2 tahun lalu · 2389 view · 4 min baca menit baca · Politik images_60.jpg
http://givankas.blog.widyatama.ac.id/

Manusia Tipe ''Sak Karepe Dewe''

Saya tidak tahu mengapa. Tiap menjelang pesta politik, selalu muncul manusia tipe ‘’sak karepe dewe’’. Manusia model begini biasanya berpikir dan bertindak seenaknya sendiri. Bahkan untuk menilai seseorang yang belum pernah dikenalnya pun, dengan enteng mereka mencap ‘’sesat’’, ‘’liberal’’, ‘’pendukung Ahok’’, ‘’antek-antek komunis’’ atau apalah seenak udelnya.

Sebagai anak muda dan peduli dunia politik, saya agak terganggu dengan sikap manusia-manusia semacam itu. Sikap ‘’sak kerepe dewe’’ (seenaknya sendiri ; subjektif) seseorang dalam merespon perbedaan pendapat, tak jarang menggunakan kata-kata kotor, cemooh dan berbau SARA.

Ini bukannya saya gimana-gimana mengenai manusia tipe mereka, cuma sikap sak karepe dewe model begitu itu sangat berbahaya bagi bangsa multikultural dan plural seperti Indonesia. Penggunaan social media saat ini, termasuk mengenai komentar, informasi, pendapat, sikap, respon atau tanggapan yang disampaikan tanpa bertanggungjawab, dapat menimbulkan kesimpangsiuran dan isu di jagat informasi yang amat meluas secara cepat.

Tengok saja tragedi pembakaran rumah ibadah di Tanjung Balai, status menghina yang dilontarkan florence sihombing terhadap kota Jogja, haters yang memfitnah Jokowi keturunan Cina, hingga isu Mario Teguh yang dituding menelantarkan anak kandung, ditanggapi sinis dan dinilai sangat negatif oleh banyak orang. Menurut saya, sikap menebar isu atau merespon beberapa gosip seperti diatas sangat sak karepe dewe dan tidak fair.

Saya tidak sedang sok mau berpendapat beda atau membela pihak-pihak tertentu. Saya hanya merasa, ada fenomena dan perkembangan yang tidak sehat dalam demokrasi kita dewasa ini. Entah mengapa, saya merasakan ada kecenderungan menguatnya subjektivitas cara berikir dan diikuti degradasi pencarian kebenaran. Ada peningkatan budaya menilai dan mengoceh, tapi tidak diikuti semangat objektif dan fair melihat isu.

Saya sendiri merasa terganggu dengan fenomena ini. Sebagai mahasiswa yang ingin berpikir logis dan objektif, saya sering tersudutkan dengan sikap-sikap atau pandangan politik saya mengenai beberapa isu nasional.

Sebagai contoh, dalam kontestasi menjelang Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta misalnya, saya membela Ahok manakala kelompok kanan membawa-bawa ayat ‘’Pemimpin kafir haram dipilih umat Islam Indonesia’’. Tapi resikonya saya dicap sebagai pendukung Ahok dan tidak pro pada Umat Islam. Padahal saya ini ber-KTP Tuban. Tidak ada hubungannya dengan memilih dan mencoblos Ahok.

Dalam konteks diatas, Saya membela hak Ahok sebagai warga negara Indonesia. Kita semua pahamlah cara main aturan undang-undang di Republik Indonesia. Bahwa siapapun orangnya, apapun agamanya dan latarbelakangnya, asalkan WNI, ya harus dijamin hak-hak politiknya. Lalu apakah sikap saya salah? padahal saya hanya menegaskan hak seorang WNI yang dijamin negara yang kita bangun.

Saya terkadang berpikir, apakah kelompok diluar sana sudah kehilangan akal dan ide sehingga menjual tafsir agama untuk menggalang suara politik. Saya pikir penafsiran terhadap ayat tersebut tidak hanya ada satu versi. Beberapa ulama NU misalnya, mempunyai tafsiran yang berbeda dengan tafsir FPI atau HTI. Nah maksud saya, karena faktanya hasil tafsir bermacam-macam, maka tidak boleh sak karepe dewe dan memaksa.

Dalam kasus pembakaran vihara dan kelenteng di Tanjung Balai, saya mengkritik keras perilaku muslim yang arogan dan bar-bar. Cuma ya begitu, ada banyak pula orang yang mencap saya anti-Islam, musuh Islam atau segudang umpatan yang dilontarkan sak karepe dewe. Padahal komentator atau kritikus tadi bukan teman dekatku. Bahkan beberapa tidak pernah bertemu, bertatap muka atau mengenalku di dunia nyata.

Iya, mereka memang manusia tipe sak karepe dewe. Menilai, menghujat, mencemooh bahkan menuduh seseorang dengan nada kebencian tanpa disertai sedikitpun penilaian yang objektif. Orang-orang model demikian, bila dibiarkan liar akan membahayakan kehidupan demokrasi. Terlebih bila komentar mereka dilakukan di social media dan disebarluaskan oleh sesama kaum sak karepe dewe serta didukung haters.

Saya pun heran, kok ada orang sekelas Cak Nur, Cak Nun atau Quraish Shihab dicela habis-habisan di dunia maya. Saya tidak habis pikir, manusia bijak, welas-asih, mulia, berilmu dan berperan penting bagi peradaban bangsa malah dilecehkan sedemikian rupa. Bahkan, terkadang ‘’anak bawang’’ pun dengan entengnya mencap Quraish Shihab sesat. Menurutku ini gila. Ini seperti embun yang mengejek kejernihannya pada lautan.

Zaman globalisasi sekarang ini memang banyak sisi negatifnya. Batas-batas umur, kesopanan, etika dan tata-krama hilang. Persamaan setiap orang benar-benar terwujud di dunia maya. Di social media, tidak ada lagi kasta. Semua orang disejajarkan dan diperhitungkan per akun. Tidak penting dia siapa di dunia nyata, asal sudah masuk dunia maya, dia dianggap bukan siapa-siapa.

Anak SMP yang kerjaannya nongkrong, main dan pacaran pun, di dunia maya bisa dengan mudah menghujat dan mencaci maki Presiden, Kepala Sekolah atau bahkan guru-gurunya sendiri. Kacau memang. Etika di dunia nyata sama sekali tidak berlaku di dunia maya. Seolah bila berselancar di dunia maya, tidak bakal lagi bertemu orang atau hidup didunia nyata lagi.

Seorang mahasiswa misalnya, bisa bermurah senyum di depan dosennya. Bahkan bila bertemu dibela-belain cium tangan. Tapi bila sudah masuk ke dunia maya, segala cemooh dan cacian bisa dengan mudah terlontar. Hanya karena dosennya telat berjam-jam atau tidak bilang dulu kalau absen mengajar, seorang mahasiswa dapat dengan mudah bersumpah serapah seribu iblis mengutuk dosennya di status Facebook.

Kembali lagi soal sikap menilai yang sak karepe dewe. Saya terkadang agak emosi bila ada orang seenaknya menuduh macam-macam. Hanya karena saya mengkritik Prabowo karena dugaan keterlibatannya dalam pelanggaran HAM semasa Pemilihan Presiden, orang mencap saya pendukung Jokowi. Hanya karena saya membela hak-hak korban kerusuhan Sampang, saya di cap Syiah.

Nasib, nasib. Jangan-jangan Bangsa ini sudah menjonru? Mengapa sih kita mewarisi politik pengkotak-kotakan ala Belanda? Tidak adakah manusia objektif pencari kebenaran di negeri ini?

Asal kalian tahu, ketika orang-orang menuduh syiah karena saya membela hak mereka, toh para penuduh ini juga tidak pernah tahu kalau secara kultur saya NU banget. Sunni seratus persen. Saya ikut tahlilan dirumah orang mati, datang ke ceramahnya Hidayat Nur Wahid dan sering jumatan di masjidnya Muhammadiyah.

Ketika mereka menuduh saya Pendukung Jokowi atau antek-antek Ahok, mereka tidak tahu kalau saya sudah ratusan kali mengkritik Jokowi dan berunjuk rasa menentang sikap Ahok yang hobi menggusur dan berucap kata-kata kotor. Maksud saya, janganlah kita mudah sekali menilai atau berkomentar bila belum mencari tahu dulu kebenarannya. Gara-gara mulut yang asal jeplak atau sak karepe dewe, ada oranglain yang rusak dan merugi.

Ketika mengkritik FPI, bukan berarti tidak cinta Islam. Ketika mengkritik PKS, bukan berarti komunis. Percayalah, di Indonesia masih ada anak muda yang objektif dan tidak berafiliasi pada apapun kecuali pada kebenaran itu sendiri.

Artikel Terkait