Penelitian mengenai virus corona terus dilakukan oleh para peneliti di berbagai belahan dunia. Bagaimana virus corona berevolusi dan menyebar adalah pertanyaan yang menyebabkan perdebatan banyak orang. Hal ini pun memicu spekulasi tentang asal mula virus yang sedang menjadi pandemi di penjuru bumi.

Terlepas dari kesimpangsiuran terkait asal-usul virus corona, termasuk spesies hewan apa yang menularkan virus tersebut kepada manusia, yang masih terus digali oleh para peneliti, wabah corona mengingatkan kita bahwa sesungguhnya manusia terhubung erat dengan alam. Kita selaku manusia adalah satu keluarga dengan makhluk-makhluk lain di alam semesta ini.

Banyak sekali manusia yang melakukan eksploitasi secara serakah dan konsumsi barang secara berlebihan, mulai dari menimbun masker, hand sanitizer hingga bahan pokok pun dieksploitasi secara serakah oleh manusia yang ingin mendapatkan keuntungan, dan masih banyak hal lainnya yang dilakukan oleh makhluk hidup yang sering disebut dengan human (manusia).

Dengan tidak memperhatikan lingkungan masyarakat di sekitar yang justru lebih membutuhkan barang-barang tersebut, hal tersebut tidak saja mengancam kelangsungan hidup manusia saja, tetapi juga mengancam kehidupan manusia bahkan alam secara keseluruhan.

Jika kita menyimak dengan baik dan benar tentang bagaimana awal mula dari kisah dan penyebaran virus corona, maka terlihat  jelas bahwa manusia dan alam, seperti ditulis Fritjof Capra dalam bukunya The Turning Point, Science, Society and the Rising Culture (1988), merupakan sebuah sistem kehidupan (a system of biology) yang saling terjalin dan saling memengaruhi satu sama lain.

Dari perspektif filsafat lingkungan, kesatuan manusia dengan alam tampak jelas dalam relasi manusia dengan lingkungan sekitarnya. Identitas manusia seperti yang dicatat oleh Arne Naess, Ecology, Community, and Lifestyle (1989), manusia bahkan tidak bisa dipisahkan dari alam, karena alamlah yang membentuknya.

Dengan kata lain, keberadaan dan makna kehidupan manusia dalam segala tingkatan, baik pada level biologis sampai level ekonomis dan spiritual, tidak bisa dilepaskan dari keberadaan alam semesta dan seluruh isinya.

Sampai di sini, dapat kiranya kita pahami bahwa mengapa virus ini dengan mudah dan cepat menyebar ke seluruh dunia. Sebab, medianya adalah udara dan benda-benda lain yang tersedia secara berlimpah di alam. Yang pada dasarnya kita sebagai manusia tidak pernah bersyukur terhadap apa yang telah alam berikan kepada kita, yaitu udara yang segar.

Kedekatan dan kesatuan ini seharusnya menjadi alasan bagi manusia untuk mengupayakan selalu hubungan harmonis dengan alam beserta isinya dengan cara menghormati, merawat, dan memeliharanya. Sayangnya, kita gagal untuk mengusahakan keharmonisan itu.

Namun manusia justru salah dan jatuh dalam cara pandang yang menganggap alam sebagai materi semata yang terpisah darinya. Bagi manusia alam justru dipahami sebagai sesuatu yang ada di luar dirinya dan hanya bernilai sebagai pemanfaat hidup untuk manusia tersebut. Sehingga alam dieksploitasi dan dikonsumsi tanpa belas kasihan demi kepentingan semata. Kita sebagai manusia seakan lupa bahwa ketika alam rusak dan mengalami krisis, tidak saja alam, kita manusia pun ikut menderita.

Pandemi corona yang sementara melanda seluruh dunia saat ini, kiranya bisa menjadi contoh jelas untuk itu. Corona menjadi semacam cermin untuk menyadarkan kita, bahwa jika saat ini hidup dan keberadaan kita terancam dan kritis, hal itu sesungguhnya karena kita gagal memahami dengan baik dan benar siapa kita, posisi dan peran kita di dalam alam.

Singkatnya, kita menderita dan terancam mati karena kita tidak memandang keberadaan kita dan alam sebagai sebuah sistem kehidupan.

Jika Covid-19 adalah penanda yang mengingatkan kita bahwa krisis ini terjadi karena campur tangan berlebihan manusia terhadap alam, maka mengatasinya tidak cukup hanya dengan mencuci tangan, memakai masker, dan social distancing. Sebagai tindakan preventif, khususnya untuk memutus rantai penyebaran Covid-19, praktik seperti itu memang diperlukan saat ini.

Namun, dalam jangka panjang, secara mendalam dan mendasar yang diperlukan, sebagaimana diserukan oleh Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si (2015), adalah sebuah pertobatan ekologis. Dasarnya, karena akar utama krisis ekologis terletak pada cara pandang kita yang keliru terhadap alam, posisi dan peran kita dan hubungan kita dengan alam.

Oleh sebab itu dengan adanya pandemi covid-19 ini kita sebagai manusia sudah seharusnya lebih peka lagi terhadap lingkungan dan alam yang ada di sekitar kita, dan manusia harus menyadari bahwa alam dan manusia merupakan ciptaan yang sama di mata Tuhan.

Jadi Kesimpulannya, krisis ini dapat kita atasi dengan cara pendekatan dan kesadaran kita secara menyeluruh, serta menjaga alam kita dengan sepenuh hati. Oleh sebab itu mari kita mulai dengan membiasakan merawat diri dan alam di sekitar kita. Sebab, siapa yang setia merawat dan memelihara alam, maka alam pun akan merawat dan memeliharanya.