Dosen Filsafat Y-ULB
5 bulan lalu · 185 view · 4 menit baca · Budaya 70839_19799.jpg

Maraknya Api Kebencian dan Intoleransi

Untuk apa beragama jika hanya sibuk memancing timbulnya perpecahan bernegara? Terlalu banyak mempelajari agama tanpa bimbingan pemikiran kiri yang dalam bisa menyebabkan seseorang mudah marah dan merasa kesalahan kecil harus dibesar-besarkan. 

Maraknya api kebencian terhadap perbedaan itu disebabkan kerancuan berpikir sehingga terlalu cepat menjustifikasi tanpa pertimbangan moralitas yang berkepanjangan. Kenapa kita tidak berpikir untuk cepat meredam amarah dan menebarkan benih-benih inspirasi bagi generasi muda sebagaimana tercermin dalam undang-undang negara 1945, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan meradilkan keyakinan beragama. 

Kebanyakan yang tua merasa paling mulia dan dalil harus ditegakkan tanpa pandang keberagaman. Pancasila seakan telah mati dan agama radikal telah membumihanguskannya. Sangat disayangkan apabila negara kita menuju krisis seperti Suriah dan sangat disayangkan seseorang yang dipuja sebagai pemuka agama adalah orang yang paling rasis sebagai pemicu menimbulkan kegaduhan. 

Kita telah melihat bahwa begitu banyak kemunafikan tak berotak, yaitu agama dijadikan topeng untuk meraih kekuasaan. Yang tadinya menyuarakan Islam, tak tahunya terjerat kasus korupsi besar-besaran. Bosan dan jenuh dengan semua kemunafikan tersebut. 

Tidak ada yang namanya persatuan melainkan menjunjung mati-matian satu agama di atas kepentingan negara, namun sikap untuk mengkorupsi duit rakyat terus digasak. Urat malu telah putus dan hilangnya akal sehat adalah betapa gregetnya para pendakwah yang ingin sekali mengubah Pancasila. 

Baca Juga: Aksi Bela Anu

Tidak mungkin sila ketiga persatuan Indonesia diubah menjadi persatuan intoleransi atau pada sila keempat kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan menjadi kerakyatan yang dipimpin oleh radikalisme beragama dalam khotbah/ceramah.

Kita takkan bisa menjadi toleran sepenuhnya tanpa benar-benar utuh belajar untuk menghargai kelompok minoritas. Saling bertegangan takkan memecahkan persoalan melainkan awal timbulnya perpecahan. 

Yang menjadi makanan otak kita di Facebook tiap hari adalah menjamurnya berita-berita tak berfaedah yang membikin tengsi cepat naik. Begitu mudahnya para netizen terbakar berita hoaks dan ikut-ikutan menyebarkan kebohongan di media sosial. 

Bagaimana menjadi seorang agama yang baik kalau sikap banyak menimbulkan kegaduhan? Para pemuka sibuk melancarkan aksi bela agama, namun tidak pernah kita dengar para pemuka agama untuk melancarkan aksi bela antikorupsi. Menyudahi kemunafikan itu dan berbenah diri menuju kebaikan sederhana yang bisa digapai. 

Takkan ada yang namanya ketenteraman kalau korupsi terus merajalela bak wadah yang mematikan. Takkan lari surga dikejar. Jika surga terlalu dikejar, maka api neraka yang akan datang menghampiri. Memuja surga secara berlebih adalah sirik karena yang dipuja bukan Tuhan.

Menjadi seorang yang pancasilais artinya menjadi seorang yang tidak merasa paling benar dalam menyuarakan kalimat bahwa hanya ada satu agama paling benar di antara kerukunan keberagaman. Landasan filosofis bernegara harus lebih tinggi dari sekadar mengobarkan ribuan massa yang terkumpul dan sangat mudah terjadi chaos peperangan berdarah. 

Akal sehat yang perlu dirawat adalah ketika satu agama rusuh tak menentu padahal satu agama. Dalam Pancasila,kita sepakat bahwa tidak ada yang salah dalam menganut keyakinan beragama. Semua dibebaskan untuk memilih tanpa dipaksakan. Namun, merasa paling benar adalah awal timbulnya kekerasan yang melahirkan perpecahan. 

