Mahasiswa
4 minggu lalu · 286 view · 5 min baca · Gaya Hidup 78433_63566.jpg
Arnold Schwarzenegger - Melbourne, Australia 1974, History In Pictures @HistoryInPics

Mari Bicara Maskulinitas

Pada 2013, ILO mengeluarkan publikasi paper berjudul Men and Masculinities: Promoting Gender Equality in the World of Work. Hasilnya, penelitian dan perjuangan gender yang selama ini memperjuangkan hak-hak perempuan menyebabkan laki-laki tidak menjadi prioritas, terutama sebagai partner perempuan dalam dunia kerja.

Maka, ILO berusaha untuk mempromosikan peran laki-laki yang juga penting dalam mencapai kesetaraan gender dalam dunia kerja karena ketidaksetaraan gender tidak hanya menyebabkan dampak negatif bagi perempuan, namun juga bagi laki-laki.

Pada kenyataannya, laki-laki masih memegang kontrol dalam bidang ekonomi dan politik, misalnya di kursi kabinet, militer, atau agen korporasi perusahaan profesional. Selain itu, laki-laki juga mengontrol kebijakan pada sebagian besar bidang teknologi dan persenjataan. Meskipun sekarang perempuan sudah mendapatkan ruang yang lebih besar karena gerakan feminisme, pandangan tentang laki-laki juga berubah, terutama pandangan tentang maskulinitas.

Men’s Studies dan Maskulinitas Hegemonik

Meski sudah berkembang sejak 1980an, laki-laki dan maskulinitas telah menjadi kajian bidang ilmu Men’s Studies atau Masculinity Studies and Critical Studies of Men yang diangkat sebagai kajian studi kritis. 

Kajian tersebut merupakan salah satu dari perkembangan gerakan feminisme, bahwa laki-laki mulai menggunakan kritik anti-patriarki bagi dirinya sendiri untuk menganalisis representasi maskulinitas. Salah satu ilmu yang merespon tentang maskulinitas adalah sosiologi, contohnya studi sosiologi maskulinitas yang tertarik untuk mengungkap bagaimana laki-laki dikonstruksikan dan dampak sosial apa yang disebabkan oleh perilaku laki-laki.

Selama ini perdebatan isu gender terus menjadi perhatian karena akar permasalahannya dibenturkan pada ketimpangan yang berasal dari perbedaan konsep gender di masyarakat. Gender sendiri adalah suatu sifat yang melekat pada tubuh laki-laki atau perempuan yang dikonstruksikan secara sosial maupun kultural (Mansour Fakih, 1996: 8), contohnya mengapa laki-laki biasanya diidentikkan dengan logika atau warna biru (maskulinitas), sedangkan perempuan dengan perasaan atau warna pink (femininitas).


Maskulinitas terdiri dari perilaku, bahasa, dan praktik yang ada dan hidup dalam budaya atau organisasi tertentu yang umumnya dikaitkan dengan laki-laki. Secara budaya, maskulinitas didefinisikan sebagai sesuatu yang bukan feminin dan mempunyai sifat positif dan negatif. 

Positif dalam arti ia menjadi identitas untuk laki-laki, sedangkan sisi negatifnya karena mengandung arti meliyankan yang lain, yaitu femininitas. Konstruksi tersebut bisa menyebabkan ketidaksetaraan atau diskriminasi gender yang lebih kompleks dan luas, misalnya jika dikaitkan dengan identitas dan seksualitas.

R. W. Connel dari Universitas Sydney dalam Understanding Men: Gender Sociology and the New International Research on Masculinities, menjelaskan jika pola maskulinitas berbeda-beda tergantung budaya dan latar belakang historis di wilayah tertentu. 

Sebagai contoh, mengapa kekerasan masih diajarkan dalam institusi pendidikan militer sebagai ujian maskulinitas, sedangkan yang lain memandang kemiliteran dan kekerasan sebagai sesuatu yang hina. Beberapa budaya lain menganggap homoseksual tidak sesuai dengan maskulinitas sejati, sedangkan masyarakat lain ada yang berpikir jika menjadi laki-laki sejati harus memiliki hubungan homoseksual.

Sejak 1990an, maskulinitas dianggap mengalami krisis terutama dalam problem sosial, misalnya semakin banyak laki-laki yang menderita depresi akut karena beban berat yang harus ditanggung sebagai pencari nafkah keluarga atau karena sempitnya lapangan pekerjaan. Fenomena itu kemudian diperburuk dengan banyaknya laki-laki yang terlibat dalam kasus kriminal seperti rape culture dan kekerasan.

