"Aku ini calon si Raja Dangdut, lebih terkenal dari si Maradona..." bunyi lirik lagu Pangeran Dangdut, yang mengangkat popularitas biduan cilik 80-an, Abiem Ngesti.

Lagu itu dirilis di Indonesia, bertepatan dengan masa-masa keemasan Diego Armando Maradona, pemain sepak bola legendaris dunia asal Argentina.

Namanya tak hanya secara mengejutkan tercantum dalam lirik lagu dangdut, saking terkenalnya di negeri kita, buku tulis anak sekolah, termasuk saya waktu duduk di sekolah dasar, didominasi buku bergambar sampul sang maestro. 

Di situ sang maestro tampak heroik, dalam balutan kostum tim nasional Argentina, yang kemudian menjadi tim nasional favorit saya dari negara lain, selain tim nasional Indonesia era Herry Kiswanto.

Ada rasa kesal, ketika guru memerintahkan, sampul depan yang mengabadikan pose-posenya yang legendaris itu, agar ditutup rapat dengan sampul kertas. Hanya guru olahraga yang waktu itu maklum, jika saya dan beberapa kawan yang keranjingan sepakbola keberatan dengan perintah guru lain.

Guru-guru, terutama mereka yang mengampu mata pelajaran sekitar moral, agama dan ilmu pasti, dengan tegas melarang saya dan kawan-kawan untuk membiarkan buku tulis itu 'telanjang', hanya dibungkus sampul plastik, tanpa ditutupi kertas koran atau sampul cokelat, menampilkan sosok gempal kapten Argentina pasca Daniel Pasarella, bintang Argentina yang mempersembahkan Piala Dunia pertama kali pensiun itu.

Saya yang kesal pernah unjuk rasa, dengan sengaja menyampul buku saya dengan kertas bekas koran yang memuat iklan duka cita. Tentu saja, guru tersinggung dan menjewer saya. 

Apalagi setelah saya dengan jujur mengatakan, inilah bentuk protes sebab wajah Maradona beliau perintahkan untuk ditutupi. "Kecil-kecil sudah berani sama guru!" tegur keras dari guru.

Walau wajahnya telah tertutupi sampul kertas, namun spirit Maradona tetap hadir di antara saya dan kawan-kawan masa kecil yang mengidolakannya. Dalam obrolan bereferensikan surat kabar dan majalah olahraga yang terbit di masa-masa itu, Maradona tetap menjadi topik utama.

Baik saat mengobrol di tengah pelajaran berlangsung (yang lagi-lagi membuat kami, para murid dimarahi guru), juga saat kami bermain pada waktu istirahat.

**

Pelajaran olahraga adalah pelajaran yang ditunggu-tunggu pada masa-masa itu. Saya dan kawan-kawan selalu meminta kesempatan pada guru olahraga untuk bermain sepakbola, walau saat itu jadwalnya guru menyampaikan materi lain seperti atletik atau senam gimnastik.

Tiada pelajaran Pendidikan Jasmani tanpa sepak bola. Semua murid laki-laki, baik yang tampak berbakat dan piawai, maupun yang tak becus mengolah si kulit bundar seperti saya, menggiring atau menendang bola dengan perasaan seolah-olah sedang atau bakal jadi superstar bola.

Hanya murid-murid pintar ilmu pasti, yang bila ditanya cita-citanya menjadi dokter atau pilot. Murid-murid yang buruk dalam nilai ilmu pasti, sering dapat nilai 5 dalam matematika, berkhayal menjadi bintang bola seperti Maradona. Saya lagi-lagi, termasuk pada golongan ini.

**

Untuk mewujudkan cita-cita tanpa sadar akan bakat diri itu, saya bergabung dengan sekolah sepakbola di kota Bandung. Di sekolah sepakbola yang banyak mencetak bintang kompetisi perserikatan maupun galatama, di era ketua umum PSSI, Kardono, itulah, saya mendapat julukan "Maradoni".

Berkat permainan ciamik nan atraktifkah julukan itu melekat ?

Tidak. Nickname itu saya dapat lantaran bentuk tubuh saya yang gempal bulat, rambut saya yang ikal keriting, sampai-sampai menutupi mata, seperti Maradona semasa muda.

Sebetulnya ada satu kali saya mempraktikkan ilmu yang didapat di sekolah bola, dan berhasil mendekati level permainan pemain yang nomor punggung 10-nya dikeramatkan klub Napoli di Italia itu. Setidaknya, menurut saya dan tim yang saya bela.

Kejadiannya, saya ingat betul, pada saat pertandingan antar kelas semasa sekolah di SMP. Waktu itu saya mencetak gol melalui proses solo run, menggiring bola sendirian dari gawang tim sendiri hingga ke gawang tim lawan.

Gol saya saat itu menjadi penentu kemenangan tim kelas. Tapi aksi saya, sebagaimana gol tangan Tuhan, Maradona, diperdebatkan soal kehebatannya diantara kawan-kawan dan suporter tim seteru.

Kata mereka, gol saya tercipta bukan karena saya hebat, melainkan karena pemain-pemain tim lawan enggan melakukan marking, sebab jalur saya menggiring bola itu becek dan menjijikkan.

"Hebat, Ed..."kata seorang suporter tim lawan yang nyinyir mengawali nyinyirannya. Maradona sekalipun tidak akan berani atau bisa meniru aksi saya. Mandi lumpur demi gol dengan menyusuri jalur anjing atau kucing buang kotoran, di lapangan sekitar pasar, menurut para haters itu.

Cerita gol saya itu, seperti cerita gol solo run Maradona di perempat final Piala Dunia 1986 saat melawan Inggris, melegenda diantara kawan-kawan sekolah. Menjadi bahan kelakar yang membuat semua tertawa terbahak-bahak saat reuni perak.

**

Pengaruh Maradona pada masa jayanya telah menjadikan seluruh dunia keranjingan sepakbola. "Demam Bola", demikian istilah wartawan olahraga Sumohadi Marsis, dalam sebuah artikelnya pada mingguan olahraga yang kerap saya tunggu-tunggu diantarkan penjual koran, untuk mengomentari fenomena saat itu.

Demam bola gara-gara Maradona tak hanya membuat sepakbola dunia, atau kompetisi resmi di negeri kita begitu bergairah. Kompetisi dalam negeri yang tak terafiliasi PSSI, yang dikenal sebagai kompetisi antar kampung atau tarkam, ikut meramaikan demam bola di negeri kita.

Tensi kompetisi tarkam ini tak kalah tinggi dengan kompetisi resmi yang diselenggarakan PSSI. Hadiah beberapa ekor hewan ternak, yang membuat turnamennya dinamai "Domba Cup" atau "Ayam Cup", cukup membuat tim-tim yang berlaga termotivasi untuk meraih kemenangan.

Tensi yang tinggi kerap membuat pertandingan berujung pada keributan antar pemain dan bentrok suporter. Aparat keamanan seperti hansip dan kamra, alih-alih mengamankan malah kerap menjadi korban, knock out dihajar bogem mentah pemain atau fans.

Keributan itu baru mereda, ketika aparat koramil atau garnisun masuk ke gelanggang. Selain melerai, mereka juga menjaring beberapa tersangka provokator, untuk dibawa ke markas komando.

Jaman itu belum mode cukuran cepak atau plontos. Kalau ada warga yang biasanya gondrong tiba-tiba berubah botak, seperti karakter Pak Ogah dalam film boneka, Si Unyil, patut dicurigai ia baru pulang dari koramil, lantaran terciduk membuat rusuh event Domba Cup atau Ayam Cup.

**

Sekelumit ingatan itu yang berdesakan dan menyeruak ketika saya menerima kabar wafatnya, Diego Armando Maradona, pada usia 60 tahun (25/11/2020), di sela-sela menyimak hasil babak grup UEFA Champions League 2020 di laman salah sebuah situs berita olahraga.

Terbayang haru biru, keterkejutan dan perasaan kehilangan, bagi warga Argentina atau seluruh fans sepakbola seperti saya, mendengar kabar yang datang tak terduga, jelang satu tahun dunia dalam pandemi ini.El Pibe D'Oro, anak emas kepunyaan kami, demikian ia dijuluki para pengagumnya. 

Carlos Billardo, pelatih yang pernah bahu-membahu bersamanya di Piala Dunia 1986 Mexico mengatakan, pemain seperti Maradona belum tentu lahir 100 tahun sekali.

Walaupun kini dunia mengenal dan masih menyaksikan kehebatan Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, saya yang menjadi saksi era keemasan Maradona, tentu sepakat dengan apa yang dikatakan Billardo. 

Laki-laki kelahiran Lanus, sebuah distrik pemukiman kaum papa di Buenos Aires, Argentina, ini, belum ada yang menandingi. 

Maradona dengan bakat dan kejeniusannya di lapangan hijau, ditambah berbagai kontroversi seputar kehidupannya, bukan saja dianggap sebagai ikon olahraga, namun juga ikon bagi deru jaman berikut dinamika kehidupannya.

Ia hadir tidak hanya untuk sepakbola. Kelahirannya menjadi penanda sejarah sebuah generasi, dalam spektrum yang lebih luas. 

Menjangkau ranah sosial, budaya, bahkan spiritualitas. Ibarat sebuah novel, era tersebut kini sudah betul-betul sampai pada titik, dalam ending di halaman terakhir.

Gracias, Maradona. Terimakasih untuk tahun-tahun, yang kini bakal tak lekang dari ingatan. Bukan hanya dalam ingatan saya, Maradoni, dari Indonesia. Melainkan dalam ingatan "Maradoni-maradoni" yang pernah menjadi saksi betapa semaraknya dunia kita dulu, ketika sang maestro masih berjaya dan berlaga di lapangan hijau. (aea)