober 1993 saya dipindah ke Markas Polda Jatim. Sebelumnya saya disiksa di markas militer, dipukul, ditelanjangi, dan kemaluan saya disetrum. Akhirnya, saya terpaksa mau mengikuti kemauan mereka, sehingga menandatangani BAP. Bekas lukanya di pundak kiri masih ada sampai sekarang,” kata Soewono.

Dalam suratnya kepada Komnas HAM, 16 Februari 1994, terdakwa Bambang antar lain menulis: tanggal 1 Oktober 1993, pukul 07.00 WIB, ia ditangkap di pabrik oleh petugas yang tidak menunjukkan identitasnya. Kemudian dibawa ke sebuah kantor militer dan setibanya di sana pakaiannya dilucuti.

Sehabis dipoto disuruh naik ke tingkat atas. Ia langsung dipukuli petugas secara beramai-ramai, agar dirinya mengakui tuduhan sebagai pembunuh Marsinah. Tetap tak menjawab, penyiksaan-pun berlanjut. Tak tahan siksaan, Bambang mengakui peran sebagai penunjuk jalan dalam kasus pembunuhan Marsinah.

Penyiksaan itu masih terus berlanjut hingga 19 Oktober 1993. Tiap menolak tuduhan, Bambang disiksa oleh penyidik. Ia dipaksa untuk mengikuti rapat tanggal 5 Mei 1993. Karena menolak, ia kembali disiksa.

Bambang, menyebutkan setidaknya tiga petugas yang menyiksanya. Mereka itu berpangkat Sersan Kepala, Sersan Dua, dan Kopral Dua. Penyiksaan kadang dilakukan seorang Perwira berpangkat letnan.

“Perlu saya tegaskan, selama saya ditahan, hak saya untuk minta didampingi penasehat hukum dirampas dan saya baru dapat berkonsultasi dengan penasehat hukum pada tanggal 20 Oktober 1993, saat semua BAP selesai dibuat,” kata Bambang.

Lain lagi penyiksaan yang dialami oleh Suprapto, satpam PT CPS. Dalam keterangannya di persidangan di PN Surabaya, Kamis (3 Maret 1994), dengan terdakwa Bambang, Widayat, dan AS Prayogi, Suprapto mengaku terpaksa menandatangani BAP karena tidak tahan siksaan antara ain dipaksa minum air seni setengah cangkir.

Menurut pengakuannya, Suprapto dijemput paksa petugas keamanan ketika dinas jaga di pabrik pada tanggal 1 Oktober 1993, yang membuat Suprapto bersama sejumlah karyawan PT CPS lainnya, menghilang selama 19 hari.

Sesampainya di sana, pakaiannya langsung dilucuti hingga tinggal celana dalam. Lalu disuruh masuk ke kamar mandi dan disuruh bersila. Ketika bersila itulah kakinya diinjak sambil dipaksa mengaku membunuh Marsinah.

Menurut BAP, Suprapto disebut berperan penting dalam proses penculikan Marsinah, dari rumah  kosnya di Siring, Porong, Sidoarjo, 5 Mei 1993, untuk kemudian Marsinah disekap, disiksa, dan dibunuh. Pelaksanaan penculikan diawali dengan rapat pada tanggal 5 Mei 1993 yang dihadiri para terdakwa untuk merencanakan penculikan dan pembunuhan.

Suprapto ditugasi naik sepeda motor – menurut versi BAP – untuk membujuk mengajak makan, membonceng Marsinah lalu dijemput kawanan terdakwa lainnya dengan mobil colt Hijjet 1000 di pertigaan Tugu Kuning. Untuk tugas itu, Suprapto menurut BAP mendapat imbalan Rp. 1,5 Juta dari terdakwa Yudi Susanto, pemilik PT. CPS.

Ketika hendak menaikkan Marsinah ke  mobil, menurut versi BAP, Suprapto berjumpa dengan saksi Kapten Khusaeri, mantan Danramil Porong yang semula menumpang mobil itu dan kemudian meminjam sepeda motor Suprapto untuk dipakainya ke kantor Koramill.

