Penulis
1 minggu lalu · 933 view · 3 menit baca · Politik 74839_63646.jpg
TribunNews

Manuver AHY

Meski dalam rangka Idulfitri, kehadiran AHY dan Ibas ke rumah Megawati bukanlah kunjungan biasa. Silakan membantah itu bukan kunjungan politik, namun tetap saja tidak bisa dijauhkan dari politik. 

Setelah beberapa kali ketemu Jokowi, AHY tampaknya harus mendapat restu dari 'ratu' politik. Megawati merupakan tokoh penting dalam koalisi Jokowi-Ma'ruf Amin.

Mantan Presiden sekaligus Ketua Umum PDIP itu merupakan tokoh yang masih disegani. Faktanya, Jokowi dan istri juga mengunjungi Megawati setelah kunjungan AHY. 

Masih belum jelas apakah Megawati yang pernah merasa dikhianati SBY akan menerima AHY dalam koalisi. Pasalnya, Partai Golkar dan Hanura mulai bersuara soal Demokrat. Pertimbangan masa lalu dan suara-suara parpol koalisi tampaknya masih menghambat AHY.

Umumnya mereka 'mencium' keinginan AHY pada 2024. Pada saat itu, semua parpol koalisi Jokowi-Ma'ruf pasti ingin kader mereka yang maju sebagai capres atau cawapres. 

Mereka juga ingin menempatkan kader tersebut di dalam kabinet Jokowi-Ma'ruf jika hasil MK tetap memenangkan Jokowi-Ma'ruf. Megawati juga tak ingin kembali tertipu. Pasalnya, SBY dianggap oleh Megawati sebagai pengkhianat saat nyapres 2004.

Bisa jadi AHY akan memainkan hal yang sama. Masuk dalam kabinet Jokowi-Ma'ruf dan pada saat yang tepat akan mundur serta memainkan playing victim. Hal itulah yang masih menjadi pertimbangan Megawati. 

Ia sudah membaca gelagat tersebut. Apalagi keinginan nyapres AHY begitu jelas. Sejak mundur dari TNI, publik sudah membaca arah politik SBY dan anaknya.


Manuver AHY yang telah dimulai sejak pertemuan dengan Jokowi membuat Megawati sedikit hati-hati. Pasalnya, parpol koalisi Jokowi-Ma'ruf hari ini memiliki hubungan baik dengan SBY. 

Mereka pernah menjadi bagian dari pemerintahan SBY. Sebut saja partai Golkar, PPP, PKB. Golkar dan PPP yang menyimpan dendam atas ditangkapnya Ketua Umum partai mereka pasti dengan mudah berbalik arah. 

Kekuatan AHY nantinya juga akan didukung PAN, bahkan bukan mustahil PKS juga akan bergabung pada 2024. Itu artinya, PDIP hanya akan bersama Nasdem dan kemungkinan ditambah Gerindra. 

Dengan demikian, pertarungan 2024 mirip pertarungan 2004. Hal itulah yang mengganggu Megawati sehingga wajar bila wacana memasukkan Gerindra dalam kabinet sempat dilontarkan Moeldoko.

Ketimbang Demokrat, Megawati lebih senang bersama Gerindra dalam koalisi Jokowi-Ma'ruf. Peluang ini mungkin saja terjadi: Gerindra masuk dalam kabinet dan meninggalkan partai Demokrat. 

Bagi Megawati, lebih nyaman dan aman bersama Gerindra. Mereka sebelumnya pernah berkoalisi. Megawati kemudian yang ingin pisah dari koalisi tersebut. Peluang bersama kembali masih sangat mungkin. Hanya itu peluang keduanya bisa nyapres pada 2024.

Duet PDIP-Gerindra ditambah Nasdem mungkin terjadi lagi pada 2024 apabila nantinya AHY sukses masuk dalam kabinet. Bila AHY gagal masuk kabinet, maka peluang nyapres 2024 bisa dibilang tertutup meski tak mustahil. 

Bila AHY sukses masuk kabinet, hal pertama yang akan terjadi ialah koalisi Jokowi-Ma'ruf akan terpecah. Elektabilitas AHY akan makin naik, dan Golkar maupun PKB akan bersiap-siap mengajukan cawapres kepada SBY.

SBY nantinya akan terus bersafari politik guna meyakinkan mantan partai koalisinya yang dahulu pernah bersama dalam pemerintahan. Kemungkinan PKB merupakan partai pertama yang akan keluar dan mendukung AHY nyapres. 

Selanjutnya, diikuti PPP dan PAN. Barulah kemudian Golkar. Komposisi ini akan membuat AHY sangat kuat pada Pilpres 2024.


Lagi-lagi, hal itu sangat tergantung dari kelihaian AHY 'merayu' Megawati. Sukses menaklukan Megawati berarti AHY selangkah lebih maju untuk meraih jabatan menteri dan akhirnya nyapres 2024. 

Jalan menuju nyapres harus dimulai AHY sebagai menteri sebagaimana ayahnya (SBY). Ingin meniru Jokowi, tapi sayang gagal di Pilkada DKI Jakarta. Dengan situasi politik yang masih panas, Demokrat bisa 'jual' jasa.

SBY bertugas menaklukkan Prabowo agar mau berkompromi dengan Jokowi. Jasa ini pantas diberikan imbalan jabatan menteri.

Tapi apakah Megawati atau Jokowi semudah itu memberikan kekuasaan pada Cikeas? Kesalahan hari ini akan berimbas PDIP kembali menjadi oposisi selama 10 tahun. Tentu bukan yang diinginkan PDIP. Mereka sudah pernah merasakan hal itu. 

Solusinya, kader Demokrat akan masuk kabinet, namun bukan AHY atau Ibas. Banyak kader Demokrat yang mampu dimasukkan dalam kabinet Jokowi-Ma'ruf. Skenario ini bila memang Jokowi-Ma'ruf nantinya yang dilantik. 

Bila Prabowo-Sandi yang dilantik, maka AHY bisa gugur sebelum berkembang, mengingat nama Sandiaga Uno dan Anies Baswedan yang akan muncul dalam pilpres 2024. Kita tunggu manuver AHY lainnya. Meskipun semua manuver atas instruksi ayahnya.

Pertarungan perebutan jabatan menteri dan setingkat menteri tak kalah panas dengan pilpres. Lihat saja suara 'ketakutan' Partai Golkar dan Hanura terkait manuver AHY. Mereka takut jatah menteri Demokrat lebih banyak ketimbang partai koalisi yang selama ini berkeringat. 

Maklum, nama besar SBY dan sepak terjangnya membuat mereka ketar-ketir. Itulah politik, soal kuasa di atas segalanya. Karenanya, jangan pernah fanatik terhadap tokoh politik atau parpol demi kebaikan diri sendiri maupun bangsa dan negara.

Artikel Terkait