The System of Nature (1770) merupakan sebuah buku dari seseorang yang pertama kali menyebutkan kata "Ateis" di abad ke-18, Baron d'Holbach. Ia bersikeras bahwasanya sebuah sistem kehidupan harus terlepas dari dogma agama. Setiap individu berhak memimpin dirinya sendiri. Artinya, setiap orang harus menjadi alamiah dan terlepas dari aturan-aturan yang berada dalam kitab suci ataupun yang dibuat oleh manusia.

Seperti yang diungkapkan Holbach, "All children are atheist, they have no idea of God." Menunjukan bahwa hubungan tuhan dan manusia merupakan sebuah perkenalan, bukanlah sebuah gagasan yang tertanam sejak lahir. Seorang anak yang lahir dari keluarga ateis tidak akan diberitahu oleh ayah atau ibunya tentang kebenaran tuhan, sebaliknya dengan yang lahir dari keluarga penganut keagamaan.

Bagi orang beragama, ateisme bukan hanya sekadar ketidakpercayaan terhadap Sang Maha Pencipta, namun juga sebagai bentuk penolakan terhadap keberadaan Tuhan di mana doktrinisasi mereka terdapat unsur perlawanan. Walaupun bukan dalam bentuk perang fisik, tapi kehadiran gagasan-gagasan mereka diyakini merusak moralitas.di mana kata "kebebasan" dianggap oleh orang beragama mengandung konotasi negatif dalam setiap pergerakannya.

Bersamaan dengan bukunya Common Sense (1772), buku The System of Nature dikutuk oleh Kekaisaran Prancis dan dibakar salinan-salinanya di depan umum karena dianggap merusak moralitas orang-orang beragama pada saat itu. Jika orang ateis harus punya kitab suci, mungkin buku ini layak menjadi pedoman hidup mereka.

Berbicara tentang ateisme adalah pembahasan mengenai orang-orang yang melakukan penolakan terhadap agama atau ketidakpercayaan terhadap sang pencipta yang pada akhirnya selalu menimbulkan perdebatan selama berabad abad dengan orang-orang yang menganut kepercayaan terhadap Tuhan.

Salah satu penganut Ateisme peraih hadiah Nobel Kesusasteraan (1925), George Bernard Shaw, pernah mengungkapkan, "Fakta bahwa orang yang beriman lebih bahagia daripada yang tidak, tidak lebih dari fakta orang mabuk lebih bahagia daripada orang yang sadar. Kebahagiaannya berkualitas murahan dan berbahaya."

Shaw seperti menggambarkan kepercayaan terhadap agama belum sampai pada kesadaran sesungguhnya. Kemudian menjelma menjadi suatu bentuk egoisme dalam setiap individunya yang berakhir pada klaim negatif terhadap penganut ateisme selama berabad-abad.

Berbeda dengan Francis Bacon, bapak dari metode ilmiah yang menandai pemikiran ateisme sebagai bentuk kegagalan dalam memahami filsafat, di mana filsafat menurutnya adalah alat menuju kepastian dalam menemukan kebenaran mutlak yang sejatinya harus ada dan tertanam di dalam pemikiran manusia sebagai batasan dalam memahami konsep alam semesta. Hal ini ditandai dengan salah satu ungkapannya, "Sedikit filsafat dapat membawa orang pada ateisme. Namun filsafat yang mendalam dapat membawa orang pada agama."

Ateisme dalam pergerakannya dianggap sebagai sebuah kesesatan mutlak dalam doktrinisasi agama. Dikenal dalam dua agama samawi sebagai kafir dan domba-domba tersesat. Sebaliknya, penganut ateisme menganggap bahwa agama tidak punya peran penting dalam perdamaian dunia. Jika dilihat dari konflik sepanjang sejarah sampai konflik yang terjadi di Timur Tengah selama 50 tahun terakhir, mereka menganggap bahwa semuanya terjadi seakan-akan untuk misi keagamaan.

Perang salib, sebuah peperangan yang berkecamuk pada abad kesebelas hingga abad ketiga belas yang bertujuan untuk merebut kembali Jerussalem dari kekuasaan Islam. Pertempuran sengit antara kekhalifahan Ustmani dan Romawi Timur yang berakhir dengan jatuhnya Konstatinopel di tangan Islam dengan tujuan bukan hanya ekspansi dan pertahanan wilayah, tapi untuk misi penyebaran Islam.

Perang agama Eropa misalnya, pertempuran yang disebabkan oleh kemunculan reformasi Protestan di sebagian wilayah Eropa, yang kemudian berakhir dengan perjanjian Westfalen. Ini menunjukan bahwa sebuah perdamaian hanya akan terwujud setelah adanya pertumpahan darah yang kemudian disusul dengan perjanjian damai. Artinya, satu-satunya jalan keluar dalam mengatasi permasalahan umat manusia hanyalah dengan peperangan.

Misi keagamaan dianggap sebagai bentuk agresivitas kelompok-kelompok tertentu dalam pergerakannya mendapatkan kekuasaan demi menjaga kuantitas. Walaupun sebenarnya suatu agama dinilai baik dari kualitasnya, kuantitas tidak harus menjadi fokus peradaban suatu kaum.

Apa pun yang terjadi, bagi orang ateis, ajaran-ajaran agama akan selalu menjadi sebuah pembatas menuju kebebasan berpikir dalam menjalani kehidupan. Di sisi lain, agama mampu mencuri hati manusia dalam setiap perjalanannya. Agama mampu memberikan kebahagiaan hakiki bagi setiap pemeluknya. Agama mampu melahirkan sosok-sosok kharismatik, di mulai dari Muhammad SAW, Siddharta, Brahmana, hingga Mother Theresa yang mana sangat berkontribusi besar di setiap kemunculan mereka di zamannya.

Satu hal yang pasti, pencarian terhadap sebuah kebenaran mutlak merupakan tujuan hidup manusia. Selama masih ada kehidupan, manusia yang berpikir akan selalu mencari jawaban. Selebihnya, manusia hanyalah penerima konsekuensi dari apa yang diyakini.