85489_52485.jpg
Filsafat · 3 menit baca

Manusia Bukanlah Budak Waktu

Ada pepatah yang mengatahkan bahwa waktu adalah uang. Jika disimak secara seksama, pepatah ini mengandung makna bahwa barang siapa menyia-nyiakan waktu dalam kehidupannya berarti sedang menyia-nyiakan uang. Sebab membuang waktu sama halnya seperti membuang kesempatan untuk mendapatkan uang. 

Pepatah ini sepertinya telah mendarah daging bagi banyak orang di dunia ini. Hal ini terbukti bahwa masing-masing orang mulai menyadari akan pentingnya waktu. Sehingga dalam setiap detik, menit hingga setiap jamnya dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh setiap orang.

Sebut saja seorang pelajar yang memanfaatkan waktu luangnya secara maksimal. Di saat dosen tidak sempat hadir, waktu luang tersebut dimanfaatkan untuk membaca dan belajar di perpustakaan.

Berbanding terbalik dengan itu, ada juga banyak orang yang kurang paham akan pentingnya waktu. Di mana ada banyak waktu yang dihabiskan dengan sesuatu yang tidak menghasilkan apa-apa. Kurangnya pemahaman tentang waktu dapat menimbulkan dampak yang cukup serius dalam hidup. 

Sebut saja seorang pelajar yang terlambat masuk sekolah karena begadang semalaman untuk menyaksikan piala dunia. Keterlambatannya yang walaupun hanya lima menit dapat menyebabkan efek yang besar dalam kehidupannya. Karena terlambat, ia tidak diizinkan untuk masuk kelas dan yang parahnya adalah ketika pelajaran pada hari itu menjadi bahan yang diujikan dalam ujian. Akibatnya pelajar ini tidak lulus dan harus mengulang pada semester berikutnya. 

Ada banyak kerugian yang dialami oleh pelajar ini akibat keterlambatannya. Adapun kerugian yang dialami secara financial, fisik dan juga waktu.

Berbicara tentang waktu tidak bisa dilepaskan ataupun dipisahkan dari manusia. Hal ini karena pada dasarnya manusia ada dan hidup dalam waktu. Keberadaan manusia dalam waktu menjadikan segala sesuatu yang berkaitan dengan manusia dapat diukur dalam waktu. 

Pengukuran akan waktu dilakukan oleh manusia menggunakan perhitungan detik, menit dan jam. Perhitungan-perhitungan tersebut membantu kita dalam memahami waktu. Namun apakah kita sungguh-sungguh memahami waktu saat kita melakukan perhitungan tersebut?

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering memahami waktu melalui sebuah tindakan nyata. Tindakan nyata tersebut memberi pemahaman kepada kita akan waktu. Pemahaman tersebut berupa pemahaman akan waktu awal, waktu akhir, serta durasi atau lamanya waktu dari sebuah tindakan nyata yang dilakukan. 

Waktu juga merupakan suatu entitas terpenting dalam kehidupan manusia. Di mana melalui waktu kita dapat memberi makna pada setiap tindakan yang dilakukan. Bahwa setiap moment yang dilakukan oleh manusia akan hanya dilakukan sekali seumur hidup, tidak akan ada suatu kejadian yang sama persis terjadi dua kali atau lebih. Karena pada dasarnya waktu tidak dapat di ulang kembali atau di putar kembali.

Pemahaman tentang waktu pernah digagas oleh seorang filsuf di Abad Pertengahan, yakni Agustinus. Agustinus dalam bukunya “Pengakuan-pengakuan” mengatakan bahwa waktu terbagi dalam tiga pemahaman. Pertama, waktu lampau, diartikan sebagai waktu yang telah berlalu dan sudah tidak ada. Waktu lampau hanya menjadi kenangan yang ada dalam ingatan. 

Kedua, waktu kelak atau masa depan, diartikan sebagai waktu yang belum ada karena waktu kelak masih berupa rencana yang belum ada. 

Ketiga adalah waktu kini, diartikan sebagai waktu yang sedang berlangsung. Waktu kini hampir sama sekali tidak memiliki durasi karena berlangsung sangat cepat. Dalam pandangan Agustinus, waktu kinilah yang merupakan waktu yang sesungguhnya. Karena waktu kini sunguh-sungguh ada, sedangkan waktu lampau sudah tidak ada dan waktu kelak belum ada.

Dalam pemahaman kita sehari-hari, ketiga pembagian waktu di atas sering dipandang sebagai satu kesatuan dari waktu. Perbedaan ketiganya hanya membantu kita untuk melihat mana yang sudah terjadi, yang sedang terjadi dan belum terjadi, namun kita tidak melihat waktu kini sebagai waktu yang benar-benar ada dan kedua lainnya sebagai yang tidak ada.

Berbicara tentang masa lalu, masa kini dan masa depan juga tidak terlepas dari kehidupan kita sebagai manusia. Kita sering mengingat-ngingat masa lalu, dan berencana akan impian-impian kita di masa depan. Ingatan akan masa lalu dan rencana akan masa depan membuka polemik baru dalam hidup kita. 

Manusia sering memberi porsi besar akan apa yang telah berlalu dan akan apa yang direncanakannya di masa depan. Besarnya porsi berpikir yang diberikan bagi masa lalu dan masa depan menimbulkan kurangnya konsentrasi kita pada masa kini.

Pandangan Agustinus diharapkan mampu membuka pemikiran kita akan pentingnya “ waktu” kini. Sekiranya pandangan ini membuka cakrawala berpikir kita untuk fokus dan terarah pada masa kini yang sungguh-sungguh sedang berada di hadapan kita. Kesalahan umum yang sering kita lakukan adalah membiarkan kita dituntun oleh waktu. Sehingga waktu membawa kita pada masa lalu dan masa depan, akibatnya kita melupakan masa kini. 

Baca Juga: Arkais Waktu

Kita sering sekali mengabaikan masa kini, mengenangkan masa lalu dan melihat masa depan. Perlu dipahami bahwa yang ada adalah waktu kini, di sini dan saat ini bukan masa lalu dan masa depan yang jelas-jelas tidak ada. Waktu bukalah penentu kita, melainkan kitalah yang harus menentukan waktu. Jadilah penentu dari waktu, bukan budak dari waktu.

Daftar Pustaka:

Agustinus, Pengakuan-pengakuan ( judul asli Confessiones) diterjemahkan oleh Winasih Arifin dan Van den End , Kanisius, Yogyakarta; 1997.