Indonesia kembali diguncang gelombang kasus covid-19 pada beberapa pekan terakhir ini. Sehingga beberapa Kota/Kabupaten yang masuk Red Zone, terpaksa dilakukan pembatasan sosial.

Ambil contoh di Bandung tempat saya berdomisili, dilakukan pembatasan aktivitas masyarakat. Harapannya bisa mengurangi akses kerumunan dan aktivitas warga yang tidak penting seperti wisata, namun akses untuk bekerja masih diijinkan. Kecuali untuk jam malam sebisa mungkin dikurangi. Meskipun saya ragu bahwa tujuan utama akan tercapai, mengingat masyarakat sudah mulai membiasakan diri dengan kondisi pandemi ini.

Berdasarkan data yang saya peroleh dari media CNN Indonesia Penambahan kasus Covid-19 di Indonesia kembali naik dengan 12.990 kasus harian dan kasus aktif yang terus bertambah.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, Jumat (18/6/2021) hingga pukul 12:00 WIB, kasus Covid-19 di Indonesia mencapai 1,963 juta orang. Total kasus Covid-19 secara nasional pun hampir mencapai 2 juta.

Kasus aktif atau jumlah pasien yang harus mendapatkan perawatan tercatat naik 4.793 orang, sehingga totalnya 130.096 orang. Dengan jumlah spesimen yang diperiksa sebanyak 132.215 spesimen sementara jumlah suspek 111.635 orang.

Jumlah yang cukup fantastik dengan jumlah spesimen yang juga ditingkatkan juga oleh Kementerian Kesehatan.  Untuk kembali menghadapi kondisi melonjaknya jumlah kasus suspek ini, maka saya ingin berbagi pengalaman saat saya menjadi salah satu pasien terkonfirmasi positif dari Virus yang sudah eksis di Indonesia sejak awal 2020 lalu.

Benar, saya terkonfirmasi positif pada awal Desember 2020. Dalam kondisi hamil tua dan akan mempersiapkan diri untuk operasi caesar karena memiliki penyulit untuk bersalin normal. Otomatis hal ini membuat tekanan bathin saat itu. Apalagi saya yang memiliki riwayat penyakit bawaan asma dan hipertensi. Yang menurut rumor yang beredar merupakan faktor utama yang punya andil untuk memperburuk kondisi seorang pasien terkonfirmasi positif covid-19.

Namun, sudah menjadi takdir saya mengalaminya, mau tidak mau saya mengikuti arahan petugas kesehatan, dari IGD, setelah semua pemeriksaan dari Darah, Foto Rontgen Paru, hingga hasil Tes Swab PCR keluar dengan hasil konfirmasi positif semua saya jalani.

Operasi caesar yang dilakukan tim dokter dengan seragam hazmat level 3, Alhamdulillaah bayi kami lahir dengan selamat tepat jam 12 siang. Namun, setelah diberikan kesempatan 5 menit untuk melihat bayi kami dari jarak 3 meter. Segera bayi dibawa keluar ruang dipindah ke ruang isolasi anak karena akan dilakukan tes swab PCR dan rontgen paru karena ada indikasi sesak nafas.

Segera setelah operasi saya kemudian diamankan dengan prosedur pengamanan pasien terkonfirmasi positif bila melalui jalan umum, dibawa ke ruang isolasi dan perawatan khusus pasien terkonfirmasi positif.

Di awal perawatan, saya cukup sering mengalami depresi karena rindu bayi dan keluarga saya. Bahkan saya mengalami pendarahan hingga sangat sering bermimpi buruk. Dengan do’a dan dukungan dari keluarga, sahabat dan orang terdekat, akhirnya saya mampu melalui kondisi terpuruk tersebut. Dukungan mereka memang sangat dibutuhkan dan sangat membantu. Ini adalah hal penting dan utama bagi seorang pasien covid.

Peningkatan Iman harus terus dilakukan. Saya mulai sering berinteraksi dengan perawat dan rekan sekamar. Saya bertanya tentang obat-obat yang harus saya minum (ada antivirus, obat hipertensi, vitamin), tentang guna obat yang selalu disuntikan kepada saya setiap jam 8 malam. Ternyata suntikan tersebut adalah pengencer darah yang gunanya membantu mengencerkan lendir dalam paru. Saya setiap kali sesak dan batuk, selalu diusahakan untuk membuang dahak tersebut.

Namun, setiap suntikan tersebut saya terima pada jam 8 malam, pada jam 10 malam perut saya akan terasa sangat sakit bahkan saya mengalami pendarahan hingga tidak bisa turun dari tempat tidur. Sangat sering meminta bantuan tenaga perawat untuk membuat hajat.

Hal kedua adalah mengamati sendiri kondisi tubuh, apakah semua obat yang diberikan sesuai dengan kondisi tubuh, apakah semakin membaik atau malah memburuk.