Suprapto juga menegaskan, malam itu ia tugas jaga di gardu depan pabrik dari pukul 19.00 sampai pukul 07.00 WIB esok harinya. Malahan, katanya, sekitar pukul 19.30 WIB ia melihat Marsinah datang ke pos satpam. Dengan diantar seorang pekerja pabrik lainnya, Marsinah datang mengantarkan surat yang minta disampaikan kepada Ketua Unit SPSI PT CPS Riyanto.

Surat itu, sempat dibaca oleh Suprapto karena tidak beralamat di amplopnya dan tidak dilem. Saat membicarakan surat ancaman yang disampaikan Marsinah, sempat terjadi perdebatan antara hakim, jaksa, dan penasehat hukum. Pasalnya, ketika barang bukti photocopy surat itu ditunjukkan kepada Suprapto, ia mengaku bukan itu suratnya. Surat itu dinilai penting karena berisi ancaman hendak menyebarkan rahasia perusahaan sehingga menimbulkan motif pembunuhan. Setelah dikejar penasehat hukum, Fauzi Fadllan S.H. Suprapto kemudian membenarkan isi surat sama dengan yang ia baca. Tetapi surat itu bukan surat yang ia baca karena surat di persidangan itu hanya berupa photocopy.

Polisi Ikut Menyiksa

Oknum Polda Jatim sebetulnya sejak 1 Oktober 1993 sudah mengetahui penahanan terhadap sembilan orang tersangka kasus Marsinah di Den Intel Kodam V/Brawijaya, Wonocolo, Surabaya. Bahkan salah seorang di antara mereka ikut melakukan penyiksaan dan mendiktekan jawaban versi berita acara pemeriksaan (BAP) kepada para tersangka.

Pernyataan itu dikemukakan oleh salah seorang tersangka, Bambang, yang memberi kesaksian dalam sidang terdakwa Soewono dan Suprapto di PN Surabaya, senin (7 Maret 1994). Ditambahkan, setidaknya ada enam anggota Polda Jatim yang diketahuinya hadir ketika Bambang tiba di tempat penahanan.

“Apa saudara tahu nama-nama mereka?” tanya ketua Majelis Hakim Mustofa Muhammad. “Sebagian tahu, Pak,” tegas Bambang sambil menyebut nama-nama anggota Polda Jatim itu, lengkap dengan pangkatnya. Salah seorang oknum Polda Jatim ikut menyiksa dan mendiktekan jawaban yang harus diucapkannya.

Menurut Bambang, tempat penahanan mereka baru dipindah ke Mpolda Jatim pada tangga 19 Oktober 1993 tengah malam. Di Mapolda pun, Bambang tidak didampingi penasehat hukum dan mengalami penyiksaan. “Di kedua tempat itu, saya dipaksa menandatangani BAP,” ujarnya.

Ditambahkannya, saat berada di tahanan Den Intell, ia diminta mengakui adanya tiga kejadian. Pertama, rapat tanggal 5 Mei 1993 di PT CPS, tempat Marsinah bekerja., kedua, dirinya yang bertindak sebagai penunjuk jalan, dan ketiga, penusukan kemaluan Marsinah,” ujarnya.

“Ketika saya jawab tidak ada rapat, petugas memukuli saya dan menyetrum kemaluan saya. Saya tidak kuat menahan sakit. Akhirnya, saya mengakui saja semua yang didiktekan itu,” ujarnya.

“Siapa yang menjelaskan, bahwa saudara bertugas menyiapkan ruang penyiksaan, Suprapto bertugas menjemput Marsinah dan lain-lainnya itu?” tanya majelis. “saya yang mengeluarkan kata-kata itu di depan penyidik, hal itu dikeluarkan karena sebelumnya saya didikte petugas,” tegas Bambang.

“mengapa keterangan saudara pada sidang Mutiari berbeda dengan di sini?” tanya hakim. “Pada saat sidang Nyonya Mutiari di gelar, saya masih berstatus tahanan Polda Jatim. Ketika hendak berangkat ke PN Sidoarjo, tempat sidang Mutiari, polisi mengancam saya. Awas kau keterangan kamu berbeda dengan BAP, saya akan kembalikan ke Bakorstanasda,” kata Bambang.

