Peneliti
2 tahun lalu · 170 view · 3 min baca · Budaya 61727.jpg
https://scontent-sit4-1.xx.fbcdn.net

Manusia Manut Mesin

Sebagai mahluk cerdas dan pembaharu, ada banyak persoalan sepele yang sering kali menggugah naluri. Soal eksistensi individu, selalu mahluk sosial, serta hubungan kita dengan alam dan kemana perubahan ini mengarah. Sebenarnya, setiap hari kita berpeluang untuk menemukan kembali hakikat diri sebagai mahluk Tuhan yang paling lucu dan ekspresif. 

Pernahkah kita mencoba melakukan hal-hal di luar kebiasaan, sesuatu yang konyol atau tak terduga?Bisa dimulai dengan pertanyaan singkat, misalnya kepada mesin. Bertanyalah kabar pada mesin cuci: "Eh mesin, selamat pagi. Kamu baik-baik saja kan?" Sambil senyum-senyum.

Perhatikanlah, si mesin akan menjawab baik, dan akan selalu baik, sampai berkarat pun akan tetap baik.

Sayangnya, kita tak akan pernah menanyakan kabar ke mesin itu. Alih-alih bertanya, kita sepenuhnya telah percaya dengannya, kepada apapun yang berwujud mesin. Bagi kita mesin tetaplah objek yang anonimitas, wujudnya bisa beragam, tapi fungsinya tak akan pernah melewati batas selaku alat.

Manut mesin

Meski anonimitas, mesin tak bisa lagi lepas dari hidup manusia. Setiap apapun keperluan, kita selalu mempercayakannya pada mesin. Bukan lagi sekadar efesiensi dan efektivitas. Jawaban kasarnya, kita telah didera rasa malas berpikir, setelah semuanya diambil-alih oleh mesin.

Mesin telah merebut ruang-ruang dialektis kita sebagai mahluk berpikir. Dengan mobil, jaminan untuk sampai ke tujuan telah terjawab. Dengan laptop, hal-hal administratif dan tumpukan laporan akan rampung pada waktunya. Dengan googling, semua akan punya jawaban dalam waktu singkat. Dengan media sosial, informasi hoax dicerna layaknya fakta.

Semua terjadi seperti tak perlu dipersoalkan lagi. Bahkan kadang, kita pun telah menjadi mesin. Saat tak lagi muncul pertanyaan-pertanyaan sumir, kita akan menerima apapun sebagai sesuatu yang mesti. Ketika terjatuh, baru kita sadari kesalahan dasar yang telah kita lakukan: tidak sadar.

Akhirnya, kita tunduk dan patuh pada pengulangan-pengulangan. Yang terjadi pagi ini, begitupun kemarin dan esok adalah sebuah kemestian. Tak usah dipikirkan, memang begini adanya. Tak perlu ditanyakan lagi. Inilah kepasrahan yang jadi titik awal kepunahan. Manusia manut mesin, tak akan bertanya: “esok, apa lagi?”

Hoax dan kita yang merasa mengetahui semuanya

Di tempat kerja, semua hal-hal teknis sudah kita percayakan ditangani oleh mesin. Bahkan, plan A dan B atau C pun adalah wujud mesin dalam kerangka perencanaan. Sementara yang nonteknis, seperti hujan lebat, angin puyuh, demam tinggi, atau petir menyambar, bahkan kutukan, itu urusan di belakang.

Begitupun perilaku kita dengan mesin Google dan Medsos. Kita manut saja pada apapun yang disajikannya, tanpa mau repot kroscek. Antara yang benar dengan yang samar tak lagi berbatas, ukuran kita adalah rumus suka dan tidak suka. Perilaku inipun berlaku saat kita bereaksi terhadap hoax.

Alih-alih mengabaikan hoax, kita malah kadang ikut mengompori dan membagikannya dengan kepercayaan diri yang berlebihan.

Jika dahulu pra-aufklarung, sains dianggap pelopor modernitas dan telah menyelematkan peradaban manusia dari gelapnya dogma agama, kini modernitas patut digugat dengan segala implikasinya bagi sosial distrust.

Sebagaimana yang diprediksi oleh Jonathan Black, bahwa "Sains modern membunuh perasaan ingin tahu, dengan mengatakan kepada kita bahwa kita mengetahui semuanya. Sains modern membunuh filsafat, dengan mendorong kita untuk tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan besar tentang Mengapa. ... Pasrah saja."

Mengapa harus bertanya?

'Mengapa', kata singkat yang bisa jadi kunci untuk menyelamatkan diri dari tragedi hoax. Mengapa terjadi, mengapa mereka melakukannya, mengapa saya harus percaya, apa yang terjadi kalau saya dan semua orang percaya? Mengapa?

Karena semua ilmu dasarnya adalah kegelisahan yang melahirkan pertanyaan 'mengapa'. Semua jenis makalah, skripsi, tesis dan disertasi tak lengkap tanpa pertanyaan 'mengapa'. Meskipun pada akhirnya, setiap rumusan konklusif tetap terselip kata 'mengapa'.

Lalu, apa gunanya sains jika pada akhirnya manusia tak terselamatkan ketakutan dan kepura-puraan? Ini debatable bagi mereka yang percaya sains adalah sumber kebenaran. Tapi, sekali lagi, sains sendirilah yang memberikan kita kesempatan untuk melakukan revolusi berpikir, akhirnya melahirkan macam-macam revolusi turunannya, demokrasi, revolusi industri, restorasi, reformasi, hingga reklamasi.

Kalender waktu

Lihatlah saat hujan turun, yang kita ingat hanya payung (padahal dulu tanpa payung, kita pernah punya kenangan indah yang tak terlupakan). Ketika hujan, kita sibuk menyesali mengapa celengan kita belum cukup untuk beli mobil.

Mungkin kini kita lupa, kapan terakhir didongengi nenek. Atau, hal-hal mistis lainnya yang dahulu kata kakek justru menentukan keberhasilan manusia. Saat kecil di kampung, semua aktivitas dihentika saat waktu jelang magrib. Katanya, waktu remang-remang adalah masa peralihan yang perlu dilewati dengan tafakur atau mengumpulkan energi positif dengan berkumpul bersama keluarga di dalam rumah.

Tapi, seiring waktu, petuah orangtua menguap ditimpa mesin-mesin. Dahulu, kalender waktu sifatnya tentatif, tidak selamanya setiap pagi harus ke tempat kerja, oleh para tetua menetapkan waktu berdasarkan pengaruh alam, letak bintang, arah awan, teriknya matahari, gerak angin, dan kesiapan diri.

Kini, dimanapun jam kantor tetap sama, anda telat resikonya adalah potongan tunjangan.

Artikel Terkait