Manusia silver menjadi fenomena yang sering kita jumpai hari-hari ini. Biasanya mereka bisa dengan mudah ditemukan di jalanan atau pusat-pusat keramaian yang lain. Kehadiran mereka bagi beberapa orang, menjadi hiburan sekaligus mengundang belas kasihan di tengah penat jalanan kota yang macet.

Sayangnya cerita tentang manusia silver yang nampak unik, terkadang tidak secerah cat warna kulitnya. Banyak di antara mereka yang terpaksa menjadi manusia silver untuk menyambung hidup di masa pandemi Covid-19. Beberapa mungkin memiliki kisah yang kelam dan tak terungkap di media.

“Gak ada yang mau beli dagangan saya, saya butuh makan. Ya, mau gimana lagi? Saya nyoba peruntungan jadi manusia silver. Orang tahunya saya males kerja, masih muda tapi minta-minta. Mereka nggak tau cerita hidup saya,” ujar Tamara, seperti yang dikutip Tempo dari laman kemensos.go.id, Minggu 12 September 2021.

Sebelum menjadi manusia silver, Tamara sejak tahun 2014 berjualan bambu jepang si sekitar Terminal Lebak Bulus, namun ketika pandemi Covid-19 membuat terminal sepi, dagangannya pun ikut sepi.

Kisah kakak beradik, Arya dan Azmi juga tidak jauh berbeda. Mereka memutuskan menjadi manusia silver setelah sebelumnya kehilangan perkerjaan sebagai teknisi rombongan pasar malam keliling. Sepanjang pandemi, pembuakaan pasar malam memang sangat dibatasi untuk menghindari penularan.

Sebelumnya Arya dan Azmi pernah menjajal peruntungan sebagai pengamen, namun melihat orang-orang lain sebagai manusia silver lebih mudah mendapat rezeki, mereka pun ikut mencobanya.

Beberapa kisah tentang manusia silver bahkan sempat viral di sosmed, sebut saja video pensiunan polisi di Semarang, Aipda (purn) Agus Dartono yang terpaksa menjadi manusia silver hingga foto kontoversial seorang bayi berumur 10 bulan yang dicat silver oleh ibunya.

Banyak dari manusia silver ini yang setiap hari harus bersiap kejar-kejaran dengan polisi dan satpol PP. Sekaligus mereka juga menerjang risiko terpapar Covid-19 dan penyakit kulit yang akan dengan mudah menyerang karena bahan zat kimia pada pewarna silver. Semua demi rupiah yang tak seberapa untuk menyambung hidup keluarga.

Timpangnya Ekonomi

Berbicara soal manusia silver, hal yang tidak jauh mengikutinya ialah persoalan mengenai kemiskinan. Bukan rahasia, bahwa pandemi ikut mengambil andil dalam meningkatkan presentase kemiskinan di Indonesia.

Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan angka orang miskin semakin bertambah sebesar 26,42 juta jiwa pada Maret 2020 sejak pandemi. Mereka yang termasuk ke dalam golongan penduduk miskin ekstrem ialah mereka yang tidak memiliki aset produksi sendiri, bekerja dengan upah rendah dan tidak memiliki tabugan untuk menyangga ekonomi keluarga.

Di saat yang sama, pemandangan yang sebaliknya justru semakin sering ditemui. Data lembaga keuangan Credit Suisse dari Swiss, justru menyebutkan bahwa jumlah orang kaya di Indonesia naik sebesar 61,69% pada 2020 sejak pandemi.

Jumlah penduduk Indonesia dengan kekayaan bersih US$ 1 juta (14 miliar) atau lebih ada di angka 106.215 di tahun 2019. Pada tahun 2020, jumlahnya naik menjadi 171.740.

Pembatasan aktivitas masyarakat oleh pemerintah selama pandemi Covid-19 turut mempengaruhi ketimpangan sosial dan ekonomi. Banyak sektor usaha yang produktivitasnya menurun, sehingga banyak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) yang menambah banyak pengangguran.

