Mafhum buku bagian dari peradaban. Buku membuka tabir-tabir peradaban dari waktu ke waktu. Dahulu, orang-orang membawa buku untuk menilik kehidupan. Namun, hari ini buku punya pesaing berat yaitu alih wahana untuk menilik gejolak kehidupan di dunia. Adalah teknologi.

Dunia semakin cepat menawarkan langkah-langkah instan agar manusia dengan mudah dapat memantau kondisi kiwari dengan mudahnya. Ketuk layar pada gadget, klik dan berselancar, beribu informasi kita dapatkan dengan mudah tanpa harus kesulitan membolak-balik buku-buku yang ada di rak buku perpustakaan atau menggelontorkan uang untuk sebuah pengetahuan.

Syahdan, kita dimudahkan dalam segala hal, termasuk akses informasi pengetahuan. Walakin kemudahan itu menyelimuti diri kita, namun ada sebuah efek samping yaitu merasa jumawa dengan kemudahan akses tersebut sehingga kita tak bersusah payah agar dengan detail menguliti sebuah informasi mencapai pengetahuan yang wahid. Termasuk melibatkan buku dalam mencari pengetahuan.

Buku itu sebagai piranti komunikatif. Pembaca akan dipaksa untuk berdialog ketika memahami kata demi kata dari secarik kertas yang ada dalam perbukuan untuk mendapatkan pengetahuan. Untuk mencapai pengetahuan, Brian Clegg dengan buku gubahannya berjudul Maha Data (2021), menjabarkan bagaimana pengetahuan itu didapatkan. Ada beberapa tahapan untuk mendapatkan pengetahuan.

Clegg menganologikan menggunakan klasifikasi piramida. Adalah data, Informasi dan pengetahuan. Semua aspek yang kita lihat merupakan data. Menuju pengetahuan, kita membutuhkan banyak data dan akan kita serap menjadi kumpulan data yaitu informasi untuk nantinya kita oleh dengan rasionalitas dan konsep logika yang kita miliki untuk melahirkan sebuah pengetahuan.

Kemajuan teknologi, menyodorkan kita banyak sekali data. Komunikasi menjadi poin penting pengembangan pengetahuan terealisasikan. Kemandekan mungkin saja terjadi, bila kita selalu dibuat cukup bahkan jumawa dengan data-data yang disodorkan oleh realitas. 

Mendengar saja tidak cukup. Kita perlu membaca, menelaah dan memikirkan secara lamat-lamat atas inflasi data yang berkembang hari ini, dengan melibatkan buku. Buku tengah bergulat dengan realitas zaman yang sedang berkembang. Beberapa komoditas seperti media komunikasi telah berevolusi masuk dalam relung hidup dan menjadi kebutuhan primer yang tak terhindarkan.

Budaya Populer dan Keterasingan Buku

Menyoal budaya populer, teringat buku gubahan Neil Postman berjudul Amusing Ourselves to Death (1985). Neil Postman menyadarkan kita bagaimana ancaman hidup kiwari diakibatkan oleh industri hiburan. Industri hiburan dinilai lebih menarik menyaksikan citra yang mengasikan.

Esai Ignas Kleden berjudul Buku di Indonesia: Perspektif Ekonomi dan Politik tentang Kebudayaan (1999). Ignas membuka melalui pertanyaan, “apakah buku sudah diintegrasikan ke dalam sistem nilai budaya berbagai kelompok di Indonesia atau barangkali masih menjadi unsur asing yang sekedar ditimpakan ke atas kebudayaan-kebudayaan di Indonesia?”

Pertanyaan tersebut begitu menohok, bagaimana manusia Indonesia memaknai substansi buku di tengah gemerlap pelbagai macam kebudayaan di Indonesia. Ignas manguliti lamat-lamat bagaimana buku mengarungi arus besar kebudayaan. Terpaku gadget terpampang berjam-jam itu menyebabkan candu. Detik jam bergerak, manusia disibukan nonton lini masa berjam-jam. Beruntung bagi mereka yang mampu seimbang menyikapi aras tersebut.

Bagi Ignas, manusia Indonesia memahami buku jadi dua bagian. Memahami secara materiil dan menganggap buku sebagai aspek kultural. Secara Materiil, buku hanya dianggap seperti gelas, meja ataupun kursi. Miris bila buku yang mulia itu, dipahami seperti benda mati yang tak dapat memantik rasionalitas.

Sedangkan yang kedua, buku itu sebagai pegangan untuk dapat mengatasi kuldesak dalam kehidupan. Bagi seorang pegiat ilmu dan pengetahuan, naif bila ia hanya menggunakan kuping saja untuk mendapatkan pengetahuan. Perlu ditemani oleh beberapa buku untuk dapat lebih bijaksana mengarungi pengetahuan yang pastinya tak luput dengan buku.

Cultural Studies Menyikapi Realitas

Buku tenggelam oleh banyaknya tanda-tanda yang berkembang hari ini. Kondisi demikian mempengaruhi way of life manusia hari ini. Buku gubahan Ignatius Haryanto berjudul, Budaya Populer: Komersialisasi dan Imeperialisasi Kultural (2006), mencoba mengamati potret ABG (baca; generasi muda), meniti panggung eksistensi agar dapat diakui oleh zaman. Pengakuan itu didapat bila ia mampu eksis dengan pelbagai macam kebutuhan yang dibuat oleh pemilik modal sebagai tanda ia tidak terasingkan.

Cultural Studies (Studi kebudyaan) mencoba membaca, menafsirkan dan mengeksplanasikan kaitan antara ekonomi dan kebudayaan yang bersekongkol sehingga berpengaruh kepada manusia. Persekongkolan ekonomi dan kebudayaan itu, galibnya menyasar kepada istilah fetishisme komoditas.

Kemampuan pemilik modal itu, nampaknya membuat ekosistem berupa budaya masa. Budaya masa ini, menggiring peradaban umat manusia agar masuk dalam kesadaran yang dibuatnya. Penggunaan banyak tanda melalui iklan, simbol hingga gaya komunikasi, menggiring mereka agar seperti mereka.

Theodore Wisendground Adorno menemukan istilah tersebut sebagai fetishisme komoditas. Penggunaan tanda para pemilik modal menggiring kesadaran konsumen kepada hal lain selain buku. Ide mereka terkonstruk agar dapat merasa bahagia, bermartabat, dan terlihat elite, bila membeli barang-barang untuk kesadaran palsu (false conciussness), walaupun menggelontorkan uang begitu besar.

Buku bisa berimbas sebagai aspek fisik materiil saja. Mereka para pemegang modal, tersenyum bahagia, ketika komoditas yang terpampang saban hari di linimasa gadget mereka mampu mempengaruhi alam sadarnya diluar konteks perbukuan. Perlu  sebuah tandingan akan hal tersebut, melalui sadar aksara, dan menempatkan buku sebagai kebutuhan paten hidup umat manusia, untuk menyongsong generasi yang sadar aksarabukan hanya asal bunyi dan klik. Begitu.

M. Ghaniey Al Rasyid/ Penulis Lepas/Pegiat Lingkar Diskusi Sasadara dan Sembagi Arutala