Sementara itu, mantan Danramil Porong Kapten TNI Khusaeri sempat bingung ketika memberikan kesaksian pada sidang terdakwa Soewono dan Suprapro, di PN Surabaya, Kamis, (24 Maret 1994).

Menjawab pertanyaan majelis hakim tentang rapat di ruang kerja pimpinan PT CPS Porong, tanggal 5 Mei 1993, Judi Astono yang juga terdakwa dalam kasus ini, Khusaeri tampak ragu menyebut jumlah orangnya. Khusaeri yang sudah kenal baik dengan Judi Astono, pada tanggal 5 Mei 1993 sekitar pukul 16.00 berkunjung ke PT CPS Porong.

“Saya langsung menuju ruang kerja Judi Astono. Di situ saya melihat ada empat orang sedang rapat. Melihat itu, saya tidak masuk dan langsung keluar, pulang ke Koramil,” ujar Khusaeri. Mendengar jawaban saksi, Ketua Majelis Hakim Mustofa Muhammad melanjutkan pertanyaan, “di BAP saudara dengan jelas menyebut jumlah mereka yang rapat sembilan orang, bahkan lengkap dengan namanya.”

“ketika menjawab pertanyaan itu, saya bingung, Pak. Saya jawab ngawur, seenaknya saja,” tegas Khusaeri. “Benar itu jawaban saudara”, tanya hakim. “Benar pak,” jawab Khusaeri.

Pada sidang itu, jaksa Sirajudin Ardan juga menghadirkan saksi Susianawati, pembantu rumah tangga Yudi Susanto. Saksi membenarkan terjadi penyekapan di kamar saksi di rumah tersangka Yudi Sussanto. Saksi mengaku diancam agar tidak melaporkan adanya penyekapan di rumah itu.

“Apakah selama tiga hari penyekapan, anda bisa keluar rumah?” tanya Willy Soenarto, penasehat hukum Soewono kepada saksi. “Seperti biasa saya keluar rumah pergi ke pasar setiap hari,” ujarnya.

“Dalam BAP, saksi menjelaskan ada bercak darah di lantai. Apakah saksi tahu, apa arti kata bercak?” tanya Willy. Susi tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut. Sementara itu, pada sidang yang mengadili Bambang, AS Prayogi dan Widayat, dihadirkan saksi Lasmini, pembantu rumah tangga Yudi Susanto lainnya. Lasmini membenarkan adanya penyekapan di rumah Yudi Susanto. “Tetapi, saya tidak tahu tanggak berapa. Saya baru tahu tanggal penyekapan itu ketika sudah berada di Polda Jatim,” ujar wanita asal Bojonegoro ini.

Kepada saksi, Ketua Majelis Hakim Sarijanto menanyakan, apakah tiga penggontong korban adalah mereka yang duduk di bangku terdakwa. Dengan lancar, tegas dan tanpa ragu sedikitpun, Lasmini mengiyakan.

Penasehat hukum Bambang, Sumarso, mendapatkan keterangan Lasmini di depan sidang berbeda dengan yang tercantum dalam BAP. Di BAP, Lasmini mengatakan, tidak bisa mengingat-ingat wajah para penggotong. Sebab, selain tidak berani memandang wajah mereka karena takut, juga lampu penerang di kamar itu remang-remang. “Apa alasan saudara menyatakan bahwa ketiga terdakwa ini penggotong korban ke kamar tempat tidur saudara?” tanya Sumarso.

“Saya melihat jelas wajah mereka ketika di Polda. Bahkan, saya bertemu mereka di Polda tanggal 14 Oktober 1993,” ujarnya. Padahal tanggal 14 Oktober 1993, sembilan terdakwa itu masih meringkuk di Den Intel Kodam Brawijaya, bukan di Mapolda Jatim.

Dalam sidang yang dipimpin Saijanto, penasehat hukum AS Prayogi, Wijono Subagijo, sempat marah kepada sikap hakim yang kerap memotong pertanyaan penasehat hukum. Wijono Subagijo mendapatkan kesempatan terakhir bertanya kepada saksi Lasmini yang mengaku baru tahu bahwa penyekapan itu terjadi tanggal 5 Mei 1993 ketika berada di Polda Jatim.

