Bukan Bayern Munich atau Borussia Dortmund. Bila Anda melihat klasemen Bundesliga hingga pekan ke-13, dua klub besar itu tercecer di peringkat keempat dan kelima. Puncak klasemen liga Jerman sedang dikuasai Borussia Moenchengladbach.

Die Borussen sampai saat ini mengumpulkan 28 poin. Mereka unggul satu poin dari RB Leipzig di peringkat ka (27). Tim yang musim 2018/2019 berakhir di peringkat kelima tersebut, sudah memenangkan sembilan pertandingan, sekali seri dan tiga kali kalah.

Sukses sementara Die Fohlen membuat orang menengok pada Marco Rose, pelatih Moenchengladbach. Pria Jerman kelahiran 11 September 1976 tersebut berhasil menyuguhkan sepakbola agreasif atraktif sekaligus, sejauh ini, menghasilkan poin meyakinkan.

Gaya Bermain Borussia Moenchengladbach

Gaya bermain Moenchengladbach bisa dilacak dari sejarah relasi Marco Rose dengan Jurgen Klopp. Medio 2002, Rose dan Klopp bermain bersama di Mainz 05. Rose sebagai bek dan Klopp strikernya. Tidak lama kemudian, Klopp gantung sepatu lalu menjadi pelatih klub tersebut.

Artinya, Klopp beralih menjadi bos Rose. Dampak Klopp pada Rose pun diakuinya. Selain Joachim Stevens, pelatihnya di Leipzig, Rose mengakui Klopp telah membentuknya kala mereka bekerjasama di Mainz. Klopp pun percaya Rose akan sukses melatih semua tim. Ia sangat mempercayai Rose.

Rose menyebut ide dasar dari permainannya adalah gairah yang meluap-luap, rasa lapar dan aktif. Saat kehilangan bola, ia ingin para pemain aktif dan banyak berlari untuk segera merebutnya. Bola harus segera dimenangkan kembali dalam garis pertahanan tinggi.

Merebut bola dalam garis pertahanan tinggi berguna untuk memperpendek jarak menuju gawang lawan. Saat menguasai bola, Rose ingin bola dialirkan secara cepat dan dinamis ke depan. Namun ia tidak terlalu menyukai umpan lambung langsung ke depan.

Tidak heran bila karakter gegenpressing ala Klopp sangat terasa dalam filosofi sepakbola Rose tersebut. Sebagaimana pengakuan bek kanan Stefan Lainer, kini Gladbach bermain makin melanyak (pressing) dan banyak memenangkan bola.

Dari 13 laga Bundesliga musim ini, formasi yang diturunkan Rose cukup variatif. Pakem yang paling sering diturunkan adalah 4-2-3-1 (lima laga) dan 4-3-1-2 (empat pertandingan). Namun, Christoph Krammer dan kawan-kawan juga pernah diturunkan dalam skema 3-5-2 dan 4-1-2-1-2 (masing-masing sekali).

Anak buah Rose segera melanyak lawan sejak garis tengah bagian depan kala kehilangan bola. Mereka mempertahankan garis pertahanan tinggi untuk merebut bola kembali secara agresif. Serangan balik dimulai sejak garis tengah bagian depan.

Tidak heran bila Alassane Plea dan kawan-kawan andal mencuri bola dari lawan, kuat dalam duel udara dan melakukan serangan balik. Kala menyerang, mereka biasa memulai dari tengah dengan operan pendek dan operan tarik.

Marcus Thuram dan para pemain lini serang lain dapat diandalkan menciptakan peluang lewat pergerakan individu. Mereka juga sangat kuat mencetak gol dan peluang lewat tendangan bebas. Khusus duet Thuram dan Plea, mereka sudah mencetak 12 gol dan 10 umpan untuk tim.

Gunter Netzer, mantan striker legendaris Gladbach, memuji kombinasi dua penyerang Prancis tersebut. Ia menyebut kerjasama keduanya luar biasa.  Menurutnya, perpaduan Thuram dan Plea adalah salah satu alasan performa cemerlang Gladbach saat ini. Penilaian Netzer tersebut tepat. Sejauh ini, whoscored.com menilai 7.50 untuk penampilan Marcus Thuram dan 7.35 untuk Alassane Plea. 

Di sisi lain, terdapat beberapa kelemahan taktis Gladbach. Dalam menyerang, para pemain masih terlalu mudah terjebak offside. Dalam bertahan, mereka sangat lemah dalam mencegah lawan membuat peluang. Kelemahan mereka juga terlihat saat mengantisipasi bola mati, serangan balik serta umpan tarik lawan.

Manajemen Tim Rose

Selain taktik, pengaruh Klopp juga terlacak pada metode Rose menangani karakter dan kualitas pemain. Klopp membentuk suasana kekeluargaan di antara para pemain. Ia membagi sepakbola menjadi 30% taktik plus 70% pembentukan tim, demikian pengakuan Pepijn Lijnders. Lijnders adalah asisten Klopp di Liverpool.

Sebagaimana Klopp, Rose meyakini sepakbola sebagai permainan tim. Ia mengakui pentingnya keahlian individual pemain. Namun kualitas individu pemain dapat bersinar bila tim bermain dengan baik. Menurutnya, keberhasilan permainan kolektif sebuah tim dapat memenangkan tim kecil kala melawan tim besar.

