Secara filosofis, air merupakan unsur vital dalam kehidupan dan kelangsungan hidup makhluk biotik di muka bumi. Tidak hanya menunjuk pada keberadaannya sebagai unsur yang membentuk bumi, air tetapi juga dianggap sebagai asal-usul alam, sebagaimana yang diungkapkan oleh filosof Yunani kuno, Thales (sekitar 624-546 SM). Menurutnya, air adalah prinsip awal (arche) kehidupan di alam semesta. 

Air merupakan anasir dasar yang menghidupkan dan memunculkan segala sesuatu. Dengan independensi kekuatan dan daya kreatifnya, air mampu tampil dalam segala wujud, bersifat mantap, dan tak terbinasakan. Lebih lanjut, Thales berargumentasi bahwa setiap makanan yang dikonsumsi oleh seluruh makhluk hidup mengandung air, dan dalam hidupnya, seluruh biotik memerlukan dan bergantung pada air. Di samping itu, air juga dapat berubah-berubah bentuk —padat, cair, gas— tanpa tereduksi.

Terlepas dari pemikiran Thales tersebut, tidak dipungkiri, air merupakan salah satu komponen penting yang membentuk bumi—selain daratan dan atmosfir—, dimana tiga perempat bagian bumi dipenuhi dengan air. Bahkan, hal yang menarik untuk menjadi refleksi, bahwa dalam tubuh manusia pun mengandung air dalam proporsi bagian yang hampir sama dengan bumi tersebut.

Pada kajian ilmu alam, air dikenal dengan istilah hidrogen (H2O), yaitu benda cair yang terdiri dari oksigen dan hidrogen dalam kadar-kadar tertentu. Pada tiap tetes air terkandung jutaan molekul yang saling berpegangan, namun tidak terlalu erat, sehingga dengan mudah dapat lepas dan berpindah ikatan. 

Karena itu, seluruh makhluk hidup tidak perlu mengunyah air, tetapi cukup dengan meneguknya. Dalam cakupan sifatnya yang spesifik, air akan mendidih pada suhu 100 derajat celcius. Kemudian jika turun sampai ke bawah 0 derajat celcius, air akan membeku menjadi es, dan akan menguap apabila temperaturnya berada di atas 110 derajat celcius.

Tidak dipungkiri, air merupakan komponen penting dalam kehidupan makhluk hidup, baik sebagai ekosistem bagi biotik-biotik yang hidup di air maupun untuk memenuhi kebutuhan hidup dan pemeliharaan biotik-biotik lainnya. Urgensi air tersebut, pada perkembangannya dibukti oleh penemuan-penemuan yang dihasilkan dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan, seperti sitologi, biokimia, fisiologi dan sebagainya.

Dalam sitologi—ilmu tentang susunan dan fungsi sel—, dinyatakan bahwa air merupakan komponen terpenting dalam pembentukan sel yang merupakan unit organisasi terkecil yang menjadi dasar kehidupan—biologis— pada setiap makhluk hidup, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan. 

Sementara pada biokimia, dijelaskan bahwa air menjadi unsur yang sangat penting dari setiap interaksi dan perubahan yang terjadi dalam tubuh makhluk hidup. Di sini, air dapat berfungsi sebagai media, faktor pembantu, bagian dari proses interaksi, atau bahkan hasil dari proses interaksi itu sendiri. 

Sedangkan dalam fisiologi, dijelaskan bahwa air sangat dibutuhkan oleh tiap-tiap organ agar dapat berfungsi dengan baik. Sederhananya, tidak adanya air menjadikan organ-organ tidak berfungsi, dimana pada gilirannya dapat menyebabkan kematian.

Dalam perspektif antropologis, air merupakan unsur vital dalam kehidupan dan kelangsungan eksistensi manusia. Keberadaan air tidak hanya mutlak untuk memenuhi kebutuhan fisiologis, tetapi juga menjadi elemen penting dalam konstruksi dan pengembangan peradaban. 

Pada aspek fisiologis manusia, air berfungsi sebagai pembangun tubuh dan menjadikannya kokok, berperan dalam sistem peredaran atau transportasi, menjaga kestabilan suhu tubuh, sebagai zat pelumas dalam gerakan otot, dan sebagainya. 

Sementara pada konstruksi peradaban dan kebudayaan, perkembangan peradaban Mesopotamia yang didukung dengan keberadaan ekosistem air (baca: sungai) Eufrat dan Tigris, peradaban Mesir Kuno dengan sungai Nil, peradaban Cina yang ditopang oleh sungai Huang Ho, peradaban India dengan sungai Indus dan Gangga, serta peradaban-peradaban lainnya, tidak bisa dilepaskan dari keberadaan air dalam berbagai locus manifestasinya. 

Demikian pula dengan pengembangan kebudayaan kerajaan Sriwijaya yang didukung oleh aliran sungai Musi dan Batanghari, kerajaan Mataram dengan Bengawan Solo, kerajaan Kediri dan Majapahit yang ditopang oleh sungai Brantas, dan sebagainya.

Dalam hubungannya dengan keberadaan air dan ekosistemnya di atas, pada gilirannya, manusia mampu mengembangkan pola-pola budaya secara dinamis. Pada tataran ini, misalnya perkembangan bidang pertanian sebagai bagian dari sistem mata pencaharian hidup, mengarah pada munculnya teknologi irigasi dalam berbagai pola manifestasi dan tradisinya. 

Keberadaan ekosistem laut dan sungai turut mendukung pengembangan teknologi transportasi air, baik perahu dan kapal dalam konstruksinya yang khas, dimana tidak hanya berfungsi sebagai sarana transportasi secara umum, tetapi juga mempengaruhi pola-pola perdagangan air, terutama sungai. 

Begitu pula dengan hubungan internasional pulau-pulau di dunia dan sejarah kolonialisme Barat (Eropa) di wilayah-wilayah lain, di mana tidak bisa dilepaskan dari perkembangan teknologi perkapalan dan pelayaran yang seluruhnya menunjuk pada keberadaan laut, baik dalam upaya penjelajahan dan penemuan pulau-pulau baru maupun dalam penaklukan wilayah koloni yang dilakukan dengan dukungan teknologi persenjataan kapal-kapal perang.    

Ketersediaan maupun kelangkaan air dan ekosistemnya juga menjadi faktor penting dalam perkembangan sistem kepercayaan dalam masyarakat, baik yang mengarah pada keyakinan maupun dalam bentuk ritual-ritual tertentu yang variatif. Hal ini dapat dilihat dari munculnya identifikasi manusia terhadap kekuatan supranatural yang dianggap sebagai “dewa-dewa penguasa air”, “dewa maupun dewi kesuburan”, dan sebagainya, yang tentunya tidak bisa dilepaskan dari posisi dan peran air yang sangat besar dalam kehidupan manusia. 

Keberadaan Dewa Wisnu dalam kehidupan masyarakat Hindu, dewa Enki dalam mitologi Mesopotamia, Poseidon dan Neptunus yang merujuk pada dewa laut dalam mitologi Yunani dan Romawi, keberadaan Long Wang (dewa air) dan Qi Yu (dewa hujan) dalam mitologi Cina, dewi Sri pada masyarakat Jawa tradisional, merupakan realitas historis  yang tumbuh dan berkembang terkait sistem kepercayaan masyarakat dalam kaitannya dengan keberadaan air.

Sementara keberadaan ritual-ritual, seperti shalat sunat istisqa’ (shalat/ doa minta hujan) dalam tradisi Islam, kultusisasi terhadap sumber mata air sebagaimana yang tampak pada taburan bunga-bunga di sekitar mata air tersebut, tradisi labuhan atau sedekah laut dalam tradisi masyarakat nelayan di Jawa bagian selatan, dan sebagainya, turut mempertegas adanya upaya harmonisasi dalam sifatnya yang transendental, terkait permasalahan air dan urgensinya dalam kehidupan manusia secara keseluruhan. Di samping itu, dalam tradisi agama-agama dan kepercayaan tradisional, air merupakan media universal, sekaligus simbol dalam ritual pencucian diri, material maupun spiritual.  

Kemudian dalam sejarah pembangunan kota-kota besar, baik di Indonesia maupun di dunia, selalu dimulai dengan pembangunan saluran air dan media penampungannya. Dalam hal ini, terdapat sebuah pemahaman dan kesadaran bahwa ketersediaan air dan manajemen pengelolaannya memainkan peran utama dalam pembangunan kota, dan bukan sebaliknya, yang dimulai dengan pemukiman terlebih dulu.

Menilik posisi dan peran air di atas, tidak dipungkiri bahwa keberadaan air merupakan unsur vital dalam perkembangan peradaban dan kebudayaan sebuah masyarakat, dimana hal tersebut tidak bisa dipisahkan dari hubungan yang terjalin antara manusia dengan air itu sendiri. Pada gilirannya, hubungan tersebut melahirkan konstruksi pandangan dan pemahaman terhadap air itu sendiri, terutama dalam upaya menjaga eksistensi dan keberlangsungan kehidupan, baik manusia maupun masyarakatnya.