Mendengar kata thrifting pasti menjadi suatu hal yang tidak asing di telinga para kaum muda di Indonesia karena tren ini sedang marak-maraknya. Namun berbeda dengan kaum lem biru atau bisa disebut dengan lempar beli baru yang mana mereka merasa masih asing dengan kata thrifting

Bagi kaum lem biru, thrifting hanya diperuntukkan bagi mereka yang mempunyai budget limited. Namun ternyata pernyataan kaum lem biru itu salah, justru thrifting ini seperti mencari harta karun. 

Kalau sedang beruntung, maka pasti akan mendapatkan barang yang bagus yang memiliki nilai yang tinggi atau bisa dibilang barang branded

Untuk mengenal lebih jauh mengenai thrifting, maka kita harus mengetahui apa sih arti dari thrifting itu? 

Secara bahasa thrift sendiri diambil dari kata thrive yang berarti berkembang atau maju. Sedangkan kata-kata thrifty sendiri dapat diartikan sebagai cara menggunakan uang dan barang lainnya secara baik dan efisien. 

Bagi para kaum muda thrifting ini dikenal sebagai kegiatan membeli atau berbelanja barang bekas yang mana barang bekas tersebut mempunyai harga yang jauh lebih murah dan tidak biasa seperti di pasaran karena biasanya barang tersebut hanya tersisa satu atau penjual barang bekas ini biasanya tidak menjual barang yang sangat mirip dengan barang yang lainnya degan kata lain barangnya limited.

Kegiatan thrifting ini memang sudah lama dikenal oleh beberapa orang, tetapi baru menjadi suatu tren yang viral pada dua tahun belakangan ini sejak adanya pandemi COVID’19 di Indonesia. 

Jenis thrifting yang paling di sukai oleh masyarakat Indonesia adalah fashion thrift. Hal ini dapat dilihat melalui gaya berpakaian para kaum muda Indonesia yang menggunakan gaya vintage dan sporty

Selain gaya berpakaian para kaum muda di Indonesia, di Indonesia juga bertebaran took-toko yang menjual baju bekas baik melalui online shop ataupun offline shop

Penjual baju bekas ini biasa disebut dengan preloved atau barang yang pernah dipakai namun dijual kembali dalam kondisi masih layak dipakai.

Para peminat thrifting ini pastinya mempunyai alasan mengapa mereka suka berbelanja baju bekas dibandingkan baju baru. Mereka mengaku bahwa mereka suka berbelanja baju bekas dibandingkan baju baru karena perbedaan harga yang cukup signifikan padahal kualitas baju masih bisa dikatakan bagus seperti baju baru pada umumnya.

Selain itu, karena thrifting sedang maraknya pada saat pandemi COVID’19 berlangsung maka sudah pasti alasan mereka suka berbelanja baju bekas karena mereka memanfaatkan uang mereka. 

Adanya pandemi ini, menyebabkan penghasilan masyarakat Indonesia menjadi berkurang, itu sebabnya sebagian masyarakat Indonesia  memilih untuk membeli baju bekas yang murah melainkan membeli baju baru yang mana keduanya mempunyai kualitas yang bagus.

Kegiatan thrifting ini ternyata berdampak baik bagi lingkungan. Kegiatan ini membantu mengurangi fenomena fast fashion yang mana merupakan istilah yang digunakan oleh industri tekstil yang memiliki berbagai model fashion yang silih berganti dalam waktu yang sangat singkat, serta menggunakan bahan baku yang berkualitas buruk, sehingga tidak tahan lama. 

Mengapa bisa dikatakan demikian? 

Karena industri fast fashion seringkali tidak memperhatikan dampak buruk terhadap lingkungan dan mengorbankan keselamatan para pekerjanya. 

Para pekerja di industri ini harus bekerja selama 14 jam per hari namun digaji rendah dan tidak ada jaminan asuransi jiwa atau jaminan keselamatan kerja pada umumnya.

Industri fast fashion menghasilkan kuantitas pakaian yang melebihi kuantitas manusia di bumi, hal ini berujung pada penumpukan sampah pakaian dan pencemaran lingkungan akibat limbah tekstil. Limbah tekstil tersebut dapat menyebabkan kerusakan yang signifikan terhadap lingkungan jika dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Dengan adanya kegiatan thrifting menjadikan para peminatnya peduli akan lingkungan. Peminat thrifting membantu mengurangi penggunaan fast fashion atau bahkan tidak menggunakannya lagi. 

Hal ini tentunya menjadi salah satu upaya untuk mengurangi polusi limbah fashion. Dengan memakai barang thrift, akan membantu aksi daur ulang dan menjadikan gaya hidup yang ramah lingkungan.

Adanya tren thrifting ini membuat kita semakin sadar bahwa kegiatan tersebut merupakan salah satu bukti dalam mengurangi fenomena fast fashion yang mana akan mencemari lingkungan. 

Selain itu kegiatan tersebut meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa tampil keren itu tidak harus mahal, mereka dapat mengekspresikan gaya berpakain mereka sesuai kepribadian mereka tanpa perlu mengeluarkan uang yang cukup banyak. 

Dengan membeli baju bekas juga dapat membantu para pengusaha kecil dalam melebarkan sayapnya di bidang fashion thrift baik itu melalui online maupun offline. 

Berbagai alasan di atas menyimpulkan bahwa kegiatan thrifting merupakan kegiatan yang positif dan pantas untuk dicoba siapa pun karena memiliki dampak yang baik bagi lingkungan maupun diri sendiri.