Kerasnya ibu kota dan mahalnya kebutuhan pokok membuat masyarakat menjerit dan bahkan mereka yang mencoba ke ibu kota untuk mengadu nasib akan mengalami culture shock ketika melihat pemandangan ibu kota yang penuh dengan kehidupan yang serba mahal. 

Dengan skill dan pendidikan yang kurang memadai dalam mencari pekerjaan di ibu kota, mereka terpaksa untuk mencari jalan lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yaitu salah satunya dengan menjadi manusia silver atau silver men.

Awal Munculnya  Manusia Silver 

Silver men adalah orang-orang yang mengecat dirinya atau mewarnai seluruh badan mereka dengan pewarna zat aktif silver atau yang biasa kita sebut perak. Beberapa di antara mereka menganggap bahwa sejak PHK besar-besaran di mana Covid-19 menjadi pandemi besar, banyak dari mereka yang kehilangan pekerjaan karena hal tersebut lantaran konsumsi daya masyarakat menurun di mana pada saat itu sedang berlangsungnya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) diberlakukan akibat dari solusi pencegahan maraknya Covid-19. 

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, manusia silver menjadi salah satu solusi dalam pemecah masalah ekonomi masyarakat selama berakhirnya 2 tahun pandemi Covid-19. Silver men kerap dijumpai di jalanan ibu kota terutama ketika sedang lampu merah. 

Para manusia silver ini akan berbondong-bondong ke jalanan dan melancarkan atraksi pantomim mereka yang di antaranya mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua turun ke jalan dengan cara  menyusuri para pengendara atau bahkan hanya sekedar sebagai patung di trotoar. 

Awal mulanya sebagai salah satu komunitas sebagai kegiatan bakti sosial atau sedekah terhadap anak jalanan, yatim piatu, dan orang-orang yang membutuhkan, lalu pada akhirnya mereka tumbuh sebagai salah satu sumber penghidupan dan mata pencaharian di kalangan masyarakat. 

Terlebih lagi hasil yang didapatkan terbilang lumayan untuk menjadi manusia silver ini walaupun dampak yang diakibatkan juga berat.

Pandangan Hukum terkait Manusia Silver 

Maraknya manusia silver di ibu kota menjadi fokus baru untuk pemerintah dalam menanggulangi kemiskinan dan kesenjangan sosial yang terjadi di masyarakat. Sesuai dengan Undang-Undang Pasal 34 Ayat (1) UUD 1945 yang berbunyi bahwa “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”, bahkan di sisi lain, negara juga diwajibkan memberikan perlindungan kepada anak–anak. 

Dalam UU nomor 35 tahun 2014 disebutkan bahwa negara harus memberikan tanggung jawab untuk menghormati pemenuhan hak anak tanpa membedakan Suku, agama, ras, golongan, jenis kelamin, etnik, budaya dan bahasa, status hukum, urutan kelahiran, dan atau mental. 

Selain itu, negara dan pemerintah juga diwajibkan untuk menjamin perlindungan, pemeliharaan, dan kesejahteraan anak. Banyaknya manusia silver di sepanjang jalanan ibu kota demi meraup upah menimbulkan masalah di masyarakat. 

Banyak kasus di mana mereka membawa anak mereka pada saat mereka menjadi manusia silver, dengan begitu mereka akan mendapatkan belas kasihan dan uang yang lebih banyak daripada mereka bekerja sendiri. 

Karena bukan hanya orang dewasa saja, melainkan anak-anak dan juga balita ikut menjadi manusia silver, hal ini tentu menyalahi aturan perundang undangan di Indonesia. 

Dan juga hal ini bisa menjadi ladang mata pencaharian baru dan menerapkan mental mengemis di masyarakat jika terus dibiarkan bahkan bisa menambah ketidakteraturan pemandangan ibu kota. 

Kerap kali sering terjadi penangkapan oleh Satpol PP DKI Jakarta untuk penertiban umum, akan tetapi manusia silver ini masih marak terjadi di ibu kota, dan bahkan sudah kebal akan para petugas tersebut. Penangkapan ini dilakukan untuk menertibkan kawasan dan menjaga keindahan ibu kota.

