Pernah suatu ketika seorang kawan bercerita tentang anaknya yang masih siswa sekolah dasar. "Pulang sekolah, anakku menangis. Temannya bilang dia tidak akan masuk surga," ujarnya. Lho, kenapa bisa begitu? Alasannya nyaris membuat saya tersedak. "Gara-gara anakku tidak bisa berbahasa Arab!"

Percakapan ini terjadi ketika ramai-ramainya perbincangan media sosial mengenai bahasa yang digunakan di akhirat adalah bahasa Arab. Lantaran yang menulis adalah seorang ustadz dengan popularitas tinggi, maka jadilah pendapat itu sejenis kebenaran baru. Menggelinding pula di dunia nyata.

Saya berusaha tenang. Jelas sekali dia, teman saya itu, ingin dibela. Oleh karena itulah saya berikhtiar menenangkannya. "Tenang. Di surga itu segala sesuatu ada, termasuk Google Translate. Jadi, meski kita ngomong pakai Bahasa Indonesia, yang keluar langsung Bahasa Arab," cetus saya. Teman saya itu langsung ngakak.

Memang, ada sebuah hadits dari Ibnu Abbas RA bahwa Rasulullah SAW telah bersabda,"Cintailah Arab karena tiga hal. Pertama, karena aku orang Arab. Kedua, karena Al Qur'an berbahasa Arab. Dan, ketiga, karena bahasa penduduk surga adalah Bahasa Arab." Tapi, dalam sanad-nya, hadits ini memiliki problematika.

Dalam hadits yang diriwayatkan At-Thabrani, Al-Hakim, dan Baihaqi ini, ada perawi bernama al-Alla bin Amr, yang dinilai oleh Abu Hatim dan Ad-Dzahabi sebagai pendusta. Oleh karena itulah hadits ini dianggap palsu. Wallahu a'lam bi 's-shawab. Namun, terlepas dari itu semua, kita selayaknya tetap belajar.

Dalam sejumlah forum, saya sering kali mengatakan bahwa Islam dan Arab adalah satu dan lain hal. Islam adalah agama dengan segenap ajarannya, sedangkan Arab adalah bangsa dengan segenap kebudayaannya--dan bahasa termasuk di dalamnya. Tapi, mengapa Rasulullah mensyiarkan Islam dengan Bahasa Arab?

Jawabannya pun saya sampaikan ke forum-forum itu, yakni menggunakan bahasa kaum adalah rumus kerasulan. Dalam Q.S. Ibrahim: 4, Allah berfirman," Kami tidak mengutus seorang rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya agar ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka."

Namun, dalam forum-forum itu, termasuk forum yang diprakarsai oleh kelompok mahasiswa Sastra Arab, saya tambahkan," Oleh karena itulah sebaiknya kita tidak selalu menggunakan Bahasa Arab. Kita perlu melihat siapa audiens-nya. Jika ia berbahasa sehari-hari, misalnya, alangkah lebih baik kita gunakan bahasa itu pula."

Kita selayaknya belajar banyak dari Wali Sanga, dewan wali di masa Kerajaan Demak, yang mampu membumikan ajaran langit menjadi karya-karya seni dan budaya. Sebut saja di antaranya tembang Macapat, gamelan dan pakem-pakem Karawitan, dolanan bocah, wayang kulit, pola-pola batik, aneka ritual, dan lain-lain.

Mereka berhasil menjelmakan dalil-dalil keagamaan menjadi hal-hal yang bisa dibawa pulang orang-orang ke rumah mereka untuk dijadikan keseharian. Ini adalah dakwah yang lembut dan indah. Tidak melanggengkan bantah dan debat, namun merangkul kalangan semakin luas. Bukankah dakwah semestinya begitu?

Secara pribadi, saya tidak sepakat dengan sesebutan non-muslim untuk kawan-kawan yang beragama dan berkeyakinan lain. Sebab, saya pun tak nyaman jika disebut non-kristen, non-katholik, non-hindu, non-buddha, non-konghucu, dan non-non lainnya. Saya lebih menyebut mereka calon muslim.

Ya, calon muslim. Selebihnya, saya berserah pada Allah dan kehendak-Nya untuk memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberi kesesatan kepada siapa yang Dia kehendaki. Saya berlindung kepada Allah dari kesesatan dan nafsu saya sendiri. Itulah yang saya pahami dari dakwah.

Manusia itu di wilayah proses, Allah-lah yang menentukan hasilnya. Manusia itu di wilayah dakwah, Allah-lah yang memberi hidayah. Jika pun seseorang kemudian beriman, itu bukan prestasi dakwah kita. Niscaya itu semata-mata mutlak karena izin dan pertolongan Allah. Dengan memahami ini, hidup jadi lebih damai.

Bolehlah mempertahankan diri dengan mengatakan Bahasa Arab adalah bahasa terbaik, bahkan bahasa satu-satunya yang digunakan di akhirat. Tapi, tolong bantu saja menjawab pertanyaan yang satu ini: kenapa muncul berita ada politisi yang menggunakan Bahasa Arab untuk saling berkirim sandi (dugaan) korupsi?