Beberapa waktu yang lalu, pagi ketika saya sampai di KUA, tempat saya berkantor, ternyata kantor terlihat sudah banyak orang. Padahal waktu belum menunjukkan pukul 07.30 W.I.B.

Saya bertanya kepada salah seorang di antara mereka, apakah akan ada prosesi pernikahan di kantor. Salah satu di antara mereka itu mengiyakan. 

Saya melirik sepasang orang yang saya duga sebagai calon pengantin. Saya sedikit memperhatikan keduanya, mengira-ngira usia mereka. Sepertinya keduanya masih remaja, seusia anak SMA.

Saya mengatakan kepada beberapa orang yang duduk di teras kantor untuk menunggu barang sebentar karena pelayanan kantor dimulai pukul 07.30 W.I.B. Makanya kantor masih sepi. Mereka mengangguk dengan senyum ramah yang tertutup masker.

Beberapa saat kemudian, Kepala KUA yang sekaligus sebagai penghulu dan beberapa pegawai sampai ke kantor. Setelah melakukan presensi dengan finger print, beliau mempersilakan orang-orang yang menunggu di luar untuk masuk ke ruang nikah.

Karena masih masa pandemi, hanya beberapa orang saja yang boleh masuk kantor mengikuti prosesi pernikahan. Dan orang-orang yang mengikuti prosesi pernikahan itu harus menunjukkan hasil swab antigen.

Usai prosesi pernikahan, rombongan tersebut keluar dan berpamitan. Saya sempat menanyakan kepada Bapak Kepala KUA, sepertinya pengantin tersebut masih terlalu muda. Beliau mengiyakan. Suami berusia 18 tahun sementara istri berusia 16 tahun. 

Ini berarti keduanya telah mendapatkan dispensasi nikah dari Pengadilan Agama sebagai syarat pencatatan pernikahan bagi yang berusia di bawah 19 tahun.

Duh, lagi-lagi pernikahan dini terjadi di tengah pandemi negeri ini. Saya berpikir, mungkinkah karena pandemi, anak-anak sekolah menjadikan pandemi sebagai alasan untuk berduaan tanpa kontrol orang tua? Bisa jadi. 

Di beberapa sekolah telah memberlakukan pertemuan tatap muka terbatas. Para siswa bisa ke sekolah dengan jadwal yang ditentukan dan waktu belajar yang dibatasi.

Inilah alasan paling logis kenapa pernikahan dini terjadi di tengah pandemi. Anak-anak sekolah merasa memiliki kebebasan karena pertemuan tatap muka terbatas di sekolahnya.

Alih-alih mereka pulang usai jam belajar, mereka malah pergi ke tempat-tempat yang memungkinkan aman berduaan. Sementara orang tua masih sibuk bekerja dan tidak sempat mengontrol anaknya.

***

Selama pandemi melanda negeri ini, pernikahan dini begitu marak terjadi. Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama mencatat 34 ribu permohonan dispensasi kawin sepanjang Januari-Juni 2020. Dari jumlah tersebut, 97% dikabulkan dan 60% yang mengajukan adalah anak di bawah 19 tahun. 

Ini menunjukkan betapa tinginya angka pernikahan dini di negeri ini saat pandemi.

Hukum di Indonesia mengatur batas usia minimal untuk menikah adalah 19 tahun, baik calon suami maupun calon istri sebagaimana termaktub dalam UU Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas UU Nomor 1 Tahun 1974. 

Seseorang yang menikah di bawah batas usia tersebut tergolong ke dalam pernikahan dini. Syarat untuk bisa mendaftar di KUA harus disertai dispensasi kawin dari Pengadilan Agama.

Pernikahan dini di negeri ini memang telah terjadi sejak lama. Banyak faktor yang menyebabkannya. Ada sebagian masyarakat yang meyakini bahwa perempuan yang telah menginjak usia baligh atau telah memasuki usia remaja sebaiknya lekas-lekas dinikahkan. 

