Penulis
2 minggu lalu · 191 view · 3 min baca · Gaya Hidup 16345_63133.jpg
Thrive Global

Manusia Terjebak pada Pencarian Kebahagiaan

Pernahkah Anda perhatikan orang-orang yang memiliki mobil 5, rumah besar, jabatan mentereng, anak-anaknya juga kaya harta, namun masih berebut kuasa? Pernahkah Anda saksikan seseorang senyum sumringah setelah menghujat orang lain di media sosial? Atau barangkali Anda sendiri yang melakukan itu?

Pernah atau tidak Anda bertanya dalam hati kenapa elitw politik kita berebut takhta padahal mereka sudah dikenal dan kaya? Saya pernah bertanya, apa yang mereka kejar? Dan jawaban semua itu hanya satu, kebahagiaan. 

Bahagia merupakan motif semua orang melakukan sesuatu, selain naluri alamiah yang dimiliki manusia. Demi bahagia, manusia terkadang menghalalkan segala cara. Entah itu curang, korupsi, menipu, bahkan kekerasan, semuanya dilakukan demi bahagia.

Di Amerika Serikat, industri kebahagiaan setiap tahunnya menghabiskan dana hingga Rp153 triliun. Industri itu katanya mampu menciptakan khayalan kebahagiaan. Namun kesementaraan itu tidak terlalu berguna. Di kehidupan nyata, manusia kembali tidak bahagia.

Lalu apa kata para peneliti terkait ini? Menurut hasil penelitian, kita tidak mungkin bahagia terus-menerus. Sebabnya otak belahan kanan menghasilkan emosi negatif dan otak belahan kiri berkontribusi emosi positif.

Kedua energi itu dapat muncul berdampingan. Pernah tidak Anda merasakan begitu bahagia karena baru saja selesai ujian sarjana, atau hal lain, namun beberapa saat kemudian malah muncul kegelisahan atau suasana lain yang membuat Anda tidak bahagia.


Begitulah kita secara biologis memang tidak diciptakan selalu bahagia. Obat penenang sekalipun hanya bersifat sementara. Karenanya, kita kerap memaksakan diri untuk mencari bahagia. Pada saat itu, yang muncul malah ketidakbahagiaan.

Sebagaimana pertanyaan-pertanyaan di atas sekaligus contoh bagaimana manusia mencari kebahagiaan, terkadang manusia rela mengorbankan kebahagiaan demi sesuatu yang dianggap membahagiakan.

Sebelum menjadi Wali Kota, Joko beranggapan ia akan menjadi manusia paling bahagia di dunia. Setelah terpilih, kembali ia beranggapan, sungguh aku akan bahagia bila terpilih sebagai gubernur. Begitu seterusnya, sampai ia menjadi presiden yang otoriter karena tak mau diganti.

Meski merasa bahagia dapat berkuasa, namun sebenarnya kebahagiaannya itu sementara. Joko terus-terusan merasa khawatir apabila musuh politiknya tiba-tiba melakukan kudeta. Terdorong hasrat itulah kemudian ia menjadi presiden yang siap memenjarakan siapa pun. 

Akibatnya, rasa bahagia yang didapatkan hanya setelah pelantikan. Semasa menjabat, ia tak pernah tenang. Selalu muncul kekhawatiran di masa pensiun, ketika kekuasaan tidak lagi dimiliki. Bagaimana nasib anak-anaknya bila lawan politiknya yang akan berkuasa di masa depan.

Pencarian kebahagiaan pada akhirnya hanya berujung pada depresi. Bukan hanya jiwa yang bakal sakit, fisik manusia akan terpengaruh. Macam-macam penyakit hadir tanpa bisa dihindari.

Pada saat itulah manusia baru sadar, jangan mencari kebahagiaan. Mengutip yang dikatakan George Bernard Shaw, “Kita tidak memiliki hak untuk menikmati kebahagiaan bila kita tidak mampu menciptakan kebahagiaan."

Reza (2015) menganggap pentingnya manusia berpikir yang tepat. Pemikiran yang tepat akan menentukan kualitas hidup manusia. Menciptakan kebahagiaan membutuhkan prasyarat pemikiran yang tepat. Menurutnya, ada 3 tingkatan yang harus dilalui manusia.

Pertama, kita harus menganggap hidup kita penting dan menarik menurut kita. Kedua, cara hidup kita itu harus bermakna bagi orang lain, membantu kehidupan orang lain. 

Tingkatan terakhir setelahnya, kita harus melampui diri sendiri dan tuntutan sosial, meraih kebebasan. Hidup yang puas secara pribadi dan bermakna bagi orang lain, namun tidak dalam tekanan keduanya. 


Kita kerap menghakimi diri sendiri, tidak menganggap hidup itu menarik dan penting. Kita kemudian menjadi tak peka pada kehidupan sekitar. Jangankan pada sekitar, pada diri sendiri pun tak peka. Begitu kira-kira yang menyebabkan kita terjebak pada pencarian kebahagiaan.

Akibatnya, kita ibarat meminum air laut; makin kita berusaha mencari kebahagiaan, makin kebahagiaan menjauh. Jalan keluar yang bisa kita lakukan ialah menciptakan kebahagiaan, bukan mencari kebahagiaan. 

Kita harus menganggap hidup ini menarik dan penting. Setiap waktu, betapa pun ekonomi susah, harus dianggap menarik dan penting. Kita pun tak boleh meninggalkan kehidupan sosial. Kita harus memberi makna kepada orang lain, bermanfaat dalam kehidupan sosial.

Namun demikian, kita tak boleh hidup berdasarkan keinginan masyarakat. Misalnya soal kerja, keyakinan agama, maupun hal-hal lain yang sifatnya pribadi. Mengikuti tuntutan masyarakat akan membuat hidup bertambah sengsara.

Ada orang yang hidupnya diserahkan kepada masyarakat. Ia mencari kerja berdasarkan keinginan masyarakat. Di Indonesia dapat kita temui orang-orang bekerja berdasarkan keinginan masyarakat. Jika belum mendapatkan pekerjaan itu, ia belum bahagia.

Lagi-lagi manusia terjebak pada pencarian bahagia. Bukan hanya soal kerja, bahkan soal keyakinan beragama sekalipun ia merasa harus ikut tuntutan masyarakat. Akibatnya, keyakinan beragama hanya status di KTP.

Banyak lagi contoh lainnya. manusia hidup karena tuntutan masyarakat, ukan seberapa bermakna hidupnya bagi masyarakat; bukan seberapa bermanfaat ia bagi masyarakat.

Saatnya kita berpikir merdeka, berkarir sesuai passion bukan karena tuntutan siapa pun. Beragama sesuai keyakinan sendiri bukan karena paksaan siapa pun.  

Selamat berakhir pekan bersama orang-orang tercinta, atau sesuatu yang Anda cinta. Entah itu aktivitas maupun sebuah benda. Saatnya menciptakan kebahagiaan, bukan terjebak pada pencarian kebahagiaan.

Artikel Terkait