Kehadiran Pemerintah kolonial Belanda dan kaum feodal menciptakan kesengsaraan bagi rakyat Indonesia. Akibatnya, banyak diantara rakyat yang hidup serba kekurangan-- bukan hanya itu mereka harus melawan dan bangkit dari masalah sosial, ekonomi, dan politik.

Baik nelayan dan petani, mereka bekerja untuk dirinya sendiri. Melalui peralatan yang dimiliki (seadanya), mereka berusaha bertahan hidup dengan mengkonsumsi apa yang mereka dapatkan dari hasil yang telah mereka kerjakan.

Melihat hal ini Soekarno yang berusaha memikirkan secara mendalam mengenai sejarah Indonesia. Melalui buku yang berjudul Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Cindy Adams (2011) menuliskan bahwa ketika Soekarno yang sedang sibuk dengan kegiatan politik, sehingga menjadikan ia kurang tertarik untuk pergi kuliah. Soekarno lebih memilih untuk berkeliling Kota Bandung hingga sampai pada bagian selatan kota yang notabene merupakan daerah pertanian, di mana para petani bekerja di sawah yang sempit, (Hlm. 74).

Melihat petani yang sedang menyangkul sawah seorang diri, sehingga perhatian Soekarno tertuju pada petani itu. Petani yang masih tergolong muda itu bernama Marhaen. Soekarno memaknai itu sebagai gambaran umum orang Indonesia yang bernasib malang seperti Marhaen.

Mereka adalah korban dari sistem feodal, di mana para petani sengaja diperas oleh kalangan bangsawan, dan seterusnya sampai anak-cucunya selama berabad-abad. Bagi mereka yang bukan petani tetap akan menjadi korban dari imperialisme perdagangan Belanda. Marhaen juga yang tidak mempunyai pembantu, tidak punya majikan, serta memiliki alat sendiri.

Seorang marhaen dapat didefinisikan sebagai orang yang memiliki alat-alat yang sedikit, orang kecil dengan milik kecil, hanya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Bangsa kita yang puluhan juta jiwa, bahkan sudah dimelaratkan, bekarja bukan untuk orang lain dan tidak memperkerjakan orang lain. Marhaenisme adalah sosialisme Indonesia dalam praktek, (Hlm. 75).

Marhaenisme dinilai berhasil menarik simpati rakyat Indonesia. Bahkan, marhaenisme dipandang sebagai sebuah ideologi yang kerap kali diperjuangan rakyat Indonesia yang tertindas oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Menurut Hadi (1961) dalam Marhaenisme Adjaran Bung Karno, mengungkapkan bahwa marhaenisme sebuah ideologi yang terinspirasi dengan marxisme dalam hal perjuangan kelas. Marhaenisme dalam perjuangan kelas dimaknai sebagai perjuangan antara bangsa yang dijajah dengan bangsa yang menjajah.

Soekarno (1965), sebagai seorang tokoh penggagas dari konsep Marhaenisme dalam sebauh buku yang berjudul Di Bawah Bendera Revolusi Jilid 1 dan 2.

Dalam tulisanya tersebut, Soekarno menjelaskan bahwa cita-cita dari marhaenisme adalah memperjuangkan rakyat Indonesia dalam hal ini menetang kolonialisme, imperialisme, feodalisme, dan mengusir penjajah Belanda, serta menghilangkan bentuk dari kapitalisme yang ada di Indonesia. Marhaenisme juga memandang bahwa kapitalisme merupakan penyebar kesengsaraan, kemiskinan, peperangan dan kerusakan tatanan dunia.

Pada tahun 1927, Soekarno bersama Dr. Tjipto Mangunkusumo, Budiarto, Iskaq Tjokrohadisurjo, dan Sunario mendirikan Perserikatan Nasional Indonesia, kemudian berubah nama menjadi Partai Nasional Indonesia pada Mei 1928 tujuan dibentuknya yakni memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, (Sigit Wibowo, 2005).

Menurut Baskara T. Wardaya (2008), dalam Bung Karno Menggugat! Dari Marhaen, CIA, Pembantaian Massal 65 hingga G 30 S.

Dalam studinya tersebut, bahwa Soekarno menulis sebuah artikel berjudul “Jerit Kagamparan” pada 1928, di mana pemerintah kolonial Belanda merasa was-was dengan semakin kuatnya pergerakan nasional yang mengancam keberadaan Belanda sebagai penguasa di Hindia Belanda.

Pada 1929, tersiar kabar bahwa Partai Nasional Indonesia diduga akan melaksanakan sebuah pemberontakan di tahun 1930, sehingga berdasarkan berita itu Soekarno beserta Soepriadinata, Gatot Mangkipraja, dan Maskun ditangkap oleh pemerintah kolonial Belanda pada Desember 1929, (Suhartono, 1994).

Selepas dari penjara, menurut Sigit Wibowo (2005), mengungkapkan bahwa PNI terpecah menjadi dua akibat sikap Soekarno yang radikal dan revolusioner, Soekarno membentuk partai baru bernama Pertai Indonesia (Partindo) dan Sjahrir membuat PNI-baru dengan Hatta sebagai pemimpinnya. Rupanya terciptanya Partindo dimaknai oleh Soekarno sebagai kebebasan berpolitikya, konsep Maharaenisme yang diterapkan oleh Partindo mendapatkan tempat luas dikalangan rakyat.

Keberhasilan Soekarno dan Partindo dalam menampung anggota sebanyak 20.000, membuat Soekarno harus ditahan kembali, bahkan akan diasingkan ke luar Jawa oleh pemerintah kolonial Balanda. Hal ini tentu saja karena terusiknya pemerintah kolonial mengingat Soekarno yang tak kunjung berhenti membangkitkan semangat kaum Marhaen.

Oleh karenanya, Marhaenisme adalah sebuah lambang bagi kepribadian nasional. Mengingat perlu adanya pemersatuan antar pulau-pulau untuk menjadi satu kesatuan (hegemoni) yang lebih besar. Sehingga, tidak ada lagi bentuk feodalisme, kolonialisme, imperialisme, kapitalisme baik dikalangan pribumi ataupun Barat, dan tidak ada lagi rakyat yang tertindas. Hingga pada akhirnya tercipta Indonesia yang merdeka, lepas dari belenggu penjajahan, dan menjadikan Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara yang besar di dunia.

Daftar Pustaka

Adams, Cindy. 2011. Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Jakarta: Yayasan Bung Karno.

Hadi, Asmara. (1961). Marhaenisme Adjaran Bung Karno. Jakarta : Partai Nasional Indonesia.

Soekarno. 1965. Di Bawah Bendera Revolusi Jilid 1 dan 2. Jakarta : Panitia Di bawah Bendera Revolusi.  Media Prestindo.

Suhartono. 1994. Sejarah Pergerakan Nasional: Dari Budi Utomo Sampai Proklamasi (1908-1945). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Wardaya, Baskara T.  2008. Bung Karno Menggugat! Dari Marhaen, CIA, Pembantaian Massal 65 hingga G 30 S. Yogyakarta : Galangpress.