Di dunia ini, kita tidak hidup sendirian sebagai makhluk hidup. Manusia tidak hanya hidup dengan sesama manusia, melainkan dengan binatang dan juga tumbuhan. Kita sama sebagai makhluk hidup, tetapi apakah kita setara dengan makhluk hidup lainnya?

Sebelum dibahas lebih lanjut, ada poin penting yang harus disebutkan terlebih dahulu. Terdapat dua ekstrem yang memulai perdebatan ini dengan masing-masing berpegang pada apa yang mereka yakini. Ekstrem yang satu merupakan para pembela kebebasan binatang dan yang lain merupakan antibinatang

Pada ekstrem pembela kebebasan binatang, terdapat suatu pemahaman bahwa binatang harus dibela dengan cara yang sama seperti memperlakukan manusia dalam arti kebebasan binatang sama pentingnya dengan kebebasan manusia. Bahkan yang lebih pentingnya lagi, mereka menganggap kalau sebenarnya hidup manusia tidaklah lebih berharga daripada binatang.

Sedangkan ekstrem yang lain menganggap binatang tidaklah lebih penting dari manusia. Seorang Rene Descartes mengatakan bahwa binatang tidak lebih dari mesin-mesin tak berperasaan.

Kita tentu memahami perbedaan mendasar antara manusia dengan binatang. Manusia hidup dengan digerakkan oleh akal budinya sedangkan binatang bergantung pada kemampuan instingtifnya. Selain itu, manusia secara terus-menerus menciptakan lingkungan baru bagi dirinya sedangkan binatang hanya bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Perbedaan kita sebagian dipengaruhi oleh budaya, di mana dalam budaya dan kepercayaan tertentu binatang diakui sebagai simbol kepercayaan dan objek seni. Budaya ini sendiri merupakan hasil dari akal budi manusia jadi posisi binatang di sini disesuaikan dengan apa yang dihasilkan oleh manusia sendiri.

Ekstrem pembela binatang menyatakan bahwa spesiesisme, kurang lebih merupakan tindakan merendahkan binatang, sama seperti rasisme dan seksisme yang merupakan hal buruk.

Namun sepertinya ada suatu celah yang sekiranya patut dipertanyakan, jika spesiesisme itu buruk maka bolehkah kita melakukan kanibalisme? Jika binatang tidak direndahkan maka tidak ada yang lebih rendah derajatnya daripada manusia sehingga memakan hewan kurang lebih sama seperti manusia memakan manusia.

Menjawab hal tersebut, ekstrem pembela binatang mengatakan bahwa alasan mengapa manusia tidak melakukan kanibalisme adalah rasa hormatnya terhadap sesama anggota spesiesnya. Jika salah seorang meninggal, tidak mungkin seorang yang lain memakan jasad orang tersebut.

Sangat wajar jika dalam sebuah kelompok spesies tertentu, anggotanya menyukai anggota spesiesnya sendiri. Hal ini juga sama ditunjukkan dengan tidak melakukan kanibalisme. Meski begitu tidak menutup kemungkinan ada hubungan atau ikatan antarspesies.

Sejauh ini kita menemukan, baik melalui media sosial maupun perjumpaan secara langsung, bahwa ikatan antarspesies antara manusia dengan binatang peliharaannya menjadi suatu hal yang biasa, bahkan dalam beberapa kasus binatang diperlakukan selayaknya manusia.

Dilansir dalam laman berita Media Indonesia, label dunia mulai terjun ke dunia pet fashion. Jika diperhatikan, binatang di sini seolah-olah diperlakukan sama seperti manusia. Mereka diberi pakaian dan aksesoris mahal hanya demi sebuah tren sampai-sampai menarik perhatian label besar dunia.

Apakah hal tersebut yang ingin dicapai oleh para pembela kebebasan binatang, di mana binatang hidup selayaknya manusia? Pada kenyataannya tidak demikian, jika binatang diperlakukan sama seperti manusia yang terjadi justru berkurangnya rasa hormat sebagai manusia dan bukannya kehormatan binatang menjadi meningkat.

Terdapat beberapa kasus tertentu berkaitan tentang ikatan antarspesies, manusia terkadang membunuh binatang peliharaannya yang sakit agar setidaknya mereka tidak hidup menderita. Tindakan pembunuhan ini tidak dibatasi oleh batasan apapun. Namun pada kasus eutanasia, pembunuhan terhadap sesama manusia terkadang dibatasi oleh batasan apapun.

Apa yang ditunjukkan di sini merupakan perbedaan pertimbangan antara membunuh manusia dengan membunuh binatang. Membunuh binatang tadi seolah tidak ada batasan yang membebani saat melakukannya sedangkan eutanasia seakan tidak diperkenankan untuk dilakukan atas suatu pertimbangan tertentu.

Kasus lain menunjukkan perbedaan perlakuan terhadap binatang terancam punah dan terhadap manusia. Binatang terancam punah diperlakukan secara istimewa yakni dengan pelestarian binatang. Pendasarannya adalah bahwa meski tidak semua binatang patut dilestarikan, beberapa dari mereka harus dibatasi populasinya.

Kasus tersebut tidak bisa diterapkan kepada manusia. Bayangkan jika dalam populasi manusia sebanyak ini, sebagian dari kita merupakan pengganggu tidak mungkin kita begitu saja melenyapkan mereka hanya demi membatasi populasi.

Melawan gagasan antibinatang, yang menyatakan bahwa binatang tidak lebih dari mesin tak berperasaan, kekejaman terhadap binatang tidak akan membuat manusia terlihat lebih baik dari binatang. Kita tidak memerlukan akal budi untuk berpikir bahwa kekejaman itu buruk, tetapi kita membutuhkannya untuk mengatakan bahwa spesiesisme itu sama buruknya.

Pada kesimpulannya, kedua ekstrem ini tidak ada yang benar. Di satu sisi, salah jika mengatakan bahwa binatang merupakan mesin tak berperasaan karena nyatanya mereka memiliki perasaan yang terkadang memiliki nilai yang lebih tinggi dari manusia. Loyalitas seekor anjing terhadap tuannya terkadang melebihi loyalitas dari manusia itu sendiri.

Dengan mengatakan bahwa binatang tidak memiliki perasaan maka dimungkinkan adanya kekejaman, tapi seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa kekejaman itu buruk dan hal tersebut sudah menjadi dasar moralitas manusia untuk menghindari yang buruk.

Di sisi lain, binatang tidak bisa disamakan dengan manusia. Meski dalam beberapa kepercayaan tertentu binatang dijadikan objek simbolis yang luhur, akan tetapi tidak semuanya demikian.

Menyamakan derajat manusia dengan binatang justru mengakibatkan berkurangnya kehormatan manusia, bukan sebaliknya. Jadi jika dikatakan bahwa binatang setara derajatnya dengan manusia, sama saja dengan menyuruh seluruh umat manusia menjadi vegetarian.

Daftar Pustaka

Teichman, Jenny. 1996. Etika Sosial. A. Sudiarja, SJ. 1998. PT Kanisius: Yogyakarta, Indonesia.

Rosmalia, Putri. 15 Oktober 2020. Label Dunia Makin Ramai Terjun ke Pet Fashion.

https://mediaindonesia.com/weekend/353026/label-dunia-makin-ramai-terjun-ke-pet-fashion (diakses pada 25 Maret 2021)