"Perumpamaan dunia itu bagaikan ular yang berkulit halus namun mengandung racun yang sangat mematikan." Ali bin Abi Thalib ra

Demikianlah pernyataan sayyidina Ali tentang kehidupan dunia. Tentunya bukan berniat untuk menakut-nakuti, namun memang demikianlah faktanya bahwa dunia dengan segala pesona dan keindahannya bisa menjadi malapetaka bagi siapapun yang mendekatinya.

Sebagaimana seekor ular berbisa yang bisa menjadi ancaman mematikan bagi siapapun yang ingin menangkapnya tanpa kehati-hatian. Demikian pula halnya dengan dunia, bahkan bisa dibilang lebih berbahaya lagi dari hanya sekadar seekor ular. 

Karena dunia dengan segala daya pikat yang dimilikinya bisa menarik siapapun yang mencoba untuk mendekatinya dan menjatuhkannya ke jurang yang sangat dalam di mana tidak ada lagi kemungkinkan baginya untuk bisa kembali.

Sehingga tidak mengherankan jika kemudian para Nabi, Wali, Sufi, Pesuluk dan para kekasih Tuhan yang lainnya selalu mengingatkan agar manusia jangan sampai terlena dengan kehidupan duniawi.

Namun, dengan gambaran dunia yang seperti itu bukan berarti kita bisa dengan seenaknya langsung berkesimpulan untuk menjauhi dunia secara totalitas. Karena bagaimanapun saat ini kita sedang hidup di dunia, tempat yang menjadi medan bagi kita untuk mengaktualisasikan jiwa. Dan untuk terealisasinya, maka mau tidak mau kebutuhan terhadap berbagai macam fasilitas dunia akan tetap hadir dalam diri kita.

Jangan seperti mereka yang menjauhi dunia secara berlebihan dan tanpa kejernihan pikiran dengan mengatasnamakan agama lantas menyalahkan (bahkan mengkafirkan) setiap orang yang tidak sejalan dengan mereka. Padahal sejatinya mereka juga sedang dirasuki sifat-sifat keduniawian, yakni sifat merasa paling benar dan paling suci dari siapapun.

Apa yang kemudian sangat perlu untuk kita lakukan adalah bagaimana cara kita menyikapi kehidupan dunia ini. Cara kita menjalani hidup dan akan seperti apa wujud kita yang sesungguhnya itu sangat ditentukan oleh corak perspektif kita dalam memandang dunia. 

Apakah kita akan serupa dengan orang-orang yang tidak bisa tidur sepanjang siang dan malam lantaran sibuk memikirkan dunia, sebagaimana yang digambarkan Cak Nun dalam suatu ungkapannya "Kebanyakan orang tak bisa tidur, mereka hanya tertidur, karena sepanjang siang dan malam hari mereka diberati oleh dunia."

Ataukah kita akan menjadi manusia yang berjiwa tangguh dan kuat terhadap berbagai macam jenis godaan dunia, sebagaimana yang diharapkan Bob Marley dalam salah satu ungkapannya "Jangan pertaruhkan dunia dan hilangkan jiwamu, kebebasan lebih baik daripada perak atau emas."

Semuanya kembali kepada diri kita masing-masing seperti apa kita mendefinisikan dunia. Jika kita kembali kepada kata hati kita dan mendengarkan apa yang diinginkannya, maka sejatinya tidak ada satupun di antara kita yang ingin menjadi budak-budak dunia. 

Sejatinya kita semua ingin terbebas dari kungkungan hawa nafsu yang pada hakikatnya hanya akan menyengsarakan kita. Kita ingin bebas dari segala macam keinginan yang menjulang tinggi.

Saya jadi teringat dengan ucapan yang pernah disampaikan bapak saya dulu. Menurut bapak saya, jika mata keranjang adalah julukan bagi mereka yang matanya selalu difokuskan pada hal-hal yang berahi, maka julukan yang tepat bagi mereka yang jiwanya selalu mengarah pada duniawi adalah manusia berjiwa keranjang. 

