Katanya semakin dewasa seseorang semakin jarang buat status di media sosial, benarkah?

Permasalahan curhat di media sosial sering kali menjadi stigma belum dewasanya seseorang. Sebagai makhluk sosial, mencurahkan pikiran, perasaan dan isi hati atau biasa disebut curhat merupakan sesuatu hal yang wajar dan biasa dilakukan sejak dahulu kala. kebutuhan akan interaksi sosial dan sosialisasi antar individu membuat manusia saling berkomunikasi serta bertukar pikiran satu sama lain.

Perkembangan peradaban manusia yang semakin maju membuat manusia harus beradaptasi dengan kemajuan zaman terutama dalam hal teknologi. Teknologi merupakan keseluruhan sarana untuk menyediakan kebutuhan manusia dan kenyamanan hidup manusia. keberadaan teknologi banyak mempengaruhi kehidupan masyarakat. Salah satunya adalah perkembangan teknologi komunikasi.

Teknologi komunikasi berkembang pesat dari mulai kentongan, hp nokia sampai dengan gadjet memberikan perubahan yang signifikan. Perubahan tersebut juga berdampak pada perubahan nilai dan norma yang ada dimasyarakat. Misalnya jika pada zaman dahulu kala orang bersilaturrahmi dengan bertemu langsung dengan orangnya, maka sekarang bisa dilakukan tanpa beranjak dari tempat tidur hanya dengan gadget. Terlebih ditambah dengan kelengkapan fitur aplikasi dan media sosial seperti whatsapp, instagram, facebook, twitter dan lain-lain semakin membuat manusia dimudahkan dalam berinteraksi dengan yang lain.

Media sosial pada dasarnya berperan sebagai media informasi dan edukasi bagi penggunanya. Pada media sosial terdapat beberapa fitur yang memungkinkan kita untuk menulis apa yang kita ingin tuliskan untuk kemudia di post dan dibaca oleh publik, hal ini yang kemudian memberikan permasalahan baru karena setiap orang memiliki hak untuk mengutarakan pendapatnya, menulis apa yang ingin dia tulis tanpa dibatasi oleh apapun. Tetapi disisi lain, sebagi makhluk sosial kita dihadapkan dengan nilai, norma yang mau tidak mau mengikat seorang individu kedalam aturan society

Apa yang pantas dan tidak, apa yang boleh dan tidak serta apa yang seharusnya dilakukan pun diatur secara kolektif oleh society. Lalu bagaimana dengann sikap kita?

Rasanya pembahasan kita melebar kayak lapangan sepak bola nih, coba kita persingkat langsung kepada inti dari tema kita bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk bertukar pikiran dan perasaan dengan sesama manusia. keberadaan teknologi membuat manusia dapat membagikan pikirannya secara terbuka kepada semua orang sehingga orang bebas berkomentar atas statement yang dituliskan di media sosial baik itu positif maupun negatif. 

Kecenderungan untuk bertukar pikiran atau perasaan merupakan suatu yang wajar terjadi. Seperti halnya manusia perlu membuang sisa-sisa pencernaan diperut menjadi feses, menghidup oksigen lalu membuang karbon dioksida, begitu juga apa yang ada didalam kepala perlu untuk di keluarkan. Saya menganalogikannya sebagai "Nyampah" atau membuang sisa-sisa yang tidak kita perlukan lagi.

Nyampah merupakan suatu kebutuhan yang kadang tidak kita sadari sepenuhnya. Kegiatan nyampah sangat penting guna membuang sisa-sisa pikiran yang tak penting dan hanya memenuhi kepala saja. Kegiatan Nyampah sangat baik dilakukan untuk melegakan pikiran dari berbagai macam informasi, asumsi, berita yang masuk jadi satu kedalam otak kita. Perlu diketahui bahwa nyampah memiliki bentuk yang berbeda-beda. seperti halnya sampah yang harus dibedakan menurut jenis sampahnya, begitu juga dengan nyampah satu ini. 

"Nyampah yang baik adalah nyampah pada tempatnya"

Misalnya begini, saya seringkali memilah kemana saya akan curhat ke teman -teman. Saya akan diskusi tentang masalah financial, pertemanan, pandangan hidup, hal-hal konyol dan bahkan urusan perbucinan ke teman yang berbeda dan saya percayai sesuai dengan interest dan kenyamanan masing-masing.

Lalu bagaimana jika tak punya teman dekat untuk bertukar pikiran?

Hemmm sebenarnya kita tak perlu menunggu ada teman dekat untuk bisa bertukar pikiran karena semua orang dapat kita jadikan tempat nyampah asalkan kita tahu batasan mana yang bisa diceritakan dan mana yang tidak. 

Saya pernah difase itu dan media sosial sering menjadi pelampiasan yakni dengan banyak membuat status atau curhat di media sosial. Setelah saya menemukan teman yang cocok untuk diajak bertukar pikiran, kebiasaan saya lama-kelamaan mulai berkurang dan saya tidak lagi kecanduan membuat status seperti sebelumnya. 

Maka dari itu, sebenarnya orang-orang yang curhat dimedia sosial merupakan orang-orang yang belum menemukan teman curhat yang bisa dipercaya, mereka perlu nyampah tetapi tempat nyampahnya tidak ada, jadinya ya nyampah sembarangan to dimedia sosial, dilihat banyak orang, dikomentari secara bebas lalu diberikan stigma bla bla bla..

Nyampah di media sosial tentu tidak ada salahnya, hanya saja sebaiknya kita tahu mana masalah yang bisa kita share ke publik dan masalah pribadi yang memang tidak semua orang boleh tau,

Terakhir, hidup di jaman kecanggihan teknologi memang harus punya kehati-hatian dalam setiap sikap, agar segala yang kita lakukan tidak berdampak buruk bagi kita dikemudian hari..