Bagi para ahli kajian gender, salah satu kritik terhadap maskulinitas didasari pada sifatnya yang dominan dan disebut sebagai “maskulinitas hegemonik”. “Maskulinitas” dipandang sebagai serangkaian instruksi dan aksi tentang bagaimana laki-laki harus berperan sebagai laki-laki, sedangkan “hegemonik” berarti menandakan posisi otoritas dan kepemimpinan budaya yang selama ini dilekatkan dan menjadi hak privilege laki-laki atas perempuan atau gender yang lain.

Maskulinitas hegemonik bisa berubah menjadi beban dan ancaman bagi laki-laki itu sendiri. Ini bisa menjelaskan mengapa ada laki-laki yang berpura-pura tegar padahal diam-diam menangis dalam gelap setelah menonton film drama di bioskop. 

Ada laki-laki yang mengalami diskriminasi karena identitas yang dibawanya mempertontonkan sifat yang tidak maskulin sehingga menimbulkan pelecehan, konflik atau penganiayaan terhadap laki-laki yang lainnya. Beban maskulinitas itu tidak sama antara satu dengan yang lainnya karena pengetahuan dan latar belakang yang diajarkan berbeda-beda.

Produksi Maskulinitas di Media

Dalam budaya populer yang terus berkembang, media berperan penting dalam mempengaruhi bagaimana gender dikonstruksi, didistribusikan, dikonsumsi dan diawetkan. Sara Martín Alegre dalam tulisannya Arnold Schwarzenegger, Mister Universe? Hollywood Masculinity and the Search Of The New Man menjelaskan Hollywood menjadi ruang konsumsi maskulinitas ideal laki-laki Amerika yang diproduksi lewat wacana kebinaragaan (muscularity), salah satunya lewat tokoh Arnold Schwarzenegger.


Pada umur 15 tahun ia mengikuti bodybuilding dan menjadi pemenang kontes Raja Sejagat atau Mr. Universe tahun 1968. Berkat popularitasnya dalam film seperti Terminator, Total Recall, dan Predator, tubuh berotot menjadi ikon dan panutan laki-laki yang ingin terlihat maskulin. Representasi laki-laki berotot kemudian menjadi standar ideal maskulin yang juga ingin dicapai dalam film-film klasik superhero Amerika, seperti Rambo, Tarzan, atau Superman.

Sara menjelaskan jika energi yang diinvestasikan dalam kebinaragaan adalah energi yang sebenarnya dijinakkan dari seksualitas yang tidak langsung berdampak seksual pada perempuan saja tetapi berpengaruh besar pada laki-laki, baik heteroseksual maupun homoseksual.

Maskulinitas hegemonik menjadi penting karena hegemoni itu tidak hidup di dalam maskulinitas laki-laki saja, tetapi berkaitan erat dengan tatanan gender secara keseluruhan. Penampilan atletis merupakan strategi melayani kepentingan seksualitas hetero-patriarki. Tampilan binaragawan bersifat narsis. Dengan tubuh yang kekar, laki-laki heteroseksual ingin memperlihatkan dominasi sedangkan laki-laki homoseksual ingin menolak tentang wacana kebancian yang feminin dan tanda identitas maskulin yang dominan.

Sementara itu di tempat lain, gelombang Korean Pop yang digandrungi Asia menyodorkan citra laki-laki yang kurang maskulin secara visual jika dibandingkan dengan budaya Amerika. Laki-laki Korea suka memakai kostum warna-warni, make-up, dan aksesoris feminin yang terlihat mendobrak konsep maskulinitas tradisional yang hidup selama berabad-abad dalam budaya Konfusianisme. Maskulinitas demikian kemudian menghadirkan konsep baru yang disebut soft masculinities.

Representasi maskulinitas tersebut kemudian menjadi idola dan dikonsumsi di Asia, Eropa dan Amerika lewat serial drama, reality show atau film. Meskipun laki-laki Korea sebagian besar menolak diidentikkan dengan femininitas, soft masculinity adalah produk hibrid yang menggabungkan budaya patriarki Korea, Jepang dan pengaruh Barat ketika Korean Wave menjadi industri komersil yang diidolakan masyarakat. Fenomena K-Pop menjelaskan konsep maskulinitas sebagai sesuatu yang tidak natural namun artifisial yang terus berkembang.

Maskulinitas hegemonik yang cenderung bersifat ingin menguasai dan mendominasi jelas berpotensi terhadap ketidaksetaraan, bahkan bisa berubah menjadi kekerasan. Sementara itu, maskulinitas hegemonik terus diproduksi dan dipertahankan di media atau lewat institusi negara yang dapat mengancam kesetaraan gender dan kehidupan sosial.

Lalu, masihkah penting jika laki-laki selalu harus maskulin atau perempuan selalu harus feminin?

Artikel Terkait