Sayangnya, meski sebenarnya secara fitrah kita semua tidak ingin disebut sebagai pecinta dunia, budak-budak dunia, penyembah nafsu, ataupun sebagai manusia berjiwa keranjang seperti yang diistilahkan bapak saya, justru malah kebanyakan dari kita lebih memilih untuk menjadi yang sebaliknya. 

Kita lebih suka mendengarkan apa yang diinginkan nafsu kita ketimbang berusaha untuk mengikuti apa yang diinstruksikan akal kita. Kita adalah sekelompok manusia yang mendurhakai Tuhan seperti yang disebut Quraish Shihab disebabkan kecintaan yang berlebih terhadap dunia. "Mencintai dunia itu wajar, asalkan jangan sampai cinta itu membuat kita mendurhakai Tuhan."

Sebuah perumpamaan menarik pernah disampaikan oleh Plato yang seolah dengan sengaja ia tujukan untuk menyindir orang-orang yang jiwanya ditawan oleh dunia. Plato menyebutnya sebagai manusia yang tidak melihat realitas yang sesungguhnya.

Menurut Plato, manusia sejak pertama kali dilahirkan ke dunia ini serupa tawanan yang hidup di dalam sebuah gua yang remang-remang. Tubuh mereka diikat dengan rantai sehingga menyulitkan mereka untuk bisa bergerak bebas. Mereka bahkan hanya diperbolehkan untuk melihat ke arah depan (dinding gua), sehingga apa yang terdapat di belakang mereka sama sekali tidak mereka ketahui.

Namun, apa yang lebih menyedihkan dari semua itu adalah saat di mana mereka tidak mampu membedakan mana realitas yang sebenarnya dan mana yang bukan. 

Tanpa mereka sadari ternyata di belakang mereka ada perapian yang sedang menyala-nyala. Namun karena tidak adanya kemampuan bagi mereka untuk bisa melihat ke belakang membuat mereka tidak mengetahuinya. Padahal sejatinya api yang menyala di belakang mereka itu lah realitas yang sebenarnya. 

Sementara realitas yang menurut mereka yang benar adalah yang ada di hadapan mereka, yakni bayangan mereka sendiri yang bergerak-gerak di dinding gua di mana hal itu ---tanpa sepengetahuan mereka--- tidak lebih dari sekadar sebagai akibat dari nyala api yang ada di belakang mereka. Artinya, realitas yang mereka anggap benar (bayangan mereka) ternyata hanyalah sesuatu yang palsu dan nir-makna.

Sejatinya, kita juga adalah salah satu di antara para tawanan yang dirantai di dalam gua itu yang oleh Plato ia sebut sebagai manusia yang tak melihat realitas. Sebagaimana para tawanan itu yang tertipu dengan bayangan mereka sendiri sehingga lantas menganggapnya sebagai realitas yang sebenarnya, kita pun sebenarnya juga sedang dalam keadaan seperti itu.

Betapa selama ini kita sudah termakan oleh bujuk rayu kehidupan duniawi. Seperti para tawanan itu yang terikat oleh sebuah rantai, kita pun sebenarnya juga sedang mengalaminya. Kita terikat oleh rantai duniawi berupa keindahan dan kesenangan yang hanya bersifat sementara. 

Kita telah tertipu oleh kehidupan dunia dengan segala daya pikat yang ditawarkannya. Mirisnya, kita sampai-sampai menjadikannya sebagai tujuan utama dalam hidup dan merasa seolah-olah akan hidup selamanya. 

Akibatnya, kita pun tidak menyadari bahwa di balik kehidupan yang fana ini ternyata ada kehidupan yang abadi dan yang sebenarnya, seperti keberadaan api sebagai realitas yang sebenarnya yang tidak disadari oleh para tawanan itu.