85916_51057.jpg
Dok. Pribadi
Hiburan · 1 menit baca

Marlina; Membuka Lembar Konflik Etnik di Kalimantan

Apresiasi saya setinggi-tingginya bagi insan per-film-an di Indonesia, utamanya bagi sinematografi yang berhasil dan sukses menyuguhkan film berkualitas tinggi; Marlina: Si Pembunuh dalam Empat Babak. Meski film ini sudah cukup lama tayang di bioskop Indonesia, saya baru kemarin berkesempatan menikmati suguhan film ini. 

Saya tidak begitu suka nonton di bioskop, namun film Marlina membuat saya penasaran sampai ubun-ubun. Review-nya sangat ramai dibicarakan di internet, trailer film nya di youtube sudah jutaan kali tayang. Bagaimana bisa saya tidak penasaran, utamanya dengan tentengan kepala Markus yang Marlina bawa ke kantor polisi; tanya yang menyelimuti pikirku adalah bagaimana Marlina menebas kepala itu?

Saya nonton di XXI Cihampelas Walk Bandung, suasana cukup nyaman karena tidak begitu banyak penonton. Saya sangat menikmati setiap scene film yang menurut saya menakjubkan. Dalam hati saya bergumam; "betapa Indonesia indah dan kaya". Keindahan alam yang ditayangkan, serta kekayaan budaya yang ditampilkan pada film ini meyakinkan saya bahwa "saya bangga menjadi anak Indonesia". Potensi alam, budaya dan masyarakat yang beragam adalah kekayaan yang patut kita syukuri, dan Marlina membuat saya sangat bersyukur.

Scene yang paling menegangkan menurut saya adalah saat Marlina menebas kepala Markus. Disitulah soul film ini sesungguhnya. Keberanian Marlina sangat penting dalam menerobos penghentian kekerasan seksual di Indonesia. Bahwasannya deskripsi Marlina adalah representasi setiap perempuan Indonesia yang adalah rentan terhadap kekerasan seksual, utamanya mereka yang berada di pedesaan, kesulitan akses dan keterbatasa informasi. Marlina mampu membuat saya terpukau dengan menenteng kepala dari desa hingga ke kota (kantor polisi).

Bagi saya melihat kepala yang ditenteng seketika membuka memoar saya tentang konflik etnik di Kalimantan Barat. Dimana saat tahun 1997/1998 saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), saya kebetulan berasal dari keluarga etnik Dayak, saat ayah saya ikut berperang saya kekeh minta ikut. Ketika mendengar cerita berperang dengan menebas kepala manusia, saya geram, penasaran, bahkan sampai hari sebelum saya menonton Marlina. Saya mendengar tentang menebas kepala manusia, nenteng kepala manusia, itu hanya ada di cerita saat saya masih SD, dan saat itu situasi konflik. Dan ketika menonton film Marlina memori itu terkuak kembali.

Lalu, scene yang membuat saya naik pitam adalah ketika Marlina membuat laporan ke kantor polisi, dan pertanyaan yang diajukan sangat tidak manusiawi. "Manusia Bodoh!" Umpatan itu spontan saja keluar dari mulutku. Geram bercampur marah kepada aparat polisi yang sangat tidak bersimpatik. Marlina, terima kasih.