Dunia saat ini ditandai oleh globalisasi. Anak kandung globalisasi adalah teknologi dan informasi. Perkembangan teknologi terjadi dikarenakan berkembangnya ilmu pengetahuan serta peradaban dari manusia itu sendiri.

Di bidang teknologi contohnya, ada begitu banyak kemajuan yang terjadi. Contohnya handphone, 10 tahun lalu mungkin hampir rata-rata semua handphone memiliki banyak tombol, namun sekarang kita bisa melihat bahwa handphone di zaman sekarang sudah tidak memiliki tombol lagi.

Hal ini menandakan bahwa kecerdasan manusia hari ini mampu mempengaruhi kemajuan teknologi saat ini. Yang berarti bahwa manusia bisa membawa perubahan bagi dunia dan peradaban.

Perkembangan teknologi dan informasi memang tidak bisa kita tinggalkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Manusia menciptakan teknologi dengan tujuan untuk memudahkan segala urusan mereka.

Tepat rasanya jika mengungkapkan betapa pentingnya pembahasan kali ini, yaitu mengenai bagaimana menghadapi tantangan kemajuan teknologi atau biasa kita sebut revolusi industri.

Seperti yang kita tahu, revolusi industri telah ditingkatkan secara fenomenal sejak berdirinya mesin uap oleh James Watt pada 1776. Dampak yang ditimbulkan pada saat itu adalah mudahnya seseorang untuk beraktivitas dalam kehidupan sehari-hari.

Revolusi masih terus dilakukan untuk membuat segala pekerjaan manusia menjadi lebih mudah. Di era modern saat ini setiap manusia dituntut untuk bisa memperluas dirinya untuk masuk kedalam kehidupan teknologi dengan mempelajari wawasan yang tepat tentang bagaimana revolusi industri ini akan terjadi..

Revolusi industri generasi keempat bisa dikatakan “memanusiakan manusia”, mengapa demikian? karena kita bisa melihat tenaga manusia hari ini sudah tergantikan dengan sistem digital atau bisa dikatakan pekerjaan yang biasa manusia lakukan itu sudah tergantikan dengan mesin atau sistem.

Generasi keempat ini bisa dikatakan sama sekali “tidak memanusiakan manusia” karena terlihat kesenjangan bagi manusia, bahkan bisa menimbulkan permasalahan bagi manusia bagi kedepannya dalam dunia pekerjaan khusunya.

Semakin majunya ilmu pengetahuan saat ini memang berdampak pada mudahnya untuk memperoeh sesuatu, dengan kata lain teknologi yang menjadi hasil dari perkembangan ilmu pengetahuan bisa memudahkan manusia di era digitalisasi saat ini.

Contoh salah satu kasus yang terjadi hari ini yaitu seperti layanan go-food. 10 bahkan 5 tahun lalu, ketika manusia ingin membeli kebutuhan pangan mereka, mereka harus pergi ke tempat yang mereka inginkan untuk membeli makanan.

 Hari ini manusia tidak perlu lagi melakukan itu untuk bisa membeli makanan, cukup dengan sebuah handphone berbekal aplikasi mereka bisa memperoleh makanan yang mereka inginkan dengan mudah dan cepat. Cukup instan bukan? 

Inilah yang menjadi tantangan bagi manusia untuk bisa lebih mengembangkan kemampuannya agar tidak kalah bersaing dengan ciptaannya sendiri. Namun tak dapat dipungkiri, semakin cerdas manusia menciptakan sesuatu, semakin ia tersingkir dari kehidupannya. Hal ini dapat kita temukan dengan apa yang disebut Artificial Intilegence atau disingkat AI. Apa sesungguhnya AI itu?.

Sebuah artikel yang berjudul : “Siri, Siri, in my hand : Who’s the fairest in the land ? on the interpretations, illustrations, and implications of artificial intilegence”. Andreas Kaplan dan Michaele Hainlein mendefinisikan kecerdasan buatan sebagai : “System’s ability to interpret external data correctly, to learn from such data, and to use those learnings to achieve specific goals and task through flexible adaptation”. Kemampuan sistem ini untuk menafsirkan data external dengan benar, belajar dari data tersebut, dan menggunakan pembelajaran tersebut untuk mencapai tujuan dan tugas tertentu melalui adaptasi yang fleksibel.

Para ilmuwan membagi kecerdasan buataan menjadi 3 tipe, yang pertama adalah ANI atau Artificial Narrows Intilegence kecerdasan buatan yang sifatnya sempit, minimalis atau terbatas hanya pada satu jenis tugas tertentu. Tipe kedua adalah AGI, Artificial General Intelligence atau Strong AI. AGI adalah AI yang memiliki kecerdasan umum yang sama dengan kecerdasan rata-rata manusia. Ketika AI sudah sampai ke tahap AGI, maka ia sudah dapat melakukan segala jenis pekerjaan atau tugas yang sama yang dapat dilakukan oleh umumnya manusia. Tipe terakhir, ini adalah tipe yang bagi sebagian kalangan dianggap mengerikan, adalah ASI atau Artificial Super Intelligence. Stephen Hawking pernah menyatakan pendapatnya di BBC bahwa AI bisa menjadi penyelamat atau penghancur ras manusia.

Agar bisa menghadapi tantangan dan ancaman AI, manusia diwajibkan memiliki ketrampilan yang baru untuk dapat mengikuti kemajuan teknologi saat ini. Contoh sederhana untuk memiliki sebuah keterampilan dengan mengasah sofskill kita seperti berkomunikasi, manajemen waktu, dan bagaimana bekerja dalam tim serta bagaimana membuat sebuah keputusan yang bijaksana.

Dengan ditingkatkannya beberapa aspek softskill diatas, diharapkan bisa membantu para pekerja untuk mendapatkan lapangan pekerjaan dimasa yang akan datang. Namun jika tidak, maka manusia akan masuk kedalam kelompok useless class.

Sebutan tersebut dikatakan oleh Yuval Noah Harari, seorang sejarawan dan penulis buku sapiens. Dalam pidatonnya pada acara TED menyatakan bahwa manusia bukan satu-satunya mahluk intelek yang ada di dunia ini. 

Dalam konferensi internasional tersebut. Yuval mengatakan bahwa manusia memimpin dunia ini karena lebih dari sekadar intelek. Manusia bisa bekerjasama jauh lebih fleksibel. Namun sayangnya tidak semua manusia memiliki level intelektual yang sama.

Katja Grece dari Future of Humanity Institue, Oxford University memimpin penelitian untuk menganalisis dampak AI terhadap kehidupan manusia.

Pada penelitian tersebut, mereka melakukan survei terhadap 352 ilmuwan terkemuka guna menemukan jawaban atas pertanyaan berapa lama mesin khususnya AI bisa mengungguli manusia dalam hal melaksanakan pekerjaan?.

 Survei tersebut memberikan hasil bahwa manusia akan tetap aman untuk bekerja dengan tenang tanpa khawatir bakal digantikan oleh mesin khususnya AI untuk beberapa waktu kedepan. Para pakar memprediksi masih ada waktu sekitar 120 tahun agar AI bisa menggantikan peran manusia dalam dunia pekerjaan.

Bagaimanapun juga secanggih-canggihnya mesin AI, masih lebih canggih mesin yang mendesain mesin AI itu sendiri. Yah, mesin itu adalah otak manusia yang telah diciptakan Tuhan, yang telah diberikannya akal budi yang melalui akal budi itu manusia dapat berpikir dan bertindak serta mengambil sebuah keputusan yang tentunya tidak bisa dilakukan mesin secanggih AI.

 Solusi untuk menghadapi tantangan ini yaitu manusia harus bisa saling berdampingan dengan teknologi saat ini agar bisa menimbulkan relasi timbal-balik. Berdasarkan solusi praktis di atas, penulis yakin, manusia tidak dapat tersingkir dari dunia kerjanya, bahkan dunia ini.

Menurut logika Aristoteles salah satu filosof Yunani, semua di dunia ini selalu mengalami perubahan. Secanggih apapun sistem AI, ia tidak akan pernah berpotensi untuk menjadi ataupun menciptakan manusia, namun manusia yang telah diberikan akal oleh sang pencipta tentu berpotensi dan mampu menjadi lebih dari Artificial intilegence itu sendiri.

  Pada akhirnya penulis pun yakin jika kita mengumpulkan bekal lebih matang untuk menghadapi era itu, maka AI tidak akan bisa menggantikan peran manusia secara fundamental karena sesungguhnya otak manusia itu dinamis dan secara naruliah selalu menyesuaikan dengan keadaan.