Sepi yang kulewati bukan sepi yang engkau alami.
Engkau tak cukup kuat memahami isi pikiranku.
Terlebih tindakan yang acap kali keluar dari harapanmu
sekadar memahami pilihanku yang merisaukanmu
bahwa segalanya bukan yang terbaik.
 
Tak apa aku ini jika engkau mengataiku
seperti pembantu rumah tangga
yang patuh dengan pekerjaannya,
—misal, melap dan menyusun apa saja yang berantakan.
Aku melakukan kedua hal itu dan menambahkan hal lain
yang kian membuatmu risau mengenaiku.
 
“Bertahanlah untuk tidak mengucilkanku.
Aku memiliki upaya untuk mencari segala hal yang belum kuketahui
demi memahami apa yang sedang ingin kutempuh.”
 
Engkau sering mengeluh, tapi aku ingin tetap membuatmu tabah.
Meski, aku sendiri sulit menjamin semuanya bakal
bertahan hingga pengujung tahun ini
engkau tumpahkan segala kemuakanmu.
Karena, engkau pasti tahu—perayaan
bukan semata-mata mencari keramaian.
Sebab, sepi yang ingin kulewati
bukan sepi yang engkau alami.
 
Demi segala yang kupahami darimu,
aku selalu kesulitan membuatmu yakin,
bahwa aku sedang berjuang menghapal
judul buku yang membuat Antonio Magliabechi
betah menemukan sepinya.
 
Makassar, 2016