Penolakan mungkin adalah hal yang pertama kita lakukan pada saat membaca kalimat manusia adalah budak. Mengapa kita merasa terganggu saat disandingkan atau diposisikan dengan yang dipandang “rendah”? 

Karena kita merasa bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk hidup yang memiliki akal budi dan pengetahuan.


Pertanyaannya adalah apakah kita benar-benar diposisi yang tinggi? Apalagi, saat terdapat teori-teori yang membandingkan manusia dengan hewan atau manusia sebagai hewan yang berakal budi. Terkadang membuat saya bertanya lebih baik mana berada di posisi yang tinggi atau berada di posisi yang rendah?


Tetapi, kali ini saya tidak akan membahas tentang posisi dan kehendak manusia. Hal terpenting pada pembahasan kali ini adalah pada kata terakhir yaitu ‘kebahagiaan’. Jika melanjutkan pertanyaan saya sebelumnya dengan konteks kebahagiaan. Maka, apakah posisi menentukan kita bahagia atau tidak?


Pernahkah kita melihat orang yang duduk di pinggir jalan yang mengangkat setengah tangannya dengan posisi telapak menghadap keatas? Atau pernahkah kalian melihat orang yang berpergian dengan mobil pribadi dan lengkap dengan aksesoris bermerk? Menurutmu, apakah mereka sudah bahagia?


.Jadi, apa itu kebahagiaan? Seperti apa orang yang bahagia itu?

Konsep kebahagiaan nampaknya sudah dibahas oleh tokoh zaman Yunani Kuno seperti Sokrates, Plato, Aristotles,dll. 

Sepertinya 3 tokoh tersebut sepakat bahwa kebahagiaan (eudaimonia) adalah tujuan akhir manusia (keutamaan). Tetapi, salah satu tokoh yang akan menjadi dasar pemikiran pada penulisan kali ini adalah Aristotles.

Keutamaan Aristotles

Sokrates dan Plato berpendapat bahwa dengan mengetahui apa yang baik bagi diri manusia, maka secara otomatis manusia akan berbuat baik sesuai dengan pengetahuannya.[1] Mengadaptasi para pendahulunya, Aristotles membangun argumennya sendiri tentang keutamaan. Menurutnya, mengetahui apa yang baik saja tidak cukup dikatakan sebagai keutamaan.

 

Ia membagi keutamaan juga menjadi dua hal yaitu Keutamaan Intelektual dan Keutamaan Moral. Keutamaan intelektual seperti yang dipahami oleh para pendahulunya sebagai apa yang diketahui atau bisa disebut sebagai pengetahuan akan apa yang baik.

Pengetahuan apa yang baik bisa diajarkan dan diterima manusia melalui pengalaman. Aristotles kembali menjelaskan bahwa pengetahuan tidak setara dengan keutamaan. Melainkan, pengetahuan adalah bagian atau irisan dari keutamaan. Menurutnya, keutamaan intelektual hanya berfungsi sebagai penyempurna rasio manusia.

“Keutamaan moral merupakan hasil dari kebiasaan” kata Aristotles. Ia (keutamaan) tidak muncul begitu saja, melainkan melalui tindakan praktis. Pada penjelasannya tentang keutamaan moral hal yang mendasar adalah keutamaan moral tidak alamiah pada manusia, tetapi hal yang alamiah itu potensi. Pengalaman dan kebiasaan adalah aktus dari keutamaan/ merealisasikannya.

Kebahagiaan


Kembali pada permasalahan pertama yaitu apa itu kebahagiaan? Bahagia menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online adalah keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan). Sedangkan, kebahagiaan adalah kesenangan dan ketenteraman hidup (lahir batin); keberuntungan; kemujuran yang bersifat lahir batin. [2]

 

Memaparkan definisi ini adalah upaya untuk kita dapat mengerti apa itu keutamaan menurut Aristotles. Jadi apakah kalian sudah bahagia setelah mengetahui definisi tersebut? Atau sebelum menjawab itu, kondisi seperti apa yang membuatmu bahagia?

Saya mengambil contoh pada diri saya, saya bahagia jika bisa merayakan ulang tahun bersama keluarga. Pada langkah kali ini, saya sudah tahu kebahagiaan saya seperti apa. Jadi apakah saya sudah bahagia?

Sedihnya saya belum merasakan kebahagiaan meskipun saya mengetahui apa kebahagiaan saya. Aristotles menjawab persoalan bahwa kebahagiaan didapatkan karena mewujudnyatakannya atau mengembangkan diri.

Menariknya, semakin mendalami karya Aristotles pada Ethica Nikomacheia akan ditemukan hal-hal baru yang harus untuk didalami. Muncul kata kerja baru yaitu “mengembangkan diri”. 

Mengembangkan diri pada konteks ini yaitu setelah mengetahui apa itu kebahagiaan yang harus dilakukan adalah mengembangkan apa yang kita sudah ketahui melalui tindakan nyata.

Hal ini juga memiliki makna lain dimana mengembangkan diri merupakan bentuk mengembangkan pada hal yang baik. Apa yang baik sering kali menjadi persoalan karena definisi ‘baik’ setiap orang tidak sama dan berubah-ubah.


Oleh karena itu, Aristotles pada karyanya mempunyai beberapa penegasan salah satunya “bahwa bukan mencari tingkat ketepatan dalam etika, karena etika hanya dapat meneliti tindakan manusia secara garis besar. Tindakan manusia mengenai hal-hal selalu berubah-ubah.”[3]

 

Aristotles juga menekankan perilaku yang baik pada kondisi masyarakat atau berhubungan dengan politik. Oleh karena itu, apa yang baik adalah hal yang bermakna. Adalah jasa Aristoteles bahwa ia memperlihatkan bahwa hidup yang bermakna itu justru membuat bahagia.[4]

 

Kenyatannya untuk mencapai kebahagiaan tidak semudah tahu dan melakukannya. Tetapi, terkadang untuk mencapai kebahagiaan kita harus melalui hal-hal yang tidak senang, sakit, tidak tentram atau kebalikan dari bahagia.

Maka, terjadilah persoalan pada filsuf lain yang mengatakan bahwa kebahagiaan didapat dari kenikmatan-kenikmatan, seperti hedonisme. Aristotles menyangkal itu bahwa perasaan nikmat bukanlah khas manusiawi.

Manusia adalah budak kebahagiaan? Sepertinya kita memang sedang diatur untuk bahagia dan berlomba-lomba untuk sampai pada kebahagiaan bukan? Tetapi, untuk mencapai kebahagiaan yang harus kita lakukan adalah melakukan hal baik dan mengembangkan diri.

Orang yang bahagia memang layak untuk dipuji, tetapi kita belum tentu bahagia dengan pujian. Jadi sudahkah kamu mencapai tujuan akhirmu sebagai manusia yang bahagia?



  

 

[1] Aristotles, Nicomachean Ethics II

[2] Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online. https://kbbi.web.id/bahagia 

[3] Aristotles, Nicomachean Ethics II

[4] Franz Magnis-Suseno, Menjadi Manusia: Belajar dari Aristoteles

(Yogyakarta: Kanisius, 2009) h. 3