Setelah berdiskusi dengan dokter spesialis kandungan, harusnya saya tidak lagi mengalami pendarahan karena saya bukan bersalin normal, sehingga seharusnya saya bisa berjalan dan beraktivitas lagi setelah hari keempat. Akhirnya saya memutuskan untuk menolak suntikan pengencer darah, karena kecurigaan saya obat tersebut yang memicu pendarahan dan rasa sakit yang saya alami setiap malam. Menurut perawat saya boleh menerima maupun menolak pemberian obat.

Ternyata setelah saya tidak lagi menerima obat tersebut, malamnya saya bisa tidur nyenyak dan paginya bisa mandi dan ke toilet tanpa bantuan perawat.

Saat asma saya kambuh, saya sampaikan kepada dokter penyakit dalam bahwa  saya memiliki obat yang selalu saya gunakan namun sudah hampir habis, dokter kemudian memberi obat sejenis meski berbeda merk. Selain itu, Saya juga menyampaikan keluhan saya terhadap suntikan pengencer darah dan beliau menyampaikan bahwa akan terus memantau perkembangan saya.

Sepekan setelah dirawat kembali dilakukan tes swab, namun hasilnya masih positif. Saat itu saya kembali bersedih karena sesak dan pendarahan saya sudah berhenti tapi masih belum dibolehkan pulang karena masih positif.

Hal berikut yang kembali saya lakukan adalah menyibukkan diri dengan hal positif. Saya merapikan tempat tidur, lemari dan obat-obatan herbal saya di meja. Selain obat dari Rumah sakit, saya juga mengkonsumsi Bear Brand, Madu, vitamin C, dan herbal yang sebagian besar dibantu oleh sahabat saya, Qust Al Hindi dari Tim Ikhlaas Foundation Indonesia. Terima kasih untuk semua dukungan dan bantuan untuk saya.

Selain itu, diantara para pasien, kami juga saling menyemangati. Saya membagikan beberapa herbal yang saya miliki tapi dengan menjaga jarak tentunya. Pagi-pagi kami semua sudah mandi, merapikan tempat tidur, kemudian kami senam bersama dengan menjaga jarak. Kami terus bergerak sehingga oksigen yang masuk ke paru-paru lebih banyak. Hasil pemeriksaan oleh perawat, dengan aktivitas kami tersebut, tekanan darah, saturasi dan suhu kami jauh lebih baik daripada sebelumnya.

Kami lebih ceria, porsi makan meningkat, semua obat, vitamin kami konsumsi dan tanda vital sangat baik, menunjukkan sistem imun kami membaik. Harapan kami untuk lebih cepat sembuh, bertambah setiap harinya. Hal ini ternyata mendapat dukungan dari tim medis bertugas. Mereka ikut bahagia dengan rutinitas kami saat pagi dan sore itu.

Ternyata berpikir positif, melakukan olahraga rutin dan menebar senyum yang berusaha kami rutinkan menjadi kebahagiaan yang menular kepada semua orang baik tim medis maupun pasien. Akhirnya setelah 15 hari dirawat, saya dan seorang pasien lainnya dibolehkan pulang. Betapa bahagianya kami. Pasien lain yang belum pulang ternyata tetap melanjutkan rutinitas tersebut karena kondisi mereka pun semakin membaik.

Hasil tes swab suami dan bayi kami juga negatif. Sehingga kami diperbolehkan berkumpul kembali. Saya masih diwajibkan melakukan satu kali lagi tes swab dan hasilnya negatif. Hal ini tentunya tidak lepas juga dari dukungan dan do'a dari keluarga dan sahabat-sahabat terbaik, juga kerjasama para tim medis.

Intinya, dalam kondisi apapun, iman dan logika harus tetap jalan karena akan meningkatkan imun. Pernah jatuh atau sedih itu biasa. Namun, bangkitlah, karena Kita sendiri yang menentukan mau bahagia atau meratapi kondisi yang terjadi. Tetap semangat, tetap berpikir positif, tetap bahagia, tetap lakukan protokol kesehatan 5 M. Mari jaga diri dan orang lain.

Tetap lakukan hal-hal positif di masa pandemi ini, menjalin silaturahim via daring dengan keluarga dan sahabat, menemani anak belajar di rumah, melakukan hal-hal yang disukai bisa dengan mengembangkan hobi, maupun membantu orang lain yang membutuhkan sesuai dengan kondisi kita. 

Dulu sewaktu belum terkonfirmasi positif, setelah sembuh bahkan sampai sekarang saya masih terus beraktivitas di dunia kemanusiaan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Semoga pandemi Covid-19 ini cepat berlalu dan kita semua bisa hidup normal lagi. Aamiin.