Ibu Rumah Tangga
1 bulan lalu · 378 view · 13 min baca menit baca · Tips & Trick 75875_26810.jpg
konfrontasi.com

Mantra Sakti Lolos CPNS Kemenag

Sebelum keluar pengumuman tes CPNS, sebuah partai politik melamarku untuk menjadi caleg DPRD Kota Jambi. Mereka bilang 30% kuota perempuan belum terpenuhi. Aku lantas bertanya kepada suami.

“Ambil saja tawarannya, ini tidak datang dua kali. Atau pilihan lainnya adalah mengikuti tes CPNS bulan depan. Dua alternatif ini bisa memperbaiki perekonomian keluarga kita, Mi,” ucapnya dengan parau.

Dalam hati aku membatin, aku tidak tertarik pada dua pilihan itu. Persoalannya, bukan terletak pada uang, namun lebih pada pilihan. 

Suara piano Yiruma mengalun dari telepon genggamku. Itu sebagai penanda bahwa yang menelepon adalah kakak pertamaku, tetapi aku urung mengangkatnya dengan alasan yang tak kupahami.

“Maaf, Sayang, Aku tidak tertarik keduanya. Aku hanya akan mengejar impianku menjadi penngarang. Sebentar lagi aku akan resign dari perusahaan dan fokus menjadi penulis lepas. Tentunya, aku akan bebas berada di rumah, aku juga akan punya banyak waktu untukmu nantinya,” jawabku setengah sebal sembari menuju dapur meninggalkan suamiku di ruang tengah. 

Ia hanya geleng-geleng kepala.

***

Beberapa bulan berlalu. Kalimat penolakan menjadi politikus sudah kusampaikan sejak lama hingga tibalah pengumuman seleksi CPNS viral di media sosial. Keesokannya, ibu mertua dari Ponorogo meneleponku. Pada hari yang sama, kakak pertamaku yang bermukim di Muaro Bungo juga meneleponku. 

Permintaan keduanya ternyata sama. Mereka menginginkanku mengikuti seleksi tes CPNS. Keesokannya lagi, Bapak juga memintaku untuk mendaftar CPNS.

Malam itu mataku terbelalak memandang langit-langit kamar. Suara-suara mereka yang seperti kerumunan tawon berseliweran di kepala. Segudang pertanyaan pun bermunculan. 

Ya, aku tahu. Aku tahu latar belakang keluargaku banyak yang mengabdikan diri kepada negara dan mereka hidup nyaman dengan mengharapkan tunjangan pensiun. Ini jelas alasan mutlak di balik itu semua. Padahal, jelas-jelas mereka tahu bahwa gajiku sebulan dua kali lipat dari gaji pokok PNS.

Aku masih bersikeras menolak permintaan mereka dengan halus. Alasanku sebenarnya sederhana. Aku pernah tiga kali tes CPNS dan gagal. Hanya karena yang lolos saat itu punya kenalan orang dalam. Sementara aku hanyalah rakyat jelata yang hanya mengandalkan kerja keras dan usaha. Absurd sekali, bukan? 

Semenjak itu, aku berjanji takkan daftar CPNS lagi.

Namun, suamiku yang berkumis tipis itu tak kenal lelah merayu dan meyakinkanku agar mau mengikuti tes CPNS dengan iming-iming menuruti nasihat orang tua itu adalah salah satu jalan menuju surga.

Ditambah lagi, hampir setiap hari, kakak pertamaku mengirimkan info-info terbaru seputar CPNS melalui WhatsApp. Info-info mengenai tes CPNS sebenarnya juga sudah bergentayangan di grup-grup WA dan hingga saat itu aku merasa belum tertarik untuk mendaftarkan diri.

“Ikut tes CPNS, ya! Siapa tahu rezeki anak di dalam perut,” ucap kakakku dibalik ponsel. 

Aku hanya mengangguk dan berkata bahwa aku akan salat istikharoh dulu untuk memutuskan ikut tidaknya.