Dalam BAP, Lasmini menerangkan, punya tugas rutin mingguan antara lain, bersama supir Yudi Susanto tiap hari selasa mengantar Elly Susanto, anak Yudi  Susasnto, les bahasa inggris dan sabtu mengantar les badminton. “Ketika terjadi penyekapan, apakah waktunya bersamaan dengan les bahasa inggris dan gambar, les bahasa inggris atau les badminton,” tanya Wijono untuk meyakinkan waktu penyekapan.

Ketua majelis hakim Sarijanto berusaha menjawab pertanyaan Wijono, bukan diteruskan kepada saksi Lasmini. Tahu pertanyaan itu berusaha dibelokkan, Wijono protes, “yang bertanya saya atau pak hakim. Pertanyaan saya kan jelas, tidak berbelit-belit,” ujar Wijono dengan suara keras. Protes Wijono tidak dikabulkan dan hakim tetap melanjutkan sidang.

Ketika memeriksa saksi Kapten J Kartijoso, penyidik Polda Jatim, Wijono juga marah. Pasalnya, ketika dia menanyakan kepada saksi, Sarijanto lagi-lagi berusaha memotong pertanyaan yang diajukannya.

Penasehat hukum terdakwa Yudi Susanto, dalam kasus pembunuhan Marsinah, Trimoelja D Soerjadi S.H., menyangsikan keterangan saksi Susianawati. Trtimoelja D Soerjadi menduga bahwa pembantu rumah tangga terdakwa itu terkena upaya brainwashing (cuci otak) pihak-pihak di luar pengadilan. Karena itu, ia meminta agar sebelum saksi diperiksa, terlebih dahulu disumpah di luar ruang persidangan.

Tetapi, ketua Majelis Hakim Suwito S.H dalam sidang lanjutan perkara Marsinah, kamis (7 April 1994) menolak permintaan itu. Di ruang lain, dalam persidangan perkara yang sama, majelis hakim juga menolak permohonan Soemarso dan Fauzi Fadlan, masing-masing penasehat hukum terdakwa Karyono Wongso dan Widayat, karyawan PT CPS. Kedua penasehat hukum itu meminta agar majeis hakim memeriksa lokasi penculikan Marsinah di Tugu Kuning, Siring, Porong Sidoarjo.

Mahkamah Agung Bebaskan Sembilan Terdakwa

Mahkamah Agung (MA) memutuskan untuk membebaskan sembilan terdakwa perkara pembunuhan Marsinah. Dengan putusan tersebut, berarti hanya kapten Khusaeri (mantan Danramil Porong) yang dinyatakan terbukti bersalah dan dijatuhi hukuman 9 bulan penjara oleh Mahkamah Militer Surabaya.

Menanggapi putusan MA tersebut, Pangdam V Brawijaya Mayjen TNI Imam Utomo selaku ketua Bakorstanasda (Badan Koordinasi Bantuan Pemantauan Stabiitas Nasiona Daerah) Jatim kepada wartawan di balai Kartika, kamis (4 Mei 1995) menyatakan apapun keputusan lembaga peradilan tertinggi tersebut harus dihormati. 

“Tugas kita selanjutnya mencari siapa pelaku pembunuhan sebenarnya,” kata Mayjen Imam Utomo, berarti polisi harus segera tanggap untuk penyelidikan awal lagi. Para tersangka sebelumnya yang telah disidik dan diajukan ke pengadilan dalam keputusan akhir ternyata oleh lembaga peradilan tertinggi itu di bebaskan.

“Lho ada orang mati dibunuh dan orang yang semula dituduh membunuh ternyata tidak membunuh. Ini berarti ada orang lain yang membunuh dan orang lain ini yang harus dicari sampai ketemu. Bakorstanasda akan mem-back up apa yang dilakukan kepolisian,” ujar Pangdam.

