Apa itu manusia ?. Ini adalah pertanyaan sederhana yang memiliki jawaban yang tidak sederhana seperti apa yang kita pikirkan. Saking rumitnya, satu pengertian yang kita berikan masih belum bisa menjawab pertanyaan di atas. Ini terbukti dengan banyaknya pengertian tentang manusia yang dikemukakan oleh para ahli, dan saya kira pengertian itu akan berkembang mengikuti zaman.

Satu pengertian umum yang dapat kita ambil dan menurut saya bisa menjelaskan manusia (meskipun tidak menjelaskan manusia seutuhnya) adalah manusia merupakan makhluk sosial yang memiliki hak dan kewajiban tertentu dalam hidupnya. Ini sejalan dengan kebutuhan manusia dengan manusia lainnya dan adanya hak yang harus dipenuhi dan kewajiban yang harus dilakukan olehnya.

Selanjutnya, untuk menyikapi pertanyaan tentang apa itu manusia, maka timbullah pertanyaan lanjutan, yaitu bagaimana menjadi manusia ? dan bagaimana menjadikan manusia itu menjadi manusia seutuhnya ?. Hal ini perlu dibahas karena merebaknya orang yang mengaku manusia tetapi perbuatan yang dilakukannya sama sekali jauh dari kata manusia itu sendiri.

Kembali ke pengertian tentang manusia yang saya paparkan sebelumnya, manusia sudah pasti membutuhkan orang lain. Orang kaya membutuhkan orang miskin untuk  mendapatkan julukan kaya dan orang miskin membutuhkan orang kaya untuk membantu kehidupannya. Dan banyak sekali contoh yang bisa kita dapat dikeseharian kita.

Manusia juga mempunyai hak dan kewajibannya masing-masing, ini tergantung dari posisi dan stratanya dalam kehidupan. Sebagai contoh polisi lalu lintas mempunyai hak dalam menilang seseorang yang tidak melengkapi surat-suratnya dalam berkendara, di samping itu polisi juga berkewajiban dalam menertibkan lalu lintas di jalanan.

Dari hak dan kewajiban polisi tadi, maka pekerjaan yang dilakoninya akan berjalan dengan baik jikalau hak dan kewajibannya sebagai polisi diterimanya dengan baik pula. Dan tentu saja hak dan kewajiban yang diterima polisi jauh berbeda dengan hak dan kewajiban yang diterima pedagang. hal Ini membuktikan bahwa hak dan kewajiban seseorang berbeda.

Sayangnya, dewasa ini kita temukan banyak sekali fenomena orang-orang yang tidak sama sekali menghargai manusia. Kembali lagi, perbuatan yang mereka lakukan sama sekali tidak mencerminkan apa itu manusia sesungguhnya. Mereka berhasil mendapatkan hak mereka tetapi mereka gagal dalam menjalankan kewajibannya.

Setidaknya ada 3 fenomena yang ingin saya bahas pada tulisan ini, yang mana fenomena ini sudah marak terjadi dalam dunia nyata dan dunia maya.

Pertama, maraknya orang kaya yang memamerkan hartanya di sosial media dengan alasan memotivasi orang-orang yang belum setara dengannya.

Menjadi orang kaya bukanlah suatu hal yang hina tentunya. Tetapi di samping itu kita harus menyadari bahwa tidak semua orang bisa menjadi seperti kita. Memotivasi orang lain adalah hal yang positif, tetapi hal positif yang kita berikan kepada orang lain tidak akan selamanya menjadi hal yang positif bagi diri orang lain tersebut.

Orang-orang yang kaya seharusnya bisa menghargai keberadaan orang-orang di bawahnya, bukan malah memamerkan harta denga alasan memotivasi, karena bisa jadi motivasi yang kita berikan malah membuat dia menghalalkan segala cara demi menjadi setara dengan kita. Hak kalian menikmati kekayaan yang kalian punya tetapi kewajiban kalian juga dalam menghargai sesama manusia.

