Mahasiswa
2 tahun lalu · 188 view · 2 menit baca · Cerpen 66087.jpg
http://2.bp.blogspot.com

Manusia dan Senja

Aku terlahir disini, tempat tinggalku. Mereka menyebutnya kehidupan, tapi bagiku tempat ini tidak lebih dari sekedar Gua, yang memenjarakan pikiran manusia. Seandainya tanah dan kegelapan ini disebut ruang kehidupan maka tidak lebih dari sel tahanan yang begitu sempit, bau dan berdebu. Orang-orang didalam gua ini, mereka terbiasa hidup makan dan melakukan rutinitas aktifitas tanpa berhenti memikirkan mengapa ia terlahir di sini, tanpa ada pilihan meminta untuk terlahir di tempat lain, atau bahkan meminta untuk tidak dilahirkan sama sekali.

Gua ini begitu luas menurut kebanyakan manusia, tapi tetap saja tidak bagiku. Bagaimana mungkin kehidupan ini begitu luas? Sedangkan aku saja tak pernah berhenti memikirkan apa yang mereka pahami tentang luas. Luas? Omongkosong luas dengan segala keterbatasan ini. Tembok-tembok besar yang mengelilingi, batu-batu garnit yang menghiasi tiap sudut-sudut gua. Dan satu lagi, pintu gua yang selalu tertutup tanpa pernah terbuka sejak dahulu.

“Jangan ada satupun manusia yang membuka pintu ini” begitu ucap Si Ompung Tua berjenggot itu dengan nada santai dan lembut setiap ada manusia yang berusaha mendekat. Dia adalah penjaga pintu, selama aku hidup di sini dia masih dipercaya oleh leluhur untuk menjaga pintu itu.

Pintu itu seringkali di sakralkan oleh sebagian manusia, mulut gua itu terbuat dari kayu mahoni yang disusun oleh kakek-buyutku. Kehidupan ini, aku merasakan seperti dibatasi oleh pintu gua itu. Sekalipun banyak makanan dan segala bentuk benda-benda dengan sapuan bayangan kehidupan diluar sana. Aku tak begitu tertarik dengan segala yang ada disini. Sejak kecil, aku selalu diceritakan mitology oleh kedua orangtuaku bahkan setiap manusia yang tinggal di sini pun pasti mengenal mitologi. Aku masih teringat semua pesan dari orangtua, atau obrolan ringan sesepuh kakekku.

“Nak, kau harus tahu? Bahwa kita terlahir disini merupakan takdir dari Tuhan. Maka jangan sesekali kau berpikir untuk melampaui takdir dari Tuhan. Jangan sesekali kau mendekati gua di ujung sana. Kita tak pernah tahu kehidupan seperti apa yang ada disana, tapi sejak dahulu nenek moyang kita selalu berpesan untuk tidak mendekati itu karena merupakan perintah dari Tuhan.”

Seuntai mitology memang belum seutuhnya benar menurutku. Tapi kuyakin dibalik simbol-simbol cerita itu terselip filosofi yang begitu mendalam sampai-sampai cerita ini begitu abadi didalam pikiran semua manusia.

Aku masih terdiam di ruangan ini. Duduk dibangku kusam milik Si Ompung Tua. Dia, Si Ompung Tua masih berdiri menjaga pintu itu. Aku mencoba menatap sekeliling, indah memang tapi tak sedikitpun yang bisa menyentuh hati ini. Aku begitu tertarik pada satu lukisan yang menempel disamping pintu gua, lukisan itu bergambar bayangan seorang perempuan dengan latar belakang berwarna sapuan kuas merah yang dikelilingi biru langit. Aku mendekati lukisan itu, mengamati dari dekat. Lalu, tiba-tiba ada yang menepuk pundakku dari belakang.

“Itu adalah lukisan perempuan perindu kebijaksanaan yang diselimuti senja” ucap Si Ompung Tua.

“Tuan, apakah gambar yang ada pada lukisan itu benar adanya? Aku tak pernah melihat Senja di sini”

“Benar, hanya saja lukisan ini berasal dari seseorang yang pernah melewati pintu itu”

“Keindahan senja itu berada di luar sana Tuan?”

“Iya, tapi kau harus tahu bahwa ketika perempuan itu kembali membawa lukisan yang menggambarkan dunia luar. Kita sama sekali tak percaya, karena tidak ada teks naskah Tuhan yang pernah menceritakan gambaran dunia luar. Maka akhirnya perempuan itu diusir dari sini, karena dianggap akan membahayakan keyakinan kami terhadap teks suci Tuhan. Dan dia pergi, keluar meninggalkan gua. Dan berada di sana untuk selamanya”  

Aku hanya terdiam, terpaku mendengarkan bait-bait nasehat Si Ompung Tua. Ada rasa penasaran yang menyelimuti kemisteriusan perempuan dan senja itu. Dunia luar, mengapa perempuan itu berani keluar dari sini? Haruskah aku mengikuti jejaknya atau diam sampai mati ditempat ini.