Keputusan tersebut disampaikan Direktur Pidana MA Sujati Soedarmoko melalui Faksimil kepada P Sidoarjo, Ketua pengadilan Negeri Sidoarjo, Kepala Rutan Medaeng dan ketua PN Surabaya, Rabu (3 Mei 1995) siang.

Alasan mereka sama sekali tidak terbukti bersalah melakukan pembunuhan terhadap Marsinah. Dengan adanya putusan MA tersebut, maka siapa pelaku pembunuhan terhadap Marsinah menjadi semakin kabur.

Mereka yang dibebaskan MA adalah delapan orang yang mengajukan Kasasi, yakni Mutiari, Widayat, AS Prayogi, Bambang, Suprapto, Soewono. Kemudian Ayip (aliyas Karyono Wongso), dan Judi Astono. Rata-rata mereka sudah menjalani hukuman sekitar dua tahun.

Sedang Yudi Susanto yang sempat disebut-sebut aktor intelektual yang dijatuhi hukuman 17 tahun penjara oleh PN Surabaya, sudah lebih dahulu dibebaskan oleh Pengadilan Tinggi Jawa Timur. Jaksa mengajukan kasasi namun kasasi itu ditolak oleh MA.

Ketua Mahkamah Agung (MA) Soerjono menyatakan bagi MA proses persidangan terhadap kasus Marsinah, sesuai dengan berkas yang diajukan, sudah dianggap selesai. “Kalau sekarang mau menanyakan siapa pelaku sebenarnya, itu bukan urusan pengadilan. Silahkan tanya ke Polisi. Sebab, pengadilan hanya menerima apa yang diserahkan,” kata Soerjono kepada Kompas, Jumat (5 Mei 1995).

Sementara itu, Kapolri Jenderal (Pol) Drs. Banurusaman Astrosemitro menegaskan, pihaknya telah memerintahkan Kapolda Jatim untuk menyidik ulang kasus pembunuhan Marsinah. Polri memang wajib melakukan penyidikan guna menemukan siapa tersangka sebenarnya pembunuh aktivis buruh PT CPS Sidoarjo itu.

“Saya sudah perintahkan Kapolda Jatim untuk mengusut terus kasus Marsinah itu. Pokoknya, hukum harus ditegakkan dan siapa saja yang terbukti bersalah harus dihukum,” tegas Banurusman, usai shalat jumat.

Polri, kata Banurusaman, sangat menghormati keputusan yang diambil MA untuk membebaskan semua terdakwa. Apapun keputusan MA, harus ditaati semua pihak termasuk Polri sebagai penyidik. “Kita harus tunduk kepada ketentuan hukum. Dan Polri sangat menghormati keputusan Mahkamah Agung, apapun bentuknya,” ujar Banjurusman.

Banurusman membenarkan, dalam upaya melakukan penyidikan ulang, tidak tertutup kemungkinan di antara terdakwa yang dibebaskan itu akan disidik ulang, namun bisa juga sama sekali dicari tersangka lain sesuai alat bukti yang diperoleh di lapangan.

 

Vonis Terhadap Terdakwa Pembunuh Marsinah

 

 
Terdakwa 
 
 
Tuntutan
 
Vonis PN
 
Vonis PT
 
Vonis MA
Mutiari
2 tahun
7 bulan
6 bulan
Bebas
Yudi Susanto
20 tahun
17 tahun
Bebas murni
-
Judi Astono
7 tahun
4 tahun
4 tahun
Bebas
Bambang
13 tahun
12 tahun
12 tahun
Bebas
Widayat
13 tahun
12 tahun
12 tahun
Bebas
AS Prayogi
13 tahun
12 tahun
12 tahun
bebas
Karyono Wongso
15 tahun
13 tahun
13 tahun
bebas
Soewono
13 tahun
12 tahun
12 tahun
Bebas
Suprapto
13 tahun
13 tahun
12 tahun
Bebas
Kapten Khusaeri
18 bulan
9 bulan
-
-

                                                           

Catatan: Tulisan ini saya kutip dari sebuah buku terbitan kompas dengan judul “Elegi Penegakan Hukum” Kisah Sum Kuning, Prita, Hingga Janda Pahlawan. Terbit pada bulan November 2010.