Jika tidak, akan mendapat cemoohan dan julukan sebagai perawan yang tidak laku, atau bahkan lebih menyakitkan lagi, yakni dengan sebutan perawan kasep.

Budaya seperti ini menyebabkan pernikahan dini terjadi. Orang tua merasa malu bila anak perempuannya setelah baligh tidak dikawinkan. 

Saya jadi teringat dulu waktu masih duduk di kelas tiga SMP, ada satu orang teman perempuan yang tidak melanjutkan sekolah karena akan dinikahkan.

Pernikahan dini bisa terjadi karena ‘kecelakaan’. Anak usia remaja merupakan usia kelabilan pada emosinya yang berakibat pada keputusan untuk menikah dengan tergesa-gesa tanpa melalui pertimbangan yang matang.

Remaja selalu berkhayal tentang sesuatu yang terkadang tidak realistis. Mereka hanya butuh yang enak-enak dan menyenangkan.

Bayangan tersebut biasanya berkaitan dengan kebutuhan seksual. Mereka membayangkan ketika dipeluk atau memeluk pacarnya penuh kemesraan. Khayalan yang berlebihan menjadikan mereka tidak berpikir panjang.

Kenyataannya pernikahan bukanlah sekedar pelampiasan dan pemenuhan kebutuhan seksual. Tetapi lebih dari itu, persoalan yang dihadapi begitu kompleks menyangkut persoalan internal dan eksternal keluarga sehingga pernikahan membutuhkan persiapan fisik dan mental seseorang.

Saya teringat bahwa pada tahun 2010 KPAI melakukan penelitian dengan melakukan survei 4.500 responden yang terdiri dari siswa SMP dan SMA. 

Hasilnya sangat mencengangkan. 97% siswa SMP-SMA pernah menonton situs porno. 92,7% siswa SMP-SMA pernah melakukan aktivitas yang mengarah hubungan sexual. 62% pernah melakukan hubungan sexual dan 21,2% pernah menggugurkan kandungannya.

Perkawinan usia muda bisa juga terjadi karena keadaan keluarga yang hidup di garis kemiskinan. Untuk meringankan beban orang tuanya maka anak perempuannya dikawinkan dengan orang yang dianggap mampu secara ekonomi. 

Hal ini menyebabkan orang tua merasa lebih ringan menyangga beban hidup keluarganya. Syukur-syukur pasangan dari anak perempuannya bisa menyokong kehidupan keluarganya dan menyekolahkan adik-adiknya.

***

Remaja yang menikah di usia dini jadi putus sekolah. Maka secara otomatis kehilangan kesempatan meniti karier. Mereka harus siap menjadi orang tua sejak dini.

Pernikahan usia dini sangat rentan dengan perceraian. Hal ini karena secara mental mereka belum siap. Pasangan di bawah umur tidak memiliki kemampuan mengatur konflik dalam keluarga. Akhirnya perempuan menjadi orang tua tunggal karena pernikahan dini yang tidak terencana.

Pernikahan dini harus dicegah sejak awal. Setidaknya ada peran pemerintah yang lebih konkret untuk memberikan edukasi agar pernikahan dini bisa ditekan. Pemerintah juga harus memberikan edukasi reproduksi untuk anak. 

Perlu mengubah persepsi tentang pendidikan seksual karena mengingat pendidikan ini sangat perlu dilakukan sejak dini. Pendidikan seksual tidak sekedar pendidikan tentang hubungan seksual. Namun juga perlindungan kesehatan sehingga jangan dianggap tabu.

Oleh karena itu, orang tua dan pendidik untuk memulai pembicaraan edukasi seksual dari sisi kesehatan, disesuaikan dengan kebutuhan usia anak. Hal ini supaya anak merasa nyaman. Memberikan edukasi tentang reproduksi ini harus disesuaikan dengan zamannya.

 

Kabarnya pandemi ini belum berakhir. Bahkan telah diprediksi sebentar lagi akan ada gelombang ketiga. Bila ini terjadi, jangan-jangan angka pernikahan dini ikut tinggi. Kita tentu berharap hal ini tidak terjadi. Semoga.