Permasalahan Kesehatan

Manusia silver identik dengan tubuhnya yang berwarna perak. Menurut  ‘Safety concerns of lead chromate in enamel paints: A study based on the sri lankan enamel paints industry after the lead paint regulatory enforcement’, Journal of the National Science Foundation of Sri Lanka, cat yang digunakan oleh “manusia silver” merupakan cat enamel yang berwarna silver terang. Cat dengan warna terang umumnya mengandung kadar timbal (Pb) yang tinggi. 

Dilansir dari buku ‘Toxicological Profile for Lead' karya H. Abidin., dkk, timbal merupakan bahan toksik yang mudah terakumulasi dalam organ manusia dan dapat mengakibatkan gangguan kesehatan berupa anemia, gangguan fungsi ginjal, gangguan sistem saraf, otak, kulit, gangguan sistem reproduksi, gangguan darah, dan gangguan sistem kekebalan tubuh. 

Senyawa-senyawa timbal yang terlarut dalam darah akan dibawa oleh darah ke seluruh sistem tubuh, pada peredarannya, darah akan terus masuk ke glomerulus yang merupakan bagian ginjal. 

Dalam glomerulus tersebut terjadi proses pemisahan akhir dari semua bahan yang dibawa oleh darah, apakah masih berguna bagi tubuh atau harus dibuang karena tidak diperlukan lagi.

Dengan ikut sertanya senyawa timbal yang terlarut dalam darah ke sistem urinaria akan mengakibatkan terjadinya kerusakan pada saluran ginjal. Keracunan timbal yang parah menyebabkan ketidaksuburan, keguguran, bayi meninggal dalam kandungan, dan kematian bayi baru lahir. 

Sedangkan, pada pria akan menyebabkan penurunan kemampuan reproduksi sperma. Organ lain yang dapat diserang karena keracunan timah hitam adalah jantung. Dalam jurnal 'Lead (Pb) and neurodevelopment: A review on exposure and biomarkers of effect (BDNF, HDL) and susceptibility’, International Journal of Hygiene and Environmental Health, menambahkan bahwa anak-anak berisiko lebih tinggi menderita dampak cat bertimbal. 

Pada anak, jalur paparan utama terkait dengan perilaku umum anak kecil yang kerap memasukan tangan ke mulut, sehingga debu atau tanah yang tercemar timbal masuk ke pencernaan. 

Anak lebih mudah menyerap timbal yang tercerna daripada orang dewasa, dan sistem saraf yang masih berkembang pada anak-anak juga amat rawan terpengaruh dampak paparan timbal.

Solusi Permasalahan

Solusi yang ditawarkan pemerintah adalah memberikan mereka pengajaran dan pengasahan skill yang ada pada diri mereka serta mengembangkan bakat mereka untuk bidang yang lain, untuk penempatan mereka pemerintah bisa membuat mereka menjadi bagian dari festival ataupun hiburan yang layak.

Bahkan pengganti dari cat itu sendiri pun mereka bisa menggunakan baju atau pun sesuatu yang berwarna silver tanpa harus menggunakan nya di tubuh. Memang menggunakan cat lebih murah dan bahkan dengan harga yang terjangkau mereka bisa menggunakannya beberapa kali tetapi, hidup hanya sekali dan kita  tahu bahwa hal tersebut sangat berbahaya untuk kesehatan.

Mungkin sekarang cukup untuk membeli bahan zat tersebut tetapi, biaya pengobatan akan sangat mahal yang bahkan untuk menghidupi kehidupan sehari-hari pun tidak terpenuhi. 

Kesehatan merupakan hal yang terpenting untuk keberlangsungan hidup dan dengan pekerjaan yang mereka lakukan tentu harus peduli terhadap hal tersebut. Maka dari itu, hal tersebut merupakan solusi yang baik untuk tubuh mereka sendiri kedepannya.