2 tahun lalu · 1424 view · 6 min baca · Politik 62413.jpg
https://www.youtube.com/watch?v=DmMNPStSeNw

Manuver KPUD dalam Drama Debat Pilkada DKI

Apakah Ahok-Djarot Dizalimi Lagi?

"If all the world's a stage, then all the men and women merely players;" 

(Jika dunia ini adalah panggung, maka pria dan wanita di dalamnya adalah pemainnya)--William Shakespeares.

Entah, apa yang mendasari Ketua KPUD-DKI mendesain debat Pilgub DKI semalam. Sumarno mengundang 75 anggota komunitas dan meminta 4 di antaranya untuk berbicara di muka umum. Lucunya, mereka yang mewakili 75 komunitas itu adalah orang-orang yang sejak awal memang sudah "bermasalah" dengan kebijakan Ahok.

Sebagai warga negara yang TIDAK suka dibodohi PAKAI cara seperti itu, nurani saya memberontak. Sekalipun Ahok dan Djarot mampu menjawab dengan baik, mengurai solusi, dan menarik simpati dengan pengakuan kesalahan sekaligus meminta maaf dengan tulus, saya tidak bisa terima dengan desain debat yang berusaha menjegal Ahok-Djarot itu. 

Bagi saya, itu adalah cara kerdil untuk mencoreng proses demokrasi. Bagi saya, itu sama saja KPUD DKI "main belakang" dengan membuat sistem supaya petahana dikomplain dan dipermalukan di muka umum, lalu di sisi lain lawannya dipuji-puji oleh masyarakat.

Bagaimana saya bisa berkesimpulan seperti itu? 

Saya rasa, tidak hanya saya, tapi jutaan pemirsa dan netizen bisa melihat gelagat ketidakadilan dan setting-an ini dengan jelas. Bahkan Pandji (jubir Anies) pun merasakannya dengan mengatakan: “Sebenarnya pertanyaan dari komunitas ini memberatkan petahana ya. 

Semuanya komplen soal kondisi yang mrk alami. Format ini aneh juga,” katanya pada tanggal 12 April, pukul 9.39. Hanya saja, butuh bukti dan analisis yang kuat untuk menyampaikan impresi ini. 

Melalui tulisan ini, saya ingin menggunakan pisau dramaturgi oleh Erving Goffman (1922-1982). Menurutnya, orang memainkan peran khusus dalam suatu panggung. Peran inilah yang akan saya buka dalam tulisan ini. Apa yang diharapkan dari si pembuat pertanyaan dan desainer tanya jawab dengan komunitas terhadap impresi penonton. 

Peran itu muncul dalam resemble of actions mulai dari kata-kata, gesture, dan presentasi diri untuk menciptakan impresi. Ini adalah sebuah mind master untuk melakukan manajemen impresi di depan TV. 

1. Siapa tokoh yang dipilih? Penyelidikan Front stage dan back stage

Dalam proses dramaturgi tanya-jawab dengan komunitas ini saya melihat ada suatu proses akting yang luar biasa. Pertanyaan pertama adalah kenapa yang berbicara di panggung adalah komunitas ini,? Komunitas yang jelas bersinggungan dan berkonfrontasi langsung dengan kebijakan Ahok. 

Jika mau adil, kenapa tidak komunitas lain seperti komunitas guru honorer yang langsung bersinggungan dengan Anies saat menjadi Mendikbud? Mengapa bukan komunitas para karyawan bergaji rendah atau outsourcing yang kerap bersinggungan dengan pengusaha seperti Sandiaga Uno? 

Sang sutradara, sengaja menciptakan drama komunitas ini untuk langsung menghantam kebijakan Ahok yang mampu dijabarkannya dengan baik. Komunitas ini berfungsi mementahkan kebijakan Ahok dari sisi lapangan. Kata-kata seperti "kami sangat menderita," "tetapi kenyataanya, di lapangan," "apakah bapak tega?" "kami merasa drop" dan lain sebagainya menciptakan impresi negatif dalam testimonial warga. Bukan pertanyaan, tetapi lebih menjadi pernyataan retoris testimonial. Ini tentu merugikan pihak petahana.

Sebab, kelompok yang komplain ini seolah menihilkan kerja keras dan prestasi Ahok-Djarot. Pernyataan kelompok ini memiliki kekuatan untuk melegitimasi kegagalan Ahok secara umum. Jika mau adil, seharusnya KPUD DKI memilih komunitas yang berkonfrontasi dan satu komunitas yang diuntungkan. Misalnya komunitas pemulung yang diangkat menjadi pasukan oranye, atau komunitas ibu-ibu PKK di RPTRA yang mendapat kebaikan dari kebijakan Ahok-Djarot. Begitu pula dengan sisi Anies-Sandi, satu komunitas yang berkonfrontasi, satunya yang diuntungkan. 

Begitulah penampilan front stage mereka yang tampak sekali bahwa ini bukan Ahok-Djarot lawan Anies-Sandi, ini Ahok-Djarot melawan KPUD DKI dan Komunitas yang berkonfrontasi dengan Ahok-Djarot. Sungguh, memalukan sekali keberpihakan KPUD DKI. 

Secara back stage, kita perlu melihat profil mereka yang berbicara. Ternyata, wakil komunitas ini memang sudah memiliki masalah dengan Ahok-Djarot. Dari jejak digital, nama-nama orang komunitas ini sudah bersliweran sebagai komunitas yang bergabung dengan Gerindra, maupun memiliki keterbukaan atas kebencian pada Ahok. 