Sejauh ini, Rose sukses menerapkan filosofi tersebut dan mengendalikan ruang ganti pemain. Denis Zakaria, gelandang box to box muda andalan Gladbach, mengatakan Rose telah memberi semangat baru pada tim.

Menurut Zakaria, Rose datang membawa sistem dan determinasi baru. Permainan meyakinkan gelandang timnas Swiss tersebut musim ini disebabkan kepercayaan yang diberikan Rose. Bersama Rose, Zakaria optimis menerima tantangan menjuarai kompetisi Bundesliga musim 2019/2020 kali ini.

Rose mampu membuat para pemain percaya pada dirinya sendiri. Ia bisa membuat pemain tertarik pada rencananya. Meskipun pada awalnya mereka pikir tidak mungkin dilakukan. Kini para pemain Gladbach sedang membangun sesuatu bersama, demikian pengakuan Stefan Leiner.

Marcus Thuram mengungkap beberapa rincian pendekatan pelatihnya. Rose selalu menganalisis lawan-lawannya. Ia juga mengatakan apa yang diinginkan untuk diterapkan pemain di lapangan dengan detail. Metode komunikasinya mudah dipahami pemain. Rose juga pandai membangkitkan kepercayaan diri. Ia mampu membuat para pemain bertarung di lapangan untuknya.

Deskripsi Thuram atas pendekatan Rose mirip dengan gambaran metode Klopp oleh Lijnders. Klopp tahu persis apa yang diinginkan. Ia pandai menyentuh hati orang dengan tepat. Mantan pelatih Borussia Dortmund itu juga andal membangkitkan semangat pemain.  

Di lini depan Gladbach, hubungan Thuram, Plea (bersama Breel Embolo) cukup kompak. Mereka bukan hanya rekan bermain tapi juga menjalin pertemanan. Menurut Thuram, ketiganya sering tertawa bersama saat latihan dan di luar lapangan.

Keakraban itu memudahkan pengertian di antara mereka saat bermain. Gunter Netzer pun memberi kredit pada Rose. Kekompakan para pemain pastilah dikondisikan juga oleh kecerdikan dan kepekaan pelatih dalam membangun tim yang solid.   

Mental Juara Yang Belum Terbukti

Di atas segala optimisme yang memenuhi Borussia Park saat ini, mental juara Marco Rose di kompetisi papan atas Eropa masih perlu diuji. Selama beberapa musim terakhir, Lucien Favre (Borussia Dortmund), Julian Naglesman (Hoffenheim lalu Leipzig) dan pelatih lain, hanya sebatas memberi kejutan sampai tengah musim.

Pelatih-pelatih tersebut selama ini belum berhasil mematahkan dominasi Bayern Munich. Terakhir, hanya Jurgen Klopp yang berhasil mematahkan cengkraman Munich di Bundesliga pada musim 2010/2011 dan 2011/2012.

Kekalahan 2-0 Gladbach saat melawan Union Berlin (23/11), bisa menjadi lampu kuning bagi Rose. Calon tim juara tidak selayaknya kehilangan tiga poin di tangan tim papan tengah. Kekalahan tersebut tidak perlu terjadi bila mereka berkonsentrasi penuh dan punya mental juara yang tangguh.

Bila sukses di Moenchengladbach akhir musim nanti, maka Rose dapat menjadi anggota kedua dari “alumni akademi” Klopp yang sukses. Setidaknya, ada tiga pelatih yang pernah bermain di bawah atau menjadi asisten Jurgen Klopp. Pendekatan taktik mereka semua merupakan variasi dari gegenpressing Jurgen Klopp.

Mereka adalah Thomas Tuchel (Paris St Germain), David Wagner (FC Schalke 04) dan Marco Rose. Dari ketiga nama tersebut, baru Tuchel yang mengoleksi gelar juara di Jerman (DFB Pokal) dan Prancis (Ligue 1).

David Wagner belum pernah meraih gelar juara apapun di liga bergengsi. Rose memang pernah juara. Tapi itu baru sekelas juara Liga Austria bersama RB Salzburg. Sehingga Rose harus membuktikan lebih lanjut bila mau disebut pelatih kelas dunia, sejajar dengan Klopp dan Tuchel.

Sebagaimana diketahui, beberapa pelatih top dunia berhasil menginspirasi para mantan pemain dan asistennya untuk mengikuti jejak kesuksesannya. Sebagai contoh, dapat disebut nama Louis Van Gaal dan Marcelo Lippi.  

Pep Guardiola, Jose Mourinho, Luis Enrique, Frank De Boer dan Philip Cocu adalah deretan mantan pemain serta asisten Louis Van Gaal. Mereka berhasil meraih gelar di Inggris, Jerman, Portugal, Italia, Spanyol dan Belanda. 

Sedangkan tiga gelandang asuhan Marcelo Lippi kala melatih Juventus di pertengahan tahun 1990an kini menjadi pelatih jaminan mutu juara. Didier Deschamps menjadi juara dunia dan liga Prancis, Antonio Conte juara di Inggris dan Italia, sementara Zidane langganan juara di Eropa dan Spanyol. 

Jika Rose berhasil mempersembahkan gelar Bundesliga pada akhir musim nanti untuk Borussia Moenchengladbach, maka “alumni akademi” Klopp pantas disejajarkan dengan “alumni akademi” Van Gaal dan akademi Lippi tersebut.

Sumber:

  • Bundesliga.com
  • Bulinews.com
  • Fourfourtwo.com
  • Whoscored.com