Di samping itu, saya teringat salah satu nasihat seorang ulama, memberikan ilmu kepada orang yang tidak siap atau tidak menginginkan ilmu tersebut adalah sebuah kesia-siaan.

Kedua, banyak sekali orang yang menampilkan sesuatu yang tidak senonoh di hadapan banyak orang terutama di sosial media.

Tidak ada larangan yang melarang kita dalam merekam atau memfoto kegiatan kita sehari-hari, walaupun itu adalah kegiatan yang tidak senonoh. Karena itu hanya sebagai santapan pribadi, tetapi lain halnya jikalau kita telah membagikannya pada khalayak ramai baik langsung maupun melalui media sosial.

Banyak dampak yang akan terjadi jikalau video atau gambar yang tidak senonoh tadi menyebar kepada orang lain. Terlebih-lebih jikalau itu sampai kepada anak di bawah umur. Apa jadinya jikalau anak-anak penerus bangsa malah dikotori pikirannya dengan video tidak senonoh yang kita bagikan di sosial media, dan banyak dampak-dampak negatif yang lain.

Mirisnya lagi, mereka membenarkan perbuatan mereka itu dengan kalimat “kan bisa diskip”, ”lah suka-suka aku dong, hidupkan hidup ku juga”. Betapa sakitnya hati ini mendengar alasan yang sangat tidak mencerminkan manusia yang bermoral ini, seakan apa yang dilakukannya itu adalah kebenaran tanpa memikirkan masa depannya dan masa depan orang lain di sekitarnya.

Rumah tidak akan terbakar jikalau tidak ada api yang menyebabkannya, begitu juga generasi muda tidak akan hancur jikalau tidak ada sesuatu yang menghancurkannya. Untuk kebaikan generasi muda kita khususnya, maka sudah sepatutnya kita menyingkirkan sesuatu yang dapat menghancurkannya, salah satunya menyediakan sesuatu yang baik dan menghindarkan sesuatu yang tidak baik untuk mereka.

Ketiga, banyaknya guru-guru yang melakukan perbuatan porno terhadap para siswanya.

Sangat miris jikalau kita melihat guru yang seharusnya menjadi contoh yang baik bagi siswanya, malah melakukan perbuatan yang sangat merusak mental seorang siswa. Bisa kita katakan satu mutiara Indonesia sudah hancur gara-gara guru yang tidak bertanggung jawab ini.

Trauma yang dirasakan oleh murid yang mendapatkan perbuatan yang tidak senonoh dari seorang gurunya mungkin akan berdampak pada masa depannya. Murid tersebut mungkin saja tidak ingin lagi merasakan bangku pendidikan, dan salah satu upaya kita dalam meningkatkan kualitas manusia adalah meningkatkan kualitas pendidikan yang didapatkannya.

Oleh karena itu, setiap guru seharusnya mendalami profesinya dengan sebenar-benarnya. Jangan sampai harapan orang-orang di sekitar kita yang menginginkan kebaikan dan kesejahteraan terhadap orang yang mereka cintai ternodai dengan kebodohan dan kelalaian kita.

Dengan segala kejadian yang sudah terjadi di antara kita, saya tidak ingin menyinggung siapa pun dalam tulisan ini, tulisan ini hanya secercah dari kekhawatiran pribadi terhadap masalah yang mulai menyebar di kalangan kita saat ini.

Untuk menutup tulisan ini, saya ingin mengutip salah satu nasihat yang disampaikan Jalaluddin Rumi bertahun-tahun yang lalu, jika engkau merasakan sakit atas dirimu, itu tandanya engkau masih hidup. Namun jika engkau merasakan sakit yang dirasakan orang lain, itu tandanya engkau adalah manusia. Karenanya, sebisa mungkin kita menjadi manusia yang memanusiakan manusia lain.