Misalnya Daryono, wakil komunitas transportasi yang menghadiri acara Gerindra dengan pembalap Moreno. Adapula, Sukarto, yang sempat mengatakan "Ahok arogan" di CNN Indonesia. Lalu, komunitas nelayan yang diwakili oleh Iwan yang menggugat pemprov soal Pulau F, I, dan K. 

Come on, Pak Sumarno, kami para penonton ini TIDAK Bodoh!

2. Manajemen impresi untuk mempersuasi dengan penciptaan situasi

Menurut Goffman, dramaturgi berfungsi menciptakan manajemen impresi. Dia tidak sekedar tampil dan memainkan peran. Tidak peduli jawaban petahana, tujuan dari drama tanya-jawab dengan komunitas ini adalah mengatur impresi untuk mementahkan argumen petahana dengan sendirinya. Sekalipun penjelasan petahana itu rasional dan bagus, tetapi potret "penderitaan" yang dibuat dalam tanya jawab ini yang penting untuk ditampilkan dan mengubah pendapat swing voters. 

Dramaturgi dalam tanya-jawab ini ditampilkan dalam beberapa cara. Misalnya dengan teknik "disiplin drama" yakni memastikan siapapun yang berperan di sini bisa menciptakan nuansa yang diinginkan. Perhatikan gestur Pak Daryono, dari komunitas transportasi yang duduk tegak, mengangguk penuh keyakinan saat Anies berbicara. Tetapi, saat Ahok berbicara, dia melengos, menyandarkan badan ke kursi, melipat tangan di depan dada, menggoyangkan kaki, seolah malas mendengarkan Ahok. 

Ini membantu impresi penonton untuk melihat "kebencian" atau "ketidak sukaan" tokoh tersebut pada Ahok. Bisa saja, pendukung loyal Ahok akan marah dengan sikap ini, tapi swing voters akan merasakan impresi yang sama, yakni "Ahok ngibul." 

Selain itu, impresi dengan nada dan intonasi keputusasaan dari komunitas nelayan ini juga sebuah manajemen impresi. Komunitas nelayan dihadapkan pada Anies Baswedan yang jelas diuntungkan dalam isu ini. Sebab, retorika Anies adalah tidak pro reklamasi karena membela nelayan. Di satu sisi, narasi yang berkembang untuk Ahok adalah pro pengembang. 

Ini seperti seorang murid yang mengadu pada salah satu guru "yang baik" karena dia dirugikan oleh "guru yang jahat." Bagi saya, ini sangat tidak adil dan sungguh mencoreng proses demokrasi. Meskipun, Ahok "berhasil" menggambarkan dengan baik, tetap saja, cara ini sungguh tidak sehat. 

Teknik circumspection juga dipakai. Yakni meminimalkan resiko untuk jawaban atas suatu permasalahan. Saya lihat ini terjadi pada penanya dari komunitas UMKM yang menggunakan kata "katanya" "saat ini" "pada kenyataannya di lapangan." Ini kalimat segar untuk menunjukkan problem pada status quo. 

Disambung juga dengan kata "Apa terobosan..." Jelas, OK OCE yang selama ini disebar luaskan oleh Sandi sebagai "terobosan" bagai ikan menangkap umpan. Ibaratnya, Sandi berjualan dengan tagline: "Apapun makanannya, minumnya teh botol Anu." Lalu ada orang bertanya dengan tagline yang sama, "Apapun makanannya, minumnya apa?" Wessss, langsung disambar oleh Uno, "teh botol Anu."

3. Peran sebagai "The Shill" dalam drama tanya-jawab

Ada sebuah peran yang sering dimainkan dalam dramaturgi yakni dengan sebutan tokoh "The Shill." Ini adalah peran dengan berpura-pura menjadi bagian dari suatu kelompok yang umum, padahal sebenarnya mereka adalah anggota kelompok yang ingin menampilkan narasi tertentu yang berlawanan. Dalam hal ini, saya melihat wakil kelompok komunitas ini seperti "The shill." Mereka seperti bagian dari kelompok luas yang diundang sebagai penonton, padahal mereka adalah aktor yang memiliki agenda oposisi bagi petahana. 

Tujuannya adalah menciptakan rantai reaksi soal validitas data dan argumen petahana yang tidak dibenturkan dengan statistik, tapi emosi, rasa, dan komplain. Saya rasa dalam masa injury time ini, emosi adalah segalanya. Itulah sebabnya, kedua cagub dan cawagub pun berusaha tidak terlalu frontal menyerang satu dengan yang lain. Sayangnya, serangan frontal itu datangnya justru dari komunitas yang diundang oleh KPUD DKI. 

Sebagai warga negara yang tidak suka pembodohan dengan setting-an curang seperti ini, wajar jika saya maupun jutaan pemirsa debat tanah air menaruh curiga pada KPU D DKI yang secara vulgar menampakkan keberpihakannya melalui setting seperti ini

Untungnya, Ahok-Djarot bukan Nabila Syakieb yang nangis bombay waktu Hello Kittynya direbus orang jahat, atau Marshanda yang menangis memohon pertolongan ibu peri. Untungnya mereka berdua itu BADASS, yang tidak menyerah pada perlakuan antagonisme sistemik semacam itu. 

Mereka seperti Sherlock Holmes dan Dokter Watson yang berusaha melawan mind master James Morriarty. Morriarty yang berusaha membunuh Sherlock melalui tangan dan mulut orang lain, bahkan wong cilik

Siapa Morriarty disini? Tebak sendiri.  

Pesan saya hanya satu: LAWAN!

Artikel Terkait