Tak perlulah menghabiskan waktu untuk berdemo mengagungkan tuhan karena tuhan tak perlu dibela. Privasi iman yang menjadi absurditas pemikiran untuk dianalisis sangatlah jauh dari manusia dan itu merrupakan hak prerogatif penilaian dari yang maha kuasa. 

Untuk apa kita beragama jika hanya memancing timbulnya perpecahan bernegara? Sangat dangkal bila kita telanjur ikut-ikutan demo terpengaruh oleh doktrin pemikiran pendek para pemuka agama yang begitu radikal.

Nasib seorang pemikir adalah bersiap untuk dicaci-maki oleh mereka yang merasa pasti masuk surga. Seseorang akan dianggap gila hanya karena berbeda pendapat dari ketentuan agama dan itu sudah menjadi hal yang biasa. Sehingga seseorang takut dianggap gila makanya banyak orang yang tak mau berpikir tajam dan memilih hidup yang pasti-pasti saja. 

Beribadah lalu masuk surga tanpa menggunakan waktu untuk berpikir. Semuanya berawal dari pertanyaan, tanpa keraguan tidak ada yang namanya kepastian. Pertanyaan menuntun pemikiran menuju jawaban dan jawaban membawa kekhawatiran pada keyakinan. Tidak ada yang namanya pasti tanpa pertimbangan yang matang sebelum memutuskan dan filsafat menguatkan argumentasi transendental tersebut kearah pencerahan.

Ketika agama mengekang nalar, maka yang terjadi adalah pemberhentian pengetahuan. Kita telah melihat bahwa keyakinan yang berlebih tanpa kritik yang tajam menyebabkan seseorang buta perspektif efek overdosis iman, yaitu suatu penyakit mudah menghakimi tanpa mau memberi pendapat keberagaman. 

Berdikari Book telah mengingatkan bahwa "Cintai otakmu, baca buku tiap hari." Bagaimana kita tak mudah gengsi kalau yang dikonsumsi di media sosial adalah berita hoaks dan penuh kebencian semua. Ikut-ikutan sebar berita tanpa tahu benar tidaknya adalah kedunguan yang memalukan.

Perjuangan takkan mengkhianati proses untuk mendapatkan hasil yang walau tak seberapa besar namun memberikan arti bagi pengalaman hidup yang hakiki. Bisa jadi seseorang yang ateis bukan berarti ia sepenuhnya tidak percaya Tuhan, melainkan ia mencoba menguji orang yang terlalu memuja Tuhan agar keyakinannya tidak melampaui kesadaran kemanusiaan dalam berpikir.

Menurut filsuf Ade Parlaungan Nasution selaku Tuan Guru Nietzsche yang spesifik membahas filsafat Nietzsche, menyatakan bahwa dari hasil penelusuran lapangan, baik riset kualitatif, kuantitatif bahkan metafisika, ternyata di dunia ini lebih banyak pertanyaan ketimbang jawaban. Yang mengisyaratkan bahwa orang bisa mengejar ilmu sebanyak-banyaknya, tetapi itu sebuah isyarat bahwa semakin banyak pertanyaan dibanding jawaban.

Kepastian hanyalah milik pertanyaan yang tiada berujung. Meski sakit terbebani bimbang yang tak ada putus-putusnya. Mengharapkan titik pada kehidupan pertanda keinginan untuk mengakhiri cepat-cepat kehidupan itu sendiri.

Barangsiapa yang tak ingin mempertanyakan keberadaannya di alam semesta, maka jadilah ia seperti binatang yang berusaha bertahan hidup hanya untuk makan. Kita bisa saja menjadi normal tanpa harus ribut meragukan segala hal, namun akan banyak hikmah yang tak tergapai bila diri sibuk mengurus bekal pribadi menuju surga.  

Keimanan tidak cukup hanya dengan mengutamakan kepercayaan. Adakalanya di satu keadaan seseorang harus lebih mempertimbangkan, bukan harus sekadar meyakinkan. Ketika berdoa hanya sekadar pelampiasan waktu, maka mewujudkan doa dengan perjuangan adalah jalan yang terbaik. Keberagaman membutuhkan perbedaan, bukan sembarang main tunggal. 

Aksi bela keberagaman dan antikorupsi harus diadakan. Jangan hanya unjuk diri untuk menyuarakan agamaku yang paling benar.