Lantas bagaimana peningkatan kekayaan pada orang kaya saat pandemi bisa terjadi? Pertama, tidak seperti orang miskin, orang kaya memiliki kemampuan untuk melindungi asetnya. Ketika aset mengalami penurunan tajam, kelompok kaya dengan cepat berpindah ke aset yang lebih aman, seperti emas, deposito dan lainnya.

Orang-orang dengan kapital kuat bisa membelanjakan uangnya untuk aset seperti properti dengan harga murah ketika pandemi. Pada saat nilai-nilai aset sudah berangsur pulih, total kekayaan mereka bisa berlipat ganda.

Sebut saja CEO Tesla, yang saat ini mengambil alih posisi Jeff Bezoz sebagai orang terkaya dunia, Elon Musk, dapat meningkatkan kekayaannya hingga mencapai US$ 222 miliar atau sekitar Rp 3.152,4 Triliun (Kurs Rp 14.200) (dilansir dari CNN, 12/10/221).

Kedua, ialah faktor meningkatnya orang kaya yang masuk ke sektor teknologi digital. Lonjakan pengguna jasa pesan antar makanan, e-commerce, dan teknologi finansial (fintech) turut mempertahankan dan bahkan menambah kekayaan mereka. Teknologi digital ini memang banyak digunakan orang karena dianggap aman dari risiko penularan virus.

Barbarisme Kapitalisme dan Moral

Slavoj Zizek dalam bukunya Pandemic! COVID-19 Shakes the World, menyebut bahwa  pandemi membuat manusia terjebak pada tiga krisis yaitu krisis medis (pandemi itu sendiri), ekonomi dan psikologis.

Slavoj Zizek menilai bahwa pandemi Covid-19 memang memengaruhi ekonomi. Di satu sisi ia melihat pihak berwenang yang bertindak mirip dengan komunisme (seperti perawatan kesehatan untuk semua, kebijakan karantina, dll). Di sisi lain, ia melihat korporasi yang disebutnya sebagai kapitalisme-corona mengumpulkan uang yang ditalangi oleh negara.

Pandemi sekarang ini bisa dikatakan sebagai momen maksimalisasi ekonomi bagi para kapitalis. Orang-orang dengan kemampuan ekonomi menengah ke bawah seperti para manusia silver, pedagang kaki lima dan banyak yang lain justru banyak mengalami dampak negatif.

Di tengah ketimpangan ekonomi ini, pertanyaan mengenai moral dalam ekonomi terus menerus bisa direnungkan. Bisa jadi penderitaan akibat ketimpangan ekonomi, akan menambah banyak manusia silver lain yang berujung mencari peruntungan di jalanan.

Barbarisme kapitalisme dalam mencari keuntungan maksimal ketika pandemi, menurut Zizek, jelas tidak bisa menyelamatkan manusia dari krisis ketika pandemi. Namun, walaupun demikian kapitalisme tidak bisa dikatakan tidak bermoral.

Walaupun kapitalisme zaman ini memang berbeda dengan kapitalisme yang digagas oleh Adam Smith, cita-cita kapitalisme tidaklah kejam seperti  yang dibayangkan banyak orang. Cukup jelas bahwa sebagai filsuf moralis, Adam Smith memikirkan kapitalisme sebagai jalan untuk memberdayakan masyarakat agar keluar dari kemiskinan..

Tujuan utama kapitalisme, menurut Adam Smith, adalah kebebasan berkompetisi dalam ekonomi, sehingga masyarakat yang miskin sekalipun dapat menerobos status sosialnya ketika mampu berusaha dan bersaing.

Yuval Noah Harari dalam bukunya, Homo Deus, bahkan menyebut bahwa kapitalisme berhak mendapat pujian terkait dengan berkurangnya kekerasan manusia dan meningkatnya kerja sama. Secara jangka panjang, Yuval Harari menyebutkan bahwa kapitalisme dapat mengatasi kelaparan, wabah dan perang, karena sikap optimis para kapitalis pada pertumbuhan.

Lalu Bagaimana?

Menurut Slavoj Zizek, ancaman terbesar yang muncul mengikuti pandemi ini adalah kemunduran dalam hal barbarisme terbuka, kekerasan survivalis brutal disertai kekacauan publik, mati panik, dll.

Hal yang perlu diwaspadai, menurut Zizek, adalah barbarisme dengan wajah manusia  yang dikuatkan dengan penyesalan dan bahkan simpati, tetapi dilegitimasi oleh pendapat para ahli.

Misalnya seorang pemimpin yang dalam pidatonya, mencoba memproyeksikan ketenangan dan kepercayaan diri, mengucapkan prediksi mengenai pandemi yang akan memakan waktu sekitar dua tahun dengan total 60 hingga 70 persen populasi global akan terinfeksi dan jutaan orang mati.

Mungkin, Dengan panik, para kapitalis akan mudah melakukan “survival of the fittest” yang akan menambah parah ketimpangan sosial yang terjadi saat pandemi.

Meskipun pendapat Zizek tentang jalan keluar dari krisis yang adalah bentuk “Komunisme” sering ditertawakan oleh banyak pihak, tetapi tampaknya hal tersebut malah benar-benar menjadi niscaya dalam masa krisis ini. Zizek dalam bukunya mengutip pepatah yang berkata: dalam krisis kita semua sosialis.

Secara lebih lanjut untuk mengatasi krisis saat pandemi, Zizek akan menyarankan gagasan bagaimana kita mengubah sistem sosial dan ekonomi, menentukan arah dan langka-langka yang diperlukan. Dalam hal tersebut maka peran pemerintah sungguh dibutuhkan untuk keputusan yang menjunjung solidaritas.

Kita patut bersyukur bahwa pemerintah Indonesia selama ini telah dengan proaktif mengambil tindakan mengumpulkan banyak vaksin dari Tingkok atau Selandia Baru. Vaksinasi juga dengan cepat dilakukan di berbagai daerah. Walaupun hingga saat ini, peringkat ketahanan Indonesia terhadap Covid-19, menurut Bloomberg masih dalam urutan ke-49 dari 53 negara.

Manusia silver hanyalah salah satu dari sekian banyak potret kemiskinan masyarakat di saat pandemi. Pemerintah hingga saat ini memang masih terus menerus memiliki tantangan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Keputusan-keputusan yang solider terkait dengan ekonomi perlu dilakukan untuk menengahi jurang antara orang kaya dan orang miskin.

Sumber Pustaka:

Harari, Yuval Noah, Homo Deus Masa Depan Umat Manusia, Jakarta: PT Pustaka Alvabet, 2018.

Zizek, Slavoj, Pandemic! Covid-19 Shakes The World, New York: OR Book, 2020.

Zizek, Slavoj, Pandemik!2 Ketidakmampuan Kapitalisme Menghadapi Krisis, Yogyakarta: Penerbit Independen, 2021.

Sumber Internet:

https://economy.okezone.com/read/2021/10/13/455/2485740/berharta-rp3-174-triliun-ini-4-fakta-elon-musk-tinggalkan-jeff-bezos-jadi-orang-terkaya-dunia

https://katadata.co.id/sortatobing/indepth/60f575f909edb/jurang-orang-kaya-dan-miskin-yang-terus-melebar-karena-pandemi.

https://nasional.tempo.co/read/1511733/mengapa-manusia-silver-semakin-banyak-di-masa-pandemi

https://news.detik.com/kolom/d-5731456/menekan-kemiskinan-ekstrem-akibat-pandemi

https://www.kompas.com/tren/read/2021/09/27/073000765/ramai-soal-manusia-silver-apa-bahayanya-mengecat-kulit?page=all.

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/bilal-jokowi-dan-negara-penjaga-malam

https://www.pinterpolitik.com/ruang-publik/indonesia-akhirnya-merdeka-dari-covid-19