Pengertian Bullying

Dalam Bahasa Indonesia, secara etimologi kata bully memiliki arti penggertak atau orang yang menganggu orang yang lebih lemah. 

Bullying adalah salah satu tindakan kekerasan dimana seseorang atau sekelompok orang merundung seseorang atau sekelompok lainnya yang lebih lemah. 

Bullying termasuk perilaku agresif yang dilakukan secara berulang-ulang oleh pelaku kepada korban, karena pelaku merasa mempunyai kekuasaan untuk melakukan apa saja yang mereka mau terhadap korban. 

Korban juga merasa dirinya lemah atau tidak berdaya sehingga mereka diam tidak melawan saat dibully. 

Bullying dapat terjadi di lingkungan mana saja seperti lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat, bahkan sosial media atau yang biasa kita sebut cyber bullying. 

Faktor penyebab bullying

Faktor yang menyebabkan pelaku melakukan bullying adalah mayoritas dari faktor lingkungan, dimulai lingkungan terdekat bisa saja dari lingkungan keluarga dimana pelaku meniru apa yang mereka lihat.

Selain itu juga lingkungan masyarakat pelaku akan meniru tingkah laku bahkan perkataan yang biasa mereka lihat dan dengar. 

Tidak hanya faktor itu saja, pelaku melakukan tindakan tersebut karena pernah melihat di TV atau HP, dan pelaku merasa keren setelah melakukan bullying. 

Jenis-jenis bentuk bullying

1. Bentuk kekerasan fisik

Fisik sendiri memiliki arti sesuatu wujud yang dapat dilihat oleh kasat mata. 

Bentuk bullying ini terjadi secara langsung antara pelaku dan korban dalam bentuk kontak fisik, seperti contohnya memukul, menendang, menampar, menciderai dengan sesuatu benda. 

Pelaku biasanya merasa puas setelah melakukan tindakan tersebut, sedangkan korban hanya bisa diam karena merasa lemah serta tidak dapat melawan pelaku. 

Berdasarkan pengalaman saya, saya pernah menjumpai bentuk bullying ini di lingkungan sekolah dimana pelaku memukul korban dengan asalan korban tidak mau mematuhi apa yang disuruh pelaku. 

2. Bentuk kekerasan verbal

Verbal adalah suatu bentuk komunikasi dalam bentuk perkataan lisan atau tulisan. Bentuk bullying ini bisa terjadi secara langsung maupun melalui sosial media dalam bentuk perkataan atau tulisan, seperti mengolok-olok, mengecek, mencaci maki, dsb. 

Berdasarkan pengalaman saya, saya sering menemui bentuk bullying ini di lingkungan sekolah maupun masyarakat dimana pelaku mengejek nama orang tua, memanggil dengan sebutan yang tidak pantas sampai menghina fisik seperti cebol, cungkring, gendut, dsb. 

Pelaku tidak hanya melakukan itu saja, pelaku menghasut teman yang lainnya untuk menjauhi dan tidak berteman dengan si korban. 

Tidak hanya itu, bullying verbal ini juga bisa dilakukan di jejaring sosial seperti instagram, tiktok, youtube, dsb. Pelaku bullying tersebut biasa kita sebut haters

Dampak bullying

Bullying dapat menimbulkan perasaan tidak aman bahkan depresi. Namun, efek jangka panjang bisa lebih parah karena dampaknya bersifat mental/psikis. 

Mental/psikis adalah sesuatu yang tidak bisa dilihat kasatmata, psikis juga biasa disebut kejiwaan. 

Bullying bisa menyebabkan gangguan mental/psikis dimana korban merasa depresi, stress, cemas yang berlebihan, gangguan tidur, trauma, banyak menyendiri, dsb. 

Berdasarkan pengalaman saya, saya memjumpai beberapa anak dilingkungan masyarakat yang menjauhi seorang anak lainnya. 

Mereka mencemooh, mencaci maki, dan menghina fisik, setelah saya lihat korban sering sekali menyendiri serta tidak mau bermain dengan para pelaku lagi. 

Korban merasa trauma jika diajak oleh pelaku walaupun pelaku sudah meminta maaf kepada korban, korban memilih bermain sendiri di rumah dan jarang keluar. 

Dampak bullying tidak hanya itu saja, apabila korban sudah mengalami depresi berat korban bisa saja bunuh diri. 

Seperti contohnya, kasus dimana seorang anak bakar diri di Lampung karena dihina miskin. Korban ditemukan dalam keadaan meninggal dunia dengan luka bakar sekujur tubuhnya. 

Korban melakukan hal tersebut karena korban sering dirundung oleh teman sebayanya dan dihina miskin sehingga korban depresi berat dan memilih hal tersebut untuk mengakhiri hidupnya. 

Tidak hanya itu, bullying dapat terjadi pada berbagai kalangan usia, namun yang paling sering terjadi bullying pada kalangan anak-anak. Hal ini didukung pula oleh data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang menerima pengaduan masyarakat terkait kasus perlindungan khusus anak pada 2021 sebanyak 2.982 kasus. 

Dari jumlah tersebut, yang paling banyak yaitu sebanyak 1.138 kasus anak dilaporkan sebagai korban bullying dalam bentuk kekerasan fisik atau verbal. 

Solusi bullying

Kita bisa menasehati kepada pelaku bahwa apa yang dilakukan pelaku itu tidak baik serta dapat menimbulkan dampak negatif kepada korban. 

Tidak hanya itu, kita juga bisa mengadakan sosialisasi terkait bahaya bullying, pentingnya menghargai perbedaan, serta memberi contoh kasus-kasus korban bullying yang mengalami depresi berat hingga bunuh diri, sehingga pelaku sadar dan takut bahwa apa yang mereka lakukan itu dapat menghilangkan nyawa seseorang. 

Orang tua pelaku juga dapat mengawasi lingkungan bermain pelaku serta mengawasi apa yang biasa mereka lihat di TV maupun HP.