Beberapa hari kemudian, keragu-raguan itu terjawab sudah. Tidak ada salahnya aku mengikuti saran keluarga, barangkali saja berkah bagi anak yang berbakti.

Man Shobaro Zafiro. Kamu hanya perlu bersabar, agar menjadi orang yang beruntung,” kata orang lain dalam tubuhku.

Sebelum memutuskan diri untuk mendaftar, aku melakukan pengamatan kecil-kecilan tentang kuota CPNS di jurusanku, Guru Bahasa Idoesia. Di Kabupaten Muaro Bungo ada 16 kuota, di Kabupaten Muaro Jambi ada 15 kuota, sementara di Kementerian Agama ada 24 kuota.

Awalnya, aku berencana mendaftar di Kabupaten Bungo. Semua berkas sudah kusiapkan, tapi entah kenapa Tuhan membolak-balikkan hatiku hingga akhirnya kuputuskan mendaftar di Kemenag, dengan pertimbangan peluang terbanyak ada di sana. 


Baiklah, kunci penting yang perlu digarisbawahi adalah yakinkan diri terlebih dahulu untuk menentukan pilihan yang akan dituju.

/1/ SSCN dan Perjuangan Dini Hari

Perjuangan pertama dimulai. Usai pendaftaran CPNS dibuka melalui situs SSCN, aku pun mencoba  mendaftarkan diri. Namun, entah kenapa jaringan sulit sekali dijangkau. Mungkin sedang ramai-ramainya diakses sehingga satu sama lain saling berebut jaringan.

Senin itu kebetulan aku tidak masuk kerja karena terserang demam. Dari pagi hingga sore, aku hanya berkutat di depan laptop. Berkali-kali mendaftar untuk membuat akun meski akhirnya gagal juga. Sampai-sampai dua malam berturut-turut aku bergadang hingga subuh sembari ditemani suami. 

Padahal, saat itu aku sedang hamil. Begadang tentunya tak baik buat bumil, tetapi entah mengapa seperti ada yang menggerakkan hatiku untuk tetap mendaftar.

Barangkali tengah malam hanya sedikit yang mengakses situs SSCN sehingga akan mudah mendaftarnya. Ternyata sama saja, selain gagal, situsnya bahkan error. Esoknya kucoba kembali hingga akhirnya aku berhasil membuat akun. Lalu kupersiapkan berkas dengan teliti dan kuantar berkas itu langsug ke kanwil Kemenag Jambi.

Ada beberapa alasan aku – Rini Febriani –  mendaftar di Kemenag meski latar belakang ijazah kampusku jelas-jelas di berada bawah naungan Kemenristekdikti. Pertama, formasi jurusanku (Guru Bahasa Indonesia)  lumayan banyak sehingga peluangnya pun lumayan besar.

Kedua, selain tes SKD (Seleksi kemampuan Dasar) dilakukan dengan sistem CAT, salah satu rangkaian tes SKB (Seleksi Kemampuan Bidang) nya ada beberapa hal, yakni psikotes, wawancara, dan praktik kerja. Nah, saat itu aku yakin mampu menjalani praktik mengajar berbekal pengalamanku mengajar di bimbel. Ketiga, mengikuti saran kakak pertama dan abang iparku, yang keduanya merupakan  PNS di bawah naungan Kemenag Jambi.

/2/ Ini Bukan Akhir, Ini Hanya Proses

Rentang waktu dari pendaftaran menuju ujian SKD masih ada satu bulan lagi. Aku pun memutar otak mengatur strategi sebab tak ingin mengecewakan keluarga. Tiba-tiba aku teringat ungkapan Arab Man Jadda Wa Jada, yang artinya siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Sudah lama aku membuktikan kedahsyatannya. Baiklah aku menemukan sebuah jalan.

Meski belum tahu akan lolos bahan hingga bisa lanjut menuju ujian CAT SKD, aku pun membuat peta konsep ala Tony Buzan. Dalam sebulan ke depan, akhirnya aku pun menjadi sedikit waras dengan melakukan hal-hal konyol berikut.

Pertama, membuat grup WA yang isinya hanya tiga orang; aku, Masita, dan Wirda. Setiap hari kami bertiga wajib mengirim tujuh soal ke grup. Malamnya, masing-masing pemberi soal akan memberi jawaban beserta penjelasannya sehingga kami bertiga bisa melakukan evaluasi. Jadi, total soal SKD yang dipelajari dalam sehari berjumlah 21 soal.

Kedua, mengunduh aplikasi soal-soal tes CPNS di playstore dan menjawab minimal sepuluh soal. Ketiga, membeli buku CPNS, mencatat materi penting di sebuah buku (terutama mengenai materi kewarganegaraan), dan membahas minimal 50 soal dari buku per hari.

Keempat, membeli aplikasi CAT online dan membahas soal-soalnya hampir setiap hari. Keuntungan lainnya, aplikasi yang kubeli ini kujual kembali seharga Rp50 ribu. Alhamdulillah, aku meraup untung hingga Rp600 ribu.

Kelima, meski harus menghadiri undangan acara literasi di Jakarta dan Solo, aku tetap membawa  buku tebal kumpulan soal CPNS. Di sela-sela malam buta sebelum tidur, aku tetap menyempatkan membahas soal di buku dan grup WA. Keenam, sukses menjadi stalker medsos Kemenag, stalker segala medsos yang berhubungan dengan CPNS, juga bergabung di grup-grup CPNS di FB.

Alhamdulillah, berkah dari kesungguhan ini, aku bisa melaju ke tes SKD.  Meski sempat kebingungan karena kemeja putihku tak ada lagi yang muat sebab perutku sudah membucit laiknya balon. Kakiku juga sudah bengkak sehingga semua sepatu yang ada sudah tak muat lagi.

Beruntungnya, suami begitu perhatian sehingga beliau membelikanku sepatu ballet hitam berukuran 40. Ukuran ini naik dua angka dari ukuran normal kakiku sebelum hamil. Selain itu, suami juga membelikan pita hijau dan meminjamkan kemeja putih keramat yang pernah ia kenakan saat ujian skripsi di UNY dan ujian tesis di UGM. Alhamdulillah, suami dengan ikhlas membantu menyiapkan segala keperluan tes yang kubutuhkan.

Karena jadwal ujian SKD pukul 08.00 WIB dan panitia mengingatkan untuk tiba di lokasi dua jam sebelunya, maka aku pun berangkat dari rumah pukul 05.30 WIB dengan ditemani gerimis. Hujan turun semalaman dengan lebatnya. Untung saja Minggu pagi 11 November 2018 ini hanya tersisa gerimis saja.

Alhamdulillah, pada saat ujian SKD  selesai, ternyata nilaiku belum lolos passing grade. Jatuh sekali pada tes kepribadian. Aku tertawa polos sambil membatin, “Aku tuh memang nggak cocok jadi PNS. Aku tuh cocoknya jadi pengarang aja. Jadi ibu rumah tangga full di rumah.” Usut punya usut, sepertinya aku salah memanajemeni waktu. Hanya fokus di bagian tertentu hingga mengabaikan bagian lain.

Usai ujian, aku menyeringai lebar saat menatap tiga angka diawali angka tiga yang terpampang di layar komputerku. Angka itu tiba-tiba seperti memunculkan kepalanya yang menyerupai perempuan dan seraya berkata,”Langkahmu hanya akan terhenti sampai di sini, Nona.”

Aku mengedipkan mata dan kudapati kehampaan dalam layar monitor itu berpindah ke tubuhku. Aku pun bergegas meninggalkan ruangan dengan tabah. Namun sungguh, aku tidak menyesal andaikata tidak bisa maju ke tes berikutnya. Setidaknya, aku sudah berjuang semampuku. Ini bukan akhir. Ini hanya