Suatu hari, saya dan kawan-kawan sepakat untuk datang ke acara perkawinan seorang kawan lama. Berbekal satu undangan untuk semua, kami akan memasuki gedung acara secara bersama-sama. Sayangnya, salah satu dari kami memilih menyusul belakangan karena masih ada pekerjaan yang memaksa untuk diselesaikan di kantor.

Kami menunggu beberapa menit di tempat parkir, tapi dia tak kunjung hadir. Ia malah muncul sebagai chat di grup media sosial rombongan kami. Ia mengatakan bahwa ia telah kesasar jauh dari lokasi acara. Padahal, di grup itu sudah terlampir undangan elektronik acara lengkap dengan alamatnya.”Kirimi saja lokasi kalian lewat GPS di Google Maps,” pintanya.

Menentukan lokasi dengan aplikasi Maps sudah menjadi kebiasaan bagi pengguna ponsel pintar saat ini. Walaupun kita mengantongi alamat lengkap, kita masih saja tidak bisa menemukan lokasi tepatnya. Kita mempercayakan peta satelit dari aplikasi Maps itu untuk mengetahui di mana posisi kita berada dan kemana arah yang akan dituju.

Di dalam aplikasi petatersebut, ruang dibagi menjadi banyak kotak oleh garis lintang dan bujur. Setiap ruang dikuantifikasi, diberi skala dan direduksi ukurannya lewat potongan-potongan garis lintang dan bujur tersebut.

Peta juga menyajikan simbol-simbol tertentu untuk melengkapi keterangan, yang disebut legenda. Di mana pembaca peta terbiasa untuk mengartikan simbol tersebut sebagai gunung, jalan, danau, sungai dan perairan. Warna yang berbeda juga menandakan ketinggian wilayah yang semakin berbeda.

Internet Maps ini tentu memudahkan kita saat melakukan perjalanan yang sangat jauh, ketika tidak ada satu pun manusia yang bisa kita tanyai di sepanjang perjalanan.

Peta satelit itu ternyata tidak hanya digunakan dalam perjalanan jauh saja. Di kota besar dengan aktivitas padat dan super sibuk, saat orang bergumul dengan waktu dan polusi, terkadang kita kesulitan untuk menuju alamat tertentu. Disertai pula ketiadaan kesempatan untuk bertanya rute mana yang harus ditempuh pada orang-orang sibuk yang wara-wiri di komplek perkantoran.

Kita terbiasa menggunakan aplikasi Maps untuk mengetahui lokasi yang dituju tanpa perlu bertanya kanan-kiri. Apalagi kalau desain kota sudah semakin ruwet dengan banyaknya jalur satu arah dan terbatasnya tempat penyeberangan dan ruang putar balik. Kita, sekail lagi mempercayakannya pada peta satelit ini dan memilih melakukan komunikasi secara interpersonal dengan gawai masing-masing.

Tapi, apakah hanya sebatas kebiasaan komunikasi saja yang berubah? Adakah kemungkinan di mana kebiasaan menentukan arah  menggunakan peta memengaruhi cara kerja otak kita?

Peta satelit yang diakses melalui aplikasi Maps itu sesungguhnya ialah bentuk pengembangan canggih dari peta yang sudah ada. Peta yang berwujud dua dimensi yang terhampar pada bidang datar dalam wujud kertas.

Keberadaan alat bernama peta itu, selain mengubah kebiasaaan komunikasi, juga mengubah persepsi manusia dalam memandang dunia. Ia mengubah cara kerja dan pikir otak kita dalam melihat kondisi geografis dan bentangan alam yang dilihat oleh mata.

Dahulu, para nelayan Polinesia di Pasifik mengandalkan bintang biduk di malam hari sebagai alat navigasi ke mana tujuan perahu ciduk mereka harus berlayar. Masyarakat Khmer di Indocina yang berladang di siang hari mengetahui posisi barat dan timur dari kemunculan matahari dan kepergiannya menuju malam.

Di Yogyakarta sendiri, Gunung Merapi yang jadi simbol imajiner bersama Pantai Parangtritis ialah patokan arah mata angin utara dan selatan. Serta masih banyak lagi dalam berbagai peradaban, di mana manusia menjadikan patokan benda-benda besar tersebut, yang mampu dirasakan indera mata secara cepat, sebagai pembantu untuk mengetahui posisi dan letak dirinya di tengah dunia.

Pengetahuan navigasi yang berlangsung berabad-abad itu mengalami perkembangan. Manusia yang berjumlah semakin banyak mulai mengelilingi berbagai belahan dunia yang belum terjamah. Sementara itu, navigasi berdasarkan patokan-patokan dari benda besar alam dirasakan memiliki kelemahan.

Patokan gunung, laut atau aliran sungai hanya mampu menjadi sumber pengetahuan soal arah pada kawasan tertentu yang bersifat lokal. Bintang-bintang di langit pun memiliki kelemahan karena indera mata tidak akan mampu melihat saat mendung.

Oleh karena itu, dibutuhkan wadah untuk menampung semua informasi geografis planet ini. Maka eksplorasi dan semangat pembuktian bumi itu bulat lewat pelayaran-pelayaran di awal abad 14 juga didasari oleh niat untuk menampung semua informasi geografis tersebut.

Setiap sudut dunia berusaha dibuat replikanya dalam lembar datar bernama peta. Pada masa pelayaran itulah ilmu membuat peta, kartografi, mengalami perkembangan yang sangat pesat.

Untuk menggambar posisi, letak suatu wilayah dan kontur daratan tertentu ternyata tidak gampang. Membuat gambar yang realis, tidak praktis dan malah menimbulkan kebingungan. Maka peta harus mampu menyajikan informasi sepraktis dan seefisien mungkin. Di dalam peta, ruang dibagi menjadi banyak kotak oleh garis lintang dan bujur. Setiap ruang dikuantifikasi, diberi skala dan direduksi ukurannya lewat potongan-potongan garis lintang dan bujur tersebut.

Peta juga menyajikan simbol-simbol tertentu untuk melengkapi keterangan, yang disebut legenda. Untuk itu pembaca peta sebelumnya harus mendapatkan pemahaman untuk mengartikan simbol tersebut sebagai gunung, jalan, danau, sungai dan perairan. Warna yang berbeda juga menandakan ketinggian wilayah yang semakin berbeda. Pada akhirnya peta menyederhanakan penggambaran dunia sebagai ruang tinggal bagi manusia.

Peta mengubah persepsi manusia dalam memandang relasi antara tubuh dengan ruang di sekitarnya. Manusia tidak perlu lagi menggunakan inderanya secara langsung untuk mampu mengetahui seluruh informasi geografis bumi. Cukup dengan melihat peta di bola dunia saja.

Tidak perlu pula menaiki pesawat terbang untuk mengetahui bagaimana bentukan pulau Kalimantan yang terlihat seperti anak ayam. Juga tidak perlu meyisiri seluruh Kota Yogyakarta untuk mengetahui desain kota dan titik lokasi tempat wisatanya.

Kawan saya tadi yang mengandalkan maps untuk mengetahui posisi dan tujuan, disamping telah mereduksi kemampuan inderanya dalam menentukan arah,  lewat penggunaan media aplikasi Maps itu sebenarnya juga mengamplifikasikan kemampuannya sebagai manusia dalam membaca ruang. Inderanya tidak perlu mengecap seluruh kawasan luas, cukup mengandalkan pengetahuan yang memadai untuk membaca penggunaan simbol-simbol yang ada pada peta.

Kemampuan membaca inilah yang menggeser penggunaan indera secara empiris ke arah hermeneutis yang mengandalkan kemampuan interpretatif. Kawan saya itu tidak sendiri, saat ini kita yang terbiasa menggunakan peta ditekankan memiliki aspek imajinatif.

Kawan saya yang mengandalkan aplikasi Maps itu berimajinasi ketika membaca petunjuk arah dari gawainya. Seolah ia sedang berada di atas hamparan bumi, seperti seekor burung yang tengah terbang dan mampu mengamati lanskap bumi yang luas. Begitu pula tampilan aplikasi Maps yang seolah menelanjangi kawasan di tempat kita berada. Imaji di dalam pikiran kita pun mengikuti seperti apa yang dirangsang oleh peta satelit tersebut.

Mematok posisi berdasarkan bentangan alam sudah tidak efisien lagi sehingga bisa diabaikan. Di saat kita merasa mampu melihat lanskap secara detil dan dekat, sebenarnya kita meluputkan pengamatan dari lanskap alam yang sebenarnya.