Alam semesta diciptakan Allah dari tiada menjadi ada dan diciptakan dengan cinta kasih, panorama alam semesta terbentang dari timur hingga barat dengan panorama  keindahan yang menjadi bukti kekuasaan Allah dan membuktikan bahwa Allah benar-benar ada sebagai pencipta.

Selain itu juga Allah menciptakan makhluk-makhluk untuk mengisi alam semesta dengan keragaman, di antara makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna adalah manusia. Namun, kesempurnaan tersebut tak digunakan dengan sebaik-baiknya; bahkan sebagian manusia ada yang berjiwa perusak di muka bumi.

Keindahan alam dengan segala isinya merupakan anugerah bagi manusia, suatu estetika dalam rangka menunjang keimanan manusia ke level yang lebih tinggi. Dalam agama terjadi perpaduan antara keindahan (estetika) alam dengan segala isinya dengan keindahan Allah sebagai Maha Pencipta alam semesta. Dari itu, barang siapa yang merusak keindahan alam berarti ia telah merusak ciptaan Allah.

Dalam agama, manusia diperintahkan menjaga alam dan lingkungan dengan baik sebagai khalifah di muka bumi. Bukan hanya sesama manusia kita bersahabat dan bergandengan tangan, tapi dengan alam juga manusia harus bersahabat.

Hari ini, manusia boleh saja menikmati kemajuan teknologi dengan senang hati. Namun kehidupan manusia di alam semesta berada dalam kesuraman karena alam yang hijau semakin tak hijau, hutan menjadi lapangan proyek ketamakan manusia, hawa sejuk berubah menjadi panas, dan lingkungan menangis bersimbah sampah di sudut-sudut jalan dan aliran sungai.

Pencemaran lingkungan ini yang paling keras menentang di garis terdepan adalah para aktivis lingkungan yang benar-benar mencintai lingkungan dan mahasiswa yang belum tersentuh oleh program proyek penguasa yang menguntungkan perut (mahasiswa pemakan proyek).

Nah, seharusnya pemuka agama pun mengambil peran dan bersuara ketika tangan -tangan jahil merusak lingkungan dan alam. Pemuka agama mempunyai kharisma yang biasanya didengar manusia dan penguasa: dengan harapan masyarakat dan penguasa sadar dan benar-benar mau menjaga lingkungan dengan baik.

Agama mempunyai pengaruh kepada pemeluknya dalam menjaga lingkungan dan ini tentunya harus di kampanyekan secara konsisten di mimbar-mimbar maupun lewat tulisan oleh pemuka agama dalam menjaga lingkungan.

Profesor Graham Parkes dari Universitas Hawaii meneliti peran agama dalam mengatasi beberapa krisis budaya masa kini, penelitiannya memfokuskan pada hubungan kebudayaan manusia dengan alam lingkungannya. (Alwi Shihab, Islam Inklusif: Menuju Sikap Terbuka dalam Agama, 1999).

Parkes mengemukakan teorinya bahwa “Pandangan keagamaan suatu kelompok masyarakat sangat berpengaruh dalam menentukan sikap dan perilaku terhadap alam dan lingkungannya, pandangan manusia terhadap alam dan pada gilirannya sikap terhadap lingkungan sangat dipengaruhi oleh pandangan keagamaannya.”

Pencemaran lingkungan dimulai ketika dunia barat bangun dari kegelapan menuju abad modern, orang barat mulai menguasai bidang industri dan memakan sumber-sumber alam yang tersedia sehingga menyebabkan krisis lingkungan dan menjadi problem utama di setiap negara hingga sekarang.

Kenapa manusia merusak lingkungan? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita melihat kembali penjelasan Parkes, yang bahwasanya menurutnya ada dua alur pemikiran mendasar sebagai landasan utama terbentuknya sikap dan pandangan di barat kepada perilaku kurang bersahabat terhadap alam dan lingkungan, yaitu:

Pertama, latara belakang filsafat Platonik yang menganggap alam nyata (physical world) tak berwujud dalam kaitannya dengan alam rasional manusia. Yang kedua, ajaran Yahudi-Kristen yang menempatkan alam dan lingkungan pada posisi yang lebih rendah dari martabat manusia.

Kedua ideologi di atas diperkuat oleh teori-teori modern yang dianut oleh manusia modern masa pencerahan mengantarkan dunia barat memperlakukan alam sebagai lahan eksperimen dan objek bagi pencapaian kenikmatan dan kenyamanan di bumi.

Seperti diketahui bahwa manusia modern mempunyai mentalitas individualisme, materialisme, sikap-sikap kemajuan dan mengutamakan akal rasio serta hilangnya nilai spiritualitas dalam diri sehingga manusia berani menelan dan merusak alam dan lingkungan dengan alasan perkembangan dan kesejahteraan.

Kita, hidup di dunia timur yang menjunjung tinggi dan menghargai alam sebagai sahabat dan alam merupakan bagian dari kehidupan manusia itu sendiri dan ajaran agama Islam pun tidak memperkenankan pemeluknya untuk merusak alam.

Tapi hari ini, manusia di dunia timur pun telah merusak alam dengan sewenang-wenangnya seolah-olah tidak memedulikan dampak yang terjadi di masa yang akan datang. Benarkah manusia modern benar-benar telah terjerumus dalam dunia materialisme tanpa ada lagi nilai kemanusiaan sebagai manusia yang berpikir?

Tak heran filosof Nietzshe yang pemikirannya menjadi pintu gerbang ke zaman postmodern karena pernah mengkritik manusia modern yang lebih mengutamakan individu dan jiwa-jiwa rasio yang gersang dalam melihat dunia.

Nah, dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa keangkuhan, ketamakan, dan mentalitas modern mendorong manusia berjiwa individualisme dan pragmatisme. Dengan mentalitas tersebut manusia berani menelan dan merusak alam. Manusia diciptakan tapi seolah-olah merasa sebagai pencipta alam semesta, bagi manusia yang merusak keindahan alam berarti ia telah merusak ciptaan Allah.