Manuskrip merupakan karya tulisan tangan atau naskah kuno. Manuskrip biasanya bermedia kertas, kayu, bambu, kain, daun, dan lain sebagainya. Seperti halnya manuskrip yang dimiliki keluarga kami bermedia kertas, kertas-kertas yang sudah terbentuk dalam suatu buku panjang.

Manuskrip yang kami punyai bukan hanya dalam satu buku panjang. Namun, ada banyak buku panjang. 

Tapi, buku-buku panjang ini banyak yang sudah terpisah-pisah, bercerai-berai, dan saling kehilangan halaman satu sama lainnya. Sehingga, menjadi tumpukan kertas-kertas naskah. Jadi, hanya beberapa manuskrip yang masih utuh dan yang lain merupakan lembaran-lembaran kertas yang kehilangan bentuknya.

Ini mungkin dikarenakan karena kertas-kertas atau buku-buku panjang tadi telah berumur beberapa puluh tahun yang lalu. Kakek kami, Sang Imam yang menulis naskah ini telah meninggal sejak tahun 1952. 

Menurut Ana, Dosen Arkeologi Unhas, bahwa sesuatu yang telah berumur lebih dari lima puluh tahun sudah bisa dikategorikan sebagai benda sejarah dan barang langka. Maka, bolehlah aku menyebutnya dengan “Kitab Sang Kakek”.

Naskah kuno itu telah disimpan turun-temurun oleh nenek dari ibuku sebagai anak Kakek kami. Kini, diambil alih disimpan oleh ibuku. 

Dari cerita ibuku, naskah-naskah itu atau kitab-kitab itu dulunya disimpan pada langit-langit dekat atap rumah. Rumah nenek adalah rumah panggung. Rumah yang terbuat dari kayu yang mana di bagian atasnya sebelum langit-langit terdapat ruangan yang biasanya dibuat sebagai gudang, tempat barang-barang.

Kemudian, sejak terjadi peristiwa Andi Selle. peristiwa ekspansi (suku) Bugis atas (suku) Mandar di Mandar, Sulawesi Barat, seperti berperang dengan saudara sendiri (kami suku yang bersaudara, bertetangga), naskah-naskah itu lalu tidak terjaga dengan baik lagi. 

Waktu itu nenek juga ikut pergi mengungsi meninggalkan rumahnya tapi kembali setelah situasi aman. “Kitab-kitab” itu sudah hilang sebagian dan beberapa sengaja dirobek oleh orang-orang untuk menjadi jimat.

Terang saja, sang penulis kitab ini telah dianggap sebagai wali di daerah ini. Apalagi, naskah itu sendiri menurut orang-orang adalah tulisan orang sakral yang ditulis dengan bahasa Arab serang dan aksara lontara Bugis kuno. 

Bahasa Bugis telah menjadi bahasa bersama dan dominan. Kitab ini menjadi sesuatu yang sakral dan suci bagi sebagian orang. Dalam bahasa Mandar, kitab itu disebut sebagai sebagai lontara bilang’.

Ketika nenek kami meninggal dunia, keluarga inti terutama ahli warisnya, anak-anaknya termasuk ibuku memutuskan untuk membuka lemari nenek dan membagi harta warisannya untuk digunakan bagi kemaslahatan umat. Dan harta yang paling berharga yang telah disimpan nenek dalam lemari menurutku adalah manuskrip-manuskrip kakek. Nenek telah menyimpannya baik-baik dalam lemari bajunya dengan membungkusnya pada kain putih.

Manuskrip yang kini sudah disimpan oleh ibuku pada tempat khusus yang baik, benar, dan aman menurutnya. Aku juga memberinya pengawet silica yang biasa kudapatkan dari tas yang baru dibeli. 

Namun, ada hal yang membuat penasaran, apa sih isi kitab-kitab kakek ini? Apa saja yang telah ditulis beliau? 

Ibuku bisa membaca lontar dan bisa berbahasa Bugis. Beliau pernah membacanya untukku, namun hanya sebagian kecil. Tidak banyak yang beliau bacakan karena katanya beliau belum punya waktu untuk itu.

Tapi, yang jelas intinya, manuskrip itu berisi catatan Sang kakek atau jurnal pribadinya. semacam buku diari yang berisi perjalanan hidupnya selama menjadi Imam di Mandar, dan menjabat sebagai kadhi, suatu gelar pengurus atau menteri Agama pada kerajaan sewaktu beliau di Mamuju.

Lalu, aku membuka salah satu kitab dan meminta seorang keluarga membacanya. Untungnya, kami di keluarga tidak punya aturan khusus dalam membuka dan membaca kitab  atau naskah kuno seperti di tempat yang lain yang harus memotong kerbau terlebih dahulu.

Ada juga aturan di tempat lain, seperti harus keturunan langsungnya yang bisa membuka dan membacanya. Hal terpenting adalah niat untuk membacanya, maka hanya berdoalah yang kami lakukan, mengirimkan beliau Al Fatihah.

Kebetulan keluarga tadi, Rajab, bisa membaca huruf dan menulis lontara. Lagi pula dia bisa berbahasa Bugis walau sedikit-sedikit. Dari hasil membaca Rajab, dari satu kitab saja (lembaran-lembaran yang tidak utuh), isinya sangat luar biasa menurutku.

Dari jurnal pribadi Sang kakek, banyak petuah-petuah atau pesan-pesan penting dalam menjalani kehidupan. Namun, banyak juga cerita-cerita yang membahas; 1. Silsilah gurunya, 2. Ada yang menyurati Sang kakek meminta pendapat tentang pernikahan Raja dan budaknya, 3. Seseorang yang dipenggal kepalanya, 4. Sejarah perang Bone dan Mandar yang juga dicatat oleh beliau, 5. Sejarah Raja Mandar, dan lain sebagainya.

Rasanya, penasaran sekali untuk bisa juga membacanya dan mengetahui isi kitab yang lain. Maka, mulailah aku belajar huruf lontara Bugis dan bagaimana membacanya. 

Aku juga mulai berusaha mencari teman yang bersuku Bugis untuk belajar bahasanya. Aku cukup menyesal, dulu ketika punya teman Bugis tidak memanfaatkan belajar bahasa Bugis dengan berkomunikasi lewat bahasa daerah mereka.

Pilih Mana?

Lama-lama aku miris melihat manuskrip-manuskip itu. Kertasnya makin hari makin kuning, dan jika tidak hati-hati menyentuhnya akan cepat rusak dan hancur. Dan yang paling membuatku sedih, ada lembaran-lembaran yang sudah bisa menjadi serpihan-serpihan kecil ketika dipegang.

Aku sebenarnya sudah berusaha mengantisipasi “keberlangsungan hidupnya naskah ini” dari “kerusakan kertasnya sendiri”. Dengan cara, aku menyecannya sendiri, memfotonya dengan kamera digital, dan memfotocopinya walau baru sebagian. Namun, hasilnya memang belum bisa benar-benar bagus dan terang sesuai dengan aslinya. Ada beberapa tulisan yang tidak jelas terbaca.

Lalu, suatu hari ketika membuka facebook (FB), dan Instagram (IG), aku mendapatkan informasi bahwa ada lembaga sebut saja “Ocean” yang bisa membantu mengonservasi naskah dengan cara mendigitalisasinya. Maka, mulailah aku berburu informasi tentang mereka.

Aku menghubungi mereka via pesan di IG. Kemudian, terciptalah kesepakatan jika mereka akan datang ke Sulawesi Barat pada waktu yang telah dijadwalkan karena mereka telah mempunyai jadwal untuk mengonservasi naskah ke seluruh Indonesia.

Aku mendapat giliran di awal bulan April. Namun, sebelumnya, Ocean punya tim khsusus di setiap provinsi (pulau). Salah satu tim menemuiku di Makassar untuk melihat apakah aku benar-benar punya naskah kuno tersebut.

Di awal bulan April, Ocean pun datang. Mereka adalah tim yang terdiri dari beberapa orang yang datang dari Jakarta dan beberapa orang datang dari Makassar. Hari itu, aku pun mengeluarkan naskah dan menggelarnya seperti jualan di karpet ruang tamu. Beberapa manuskrip terlihat utuh dalam buku panjang dan lainnya hanya berupa serakan-serakan kertas.

Mereka pun mulai mengambil foto pada momen pertemuan itu dan foto manuskrip tadi. Sebentar lagi, mereka akan menyulap ruang tamuku menjadi studio naskah. 

Namun, di saat tim mulai mengambil peralatan perang, alat untuk mendigitalisasi manuskrip berupa kamera khusus, lampu, laptop, dan lain sebagainya. Aku dan tim yang lain dari Makassar sempat tarik-ulur untuk jadi-tidaknya aku mendigitalisasi seluruh naskah tersebut.

Masalahnya, ketika aku tahu jika setelah naskah digitalisasi, otomatis juga data (naskah) ini akan langsung open access untuk semua orang. Artinya, bisa secara mudah diambil di internet. 

Aku jadi bingung sendiri. Di satu sisi, aku ingin naskah ini semua terjaga, dan isinya bisa dibaca dengan cara digitalisasi. Namun, di sisi lain, aku yang sedang punya proyek penelitian tentang Sang Kakek, takut keduluan orang lain melakukan penelitian duluan karena mudah mendapatkan aksesnya pada internet.

Ketika ibuku juga tahu, tentang masalah open access tadi, beliau juga tidak setuju. Beliau menyarankan untuk mendigitalisasi satu naskah saja. Mungkin beliau takut karena ini adalah warisan yang sangat berharga. Beliau juga tidak mau kalau misalnya nanti setelah dibaca, di dalam naskah terdapat ilmu yang akan disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Aku mengirim chat via WA ke Ami, sepupuku yang juga peduli pada manuskrip Sang Kakek. Dia mengusulkan untuk digitalisasi saja semuanya. Alasannya, naskah akan terjaga, dan akan banyak orang yang membantu membacanya. 

Tapi, pertanyaanku, bagaimana cara mereka membantuku? Kalau aku saja tidak mengetahui siapa saja yang mengakses data naskah itu?

Akhirnya, hari itu, naskah yang aku berikan untuk digitalisasi hanyalah satu. Walau, aku sendiri sedikit kecewa karena awalnya aku berharap mereka akan bisa membantu mendigitalisasi dan menyimpannya terlebih dahulu, sebelum dibagikan di website mereka karena aku ingin menelitinya terlebih dahulu.

Namun, itu tidak bisa. Aku pun segera menandatangani kesepakatan MOU-nya yang telah disodorkan. Di sisi lain, mereka pun mungkin juga kecewa, karena sudah jauh-jauh, naskah yang digitalisasi juga cuma satu. Aku pun menulis status di WhatsApp (WA) untuk meminta pendapat orang lain secara tidak langsung. Nanti kalau mereka bertanya, baru diberikan pandangan apa yang telah terjadi.

Aku menulis begini; “Pilih mana? A. Naskah digitalisasi tapi diopen akses ke semua, B. Naskah tidak digitalisasi tapi rusak sendiri di tempatnya?”

Namun tidak banyak yang menanggapinya. Hanya ibuku yang membesarkanku, katanya, kita akan menyecannya sendiri dan mengonservasinya sendiri. Jadi, aku bisa tenang untuk mencari waktu yang tepat untuk membacanya dan menelitinya.

Perlukah Semua Digitalisasi?

Ketika mengikuti literasi ilmiah yang berjudul “Pendidikan bagi buruh di era kecerdasan artifisial?”, sebuah diskusi yang diadakan di kafe Resensi yang diisi oleh Hartono atau Tonton. Katanya, di mana-mana terjadi shifting atau pergeseran di mana-mana pada seluruh tatanan kehidupan. Apalagi, shifting to digital, man to digital.

Aku kemudian mengingat nasib manuskripku kemarin, dilema antara digitalisasi atau disimpan. Di akhir acara diskusi itu, aku bertanya pada Tonton, “Bagaimana kalau misalnya ada naskah kuno yang digitalisasi namun harus open accesss?”

 Menurutnya, digitalisasi itu bisa digunakan jika sifatnya publik dan positif. Dia juga menyarankan untuk silakan diupload dan dishare. Apalagi naskah kuno yang memiliki ilmu pengetahuan di dalamnya yang akan bisa diakses banyak orang. Kecuali jika sifatnya privat, jangan disebar.

Tapi, masalahnya, kataku lagi, ketika hasil digitalisasi itu bisa open access bisa dipelajari oleh semua orang tanpa terkecuali akan berbahaya. Menurut ibuku, ketika isi naskah kuno itu tersebar dan dipelajari oleh orang banyak yang belum pantas mempelajari, apalagi dengan tidak mempelajari ilmunya dengan baik dan benar. Apalagi, naskah itu akan aku teliti terlebih dahulu.

Kata Tonton lagi, di sini, ada dua arus pertemuan budaya yang saling bertentangan. Saat ini, budaya (digital) menghendaki itu ekslusif atau terbuka. Dan disisi lain budaya atau pendidikan tradisional itu (terkadang) inklusif atau tertutup. 

Namun, ilmu itu milik Tuhan. Selama itu positif dan bisa diamalkan orang lain secara positif, mengapa tidak digitalisasi? Kecuali jika melihat ada potensi disalahgunakan, lebih baik tidak usah. 

Makanya, ketika kita takut hal itu lebih duluan dipelajari atau diteliti orang lain, kita seharusnya bergegas belajar. Cepat atau lambat, sesuatu yang disembunyikan akan ditemukan juga. Anjuran yang bijak sekali.

Terakhir, Aku ingat kata-kata guru spiritualku, “Berguru itu belajar langsung pada orangnya, berkahnya ilmu ada di sana.” Seperti sebelum mendapatkan ilmu atau mantra, seseorang tidak mengambil ilmu bukan hanya dari tulisan yang dipelajari, namun bertemu langsung dengan gurunya.

Selamat Hardiknas; Mamuju, 02 Mei 19.