Saya teringat satu kisah dalam novelet buah tangan Ratih Kumala, berjudul Wesel Pos, di mana Elisa seorang gadis desa mesti ke Jakarta demi satu keperluan penting. Laiknya seorang ndeso, Elisa menemukan banyak hal yang tak ada di desanya.

Secara khusus saya memotret ketika Elisa melihat sepasang sepatu berhak tinggi di depan kamar indekos tempatnya menginap. Semula ia menduga itu milik seorang kekasih tetangga kamarnya. Kelak ia tahu bawa itu milik seorang lelaki yang akan digunakan jika malam telah tiba. Menjadi perempuan tanpa vagina, katakanlah.

Jangankan Elisa, masyarakat kita hingga kini, jujur saja, memang masih latah untuk menerima serupa apa yang dialami Elisa. Kita gagal menerima bahwa lelaki yang menyerupai perempuan atau sebaliknya sebagai sebuah fakta dalam kehidupan berbangsa-bernegara.

Kalau kita membaca peta sosial secara umum, terlepas dari miskin dan kaya, dengan cepat kita bisa memisahkan kedudukan “kita” (sebagai kalangan normal, katakanlah) dan “mereka” (sebagai kalangan tidak normal), yang belakangan disebut sebagai LGBT (Lesbi, Gay, Biseksual, dan Transgender)

Memang masih banyak pemenuhan hak yang terabaikan di Indonesia. Terutama pengakuan secara hukum atas keberadaan kaum LGBT. Jangankan di mata hukum, dalam masyarakat secara umum saja mereka menjadi yang “liyan”. Bagaimanapun, kita tak bisa menafikan bahwa telah turut dalam penghakiman ini.

Saya ingin menyoroti lebih serius bagaimana kebingungan kita dalam mengidentifikasi perempuan dan laki-laki dari beragam aspek. Salah satunya dari sisi kostum, sebagaimana Elisa dalam Wesel Pos.

Pertama, untuk memudahkan kita bagaimana kostum menjadi indikator yang bingung dalam menentukan ia perempuan atau tidak, coba ingat kembali apa yang terjadi belum lama ini di mana seorang laki-laki “menjadi perempuan” dengan mengenakan atribut keagamaan: jilbab.

Semula memang tak ada yang tahu, selain bahwa ia adalah perempuan. Baru setelah beberapa waktu penyamaran lelaki itu akhirnya terkuak. Terlepas dari apa motif si penyamar, yang dapat kita simpulkan adalah indikator kostum terlampau tak beralasan untuk mengidentifikasi jenis kelamin.

Kedua, kostum sebagai alat yang membingungkan dalam mengidentifikasi jenis kelamin, perhatikan gambar di bawah ini:

(château de versailles louis xiv)

Potret di atas adalah Raja Prancis Louis XIV. Ia menggunakan wig panjang, stoking dan bersepatu hak tinggi. Berpose tak ubahnya seorang penari. Anda tahu, Louis adalah simbol kejantanan dan kegagahan serta kemegahan Eropa pada zaman itu, terlepas dari atribut yang ia gunakan. Membingungkan, bukan?

Sampai di sini, barangkali ada yang mesti kita sepakati. Jika bukan budaya, maka kapitalismelah (baca esai terbaru dari Miftahul Huda, Menyingkap Kabut Kecantikan: Usaha Melawan Kapitalisasi Kecantikan) yang turut campur tangan dalam menetapkan standard kostum untuk laki-laki dan perempuan. Sesuai kebutuhan pasar, tentu saja. Atau agama?

Aspek kedua, setidaknya bagi saya, datang dari vonis agama. Tidak sulit untuk menemukan dalil-dalil dan firman-firman dalam kitab suci, yang memang tidak mengidentifikasi di luar dari laki-laki dan perempuan. Bahkan turut membentuk istilah “kita” dan “mereka” sebagai sesuatu yang berbeda.

Kita bisa menemukan kisah-kisah yang diabadikan dalam kitab suci mengenai penolakan atas keberadaan kaum LGBT. Dan tentu saja kita tahu betul apa yang terjadi dengan kota Sodom dan Gomora, atau bagaimana kaum nabi Luth yang dihancurkan sebab “penyelewengan seks”. Menyukai sesama jenis.

Laki-laki dan Perempuan tanpa Kelamin

Jenis kelamin adalah satu hal. Sedangkan gender adalah hal yang lebih serius. Para ahli sebetulnya mengupayakan cara untuk mengurangi kegagapan kita dalam mengidentifikasi keduanya. Jenis kelamin masuk dalam kategori biologis. Sedangkan gender masuk dalam kategori budaya. Feminis dan maskulin. Atau laki-laki dan perempuan.

Perempuan dan laki-laki tidak ditemukan dalam realitas biologis. Kecuali jantan dan betina. Untuk memisahkan itu dapat terlacak dalam bentuk kromoson. Betina memiliki dua kromoson x, sedangkan jantan memiliki satu kromoson x dan satu kromoson y. Untuk diketahui, pemisahan ini objektif dan bersifat tetap sepanjang waktu.

Apa yang terjadi dengan laki-laki dan perempuan? Keduanya adalah kategori gender. Bukan jenis kelamin. Hidup dalam arus budaya. Tidak objektif. Tidak konstan. Artinya, secara terus menerus mengalami perubahan.

Sampai di sini, kita tak perlu heran atas apa yang terjadi dengan masa lalu. Mengenai, misalnya, di mana Raja Prancis Louis XIV justru menjadi simbol maskulin ketika ia mengenakkan sebuah kostum yang, pada era sekarang adalah simbol feminin. Sebab, itu tadi, arus budaya yang tak konstan. Ada kesepakatan. Harari (penulis buku Sapiens) menyebutnya, “kesepakatan antar subjektif”.

Budaya kita memang cenderung tak objektif, sebab keduanya gagal, atau tak berkehendak mendefinisikan jantan dan betina sebagai realitas biologi. Justru menautkan antara laki-laki sebagai jantan, dan perempuan tentu saja sebagai betina. Padahal, realitas dalam masyarakat sendiri telah menggambarkan sebagaimana apa yang dialami Elisa dalam Wesel Pos.

Ada banyak jantan yang kemudian kita temukan bertingkah (sebab budaya yang terus menerus berubah) laiknya seorang perempuan. Begitu pun sebaliknya. Lalu kita menyebut itu sebagai pelanggaran. Apa yang dilanggar? Tentu saja kesepakatan.

Ada standard yang “telanjur” disepakati bahwa ini harus begitu, dan itu harus begini. Sebagaimana kesepakatan kita atas uang kertas, sekalipun Anda pendukung fanatik Prabowo, selama Anda masih menggunakan uang kertas sebagai alat tukar, transaksi itu tetap diterima oleh si golput, katakanlah begitu.

Bayangkan, misalnya, ketika Anda tidak mematuhi kesepakatan uang kertas sebagai alat tukar, apa yang terjadi? Sekalipun Anda beragama sama dengan si penjual, selama alat tukar yang Anda gunakan adalah singkong, katakanlah, jelas transaksi itu tak akan diterima.

Sebagai akhir, mari renungkan bersama sejauh mana kita melangkah sebagai sebuah bangsa yang mendaku sebagai bangsa yang maju?

Dan mengenai keberadaan kaum LGBT di Indonesia, saya ingin meminjam satu pernyataan menohok dalam Wesel Pos, tentu saja sedikit mengubahnya, “Cuma orang sakti yang bisa bertahan hidup di Indonesia.”