Lev Semionovitch Vygotski, Si Jenius dari Belarus mengambil kesimpulan berikut yang menjadi salah satu dasar pemikirannya:

Hubungan-hubungan sosial bukan sekadar salah satu faktor perkembangan psikis di antara banyak faktor lainnya, melainkan sumber dan asal muasal perkembangan fungsi-fungsi psikis anak yang muncul pertama kali dalam kehidupan berkelompok sebelum akhirnya berintegrasi dalam kepribadian si anak (Vygotski, 1931a/1983, p. 146-147, dalam Zinchenko, Yvon, Chaiguerova & Seve, 2011). 

Dasar pemikiran ini berbeda dengan pendekatan psikologi klasik dalam dua hal. 

Pertama, pendekatan klasik selalu memisahkan dunia internal dan eksternal manusia, meletakkan keduanya secara berlawanan. Namun Vygotski menunjukkan bahwa keduanya merupakan bagian proses perkembangan manusia. 

Kedua, pendekatan klasik menganggap bahwa fungsi psikis sudah terberi sejak lahir. Vygotsky menawarkan perspektif baru bahwa fungsi psikis muncul justru dalam interaksi individu dengan lingkungannya. 

Arah perkembangan manusia menurut Vygotski adalah dari aspek sosial menuju individual. Hal ini yang membedakannya dengan kebanyakan tokoh lainnya, termasuk dengan Piaget. 

Jika Piaget menekankan bahwa proses kognisi anak berkembang dari aspek individual menuju sosial, Vygotski berpendapat sebaliknya. Ia menekankan bahwa interaksi anak dalam lingkungannya berperan penting dalam perkembangan proses berpikirnya. 

Zone of Nearest Development (ZND)

Wilayah perkembangan terdekat (Zone of nearest development, disingkat dengan ZND) adalah salah satu gagasan Vygotski yang terkenal. Di dalamnya kita akan menemukan salah satu perbedaan mendasar antara Vygotski dan Piaget. 

Dalam ZND, Vygotski membagi kemampuan anak dalam tiga wilayah (zone). Satu, wilayah kemampuan anak di mana ia mampu menyelesaikan suatu tugas secara mandiri; tanpa bantuan. Dua, wilayah kemampuan anak di mana ia mampu menyelesaikan suatu tugas, tetapi dengan dibantu atau didampingi. 

Tiga, wilayah kemampuan anak di mana ia tidak mampu menyelesaikan suatu tugas meski dengan dibantu.

Wilayah yang kedua adalah yang dimaksud Vygotski dengan wilayah perkembangan terdekat (ZND). 

Ide dasar dari ZND adalah bahwa kemampuan anak dapat dikembangkan dengan memberikan tugas-tugas yang tingkat kesulitannya sedikit lebih tinggi dari yang ia dapat selesaikan secara mandiri.

Jadi kita tidak memberikan tugas dengan tingkat kesulitan yang anak sudah mampu menyelesaikannya sendiri. Kita sebaiknya memberikan tugas yang sedikit lebih sulit, untuk dapat merangsangnya secara kognitif tanpa membuatnya merasa frustrasi. Hanya dengan cara ini, kita dapat mengoptimalisasikan potensi anak. 

Dengan ZND, Vygotski ingin menekankan bahwa kemampuan kognitif manusia tidak berkembang secara tahap demi tahap seperti yang diyakini Piaget. Model pemikiran manusia tidak seperti anak tangga, model yang ditawarkan Piaget dalam teorinya. Kita tidak perlu menunggu anak mencapai level perkembangan kognitif tertentu sebelum mengajarkannya berbagai hal. 

Piaget memang berpendapat bahwa perkembangan (kognitif) mendahului pembelajaran. Tetapi Vygotski berpendapat sebaliknya, pembelajaran mendahului perkembangan kognitif. 

Oleh karena itu, proses belajar yang dimaksud Vygotski merupakan proses yang berkelangsungan. Ia sendiri mengamati bahwa anak-anak yang berhasil di sekolah tidak harus mereka yang telah mencapai kematangan kognitif tertentu yang ditetapkan dalam model Piaget. 

ZND mengajarkan kepada kita bahwa anak memiliki potensi, yang lebih besar dari yang kita duga, untuk belajar, untuk menyerap informasi. Sejak dini, anak perlu diberikan rangsangan semaksimal mungkin dalam berbagai aspek dengan tidak melampaui kapasitas mereka untuk menerimanya. 

Sebagai orang tua atau guru, kita harus peka dengan tingkat kemampuan anak, agar dapat memberikan stimulasi yang diperlukan tetapi tidak berlebihan agar tidak membuat anak frustrasi. Singkatnya, kita harus mengenali zone of nearest developpement dari masing-masing anak.

Dalam konsep ZND inilah tampak dasar pemikiran Vygotski tentang pentingnya peran orang lain (lingkungan sosial) dalam proses perkembangan anak. Orang lain ini tidak melulu orang tua atau guru tetapi juga teman sebaya. 

Dalam penerapan teori Vygotski ini, sekolah putri saya (taman kanak-kanak) membentuk kelas yang menggabungkan tiga level kelas (TK kecil, sedang, besar). 

Dalam kelas semacam ini, guru dituntut untuk peka menangkap kelebihan dan kekurangan anak pada berbagai aspek (guru perlu mengenali ZND siswa-siswinya). 

Guru memasangkan anak-anak yang memiliki kemampuan lebih dengan mereka yang kemampuannya di tugas tersebut masih terbatas. Anak akan ditempatkan dalam kelompok berbeda, bergantung pada tugas dan kemampuannya. 

Kemampuan anak di suatu tugas bisa jadi lebih rendah dibandingkan temannya tetapi ia lebih cakap dalam tugas lain. 

Anak-anak ini pun belajar dalam interaksi mereka dengan teman-temannya. Ketika teman sebaya menjelaskan dalam "bahasa anak-anak", ternyata jauh lebih efektif dibandingkan guru yang menjelaskan.  

Anak-anak berumur 4 tahun pun telah berfungsi sebagai tutor bagi teman-temannya tanpa mereka sadari. Anak-anak belajar meningkatkan kemampuannya dari teman-temannya tanpa mereka merasa sedang “belajar”. 

Selain itu, siswa-siswi sendiri termotivasi untuk menjadi cakap seperti teman-temannya. Menariknya, karena masing-masing anak tentu saja punya kelebihan masing-masing, anak-anak tidak menjadi rendah diri ketika mereka belum mampu pada tugas tertentu. Harga diri mereka justru berkembang ketika mereka membantu ibu/bapak guru untuk menjelaskan kepada teman-temannya. 

Suasana kelas menjadi interaktif dan kaya pembelajaran. Mereka tidak hanya belajar secara kognitif tetapi juga psiko-sosial. Ucapan terima kasih, saling menghargai, dan saling memuji kerap saya dengar di kelas mereka. 

Di rumah, kita pun dapat menerapkan teori Vygotski ini sejak dini pada anak-anak. Saya pribadi berupaya memperkenalkan anak-anak saya pada bentuk, warna, angka, dan lain-lain sejak mereka masih bayi. Meski mereka tentu belum memahami ucapan saya pada saat itu. 

Tetapi sebagai penggemar Vygotski, saya meyakini tidak harus menunggu anak mencapai tingkat kognisi tertentu untuk menstimulasi kecerdasannya. 

Anak-anak saya tentu tidak lantas menjadi anak jenius. Tetapi mereka senang mengeksplorasi dunianya, menemukan tugas-tugas dan aktivitas-aktivitas yang lebih menantang. 

Satu hal yang juga saya kira penting dilakukan orang tua adalah tidak membebani anak yang lebih tua dengan tanggung jawab atas adiknya. Bukan karena mereka lebih tua, mereka harus lebih mampu dalam berbagai hal, dan menjadi pembimbing adik-adiknya. 

Mereka adalah kakak, tetapi mereka bukan orang tua, mereka adalah anak-anak. 

Tiap anak memiliki aspek-aspek kecerdasan yang mungkin lebih berkembang dibandingkan anak lain. Masing-masing anak dapat membimbing saudaranya pada aspek yang mereka kuasai tanpa si kakak merasa rendah diri atau si adik jadi tinggi hati, ataupun sebaliknya. 

Peran orangtua adalah peka menangkap dan mengenali wilayah kemampuan putra-putrinya terlepas dari urutan kelahiran mereka. Karena kecerdasan tidak sekedar tingkatan, tetapi terutama justru adalah sebuah proses transformasi. 

Mari ber-Vygotski.

*Catatan : Tentu kita tidak harus menolak teori Piaget seutuhnya karena teorinya juga memiliki kebenaran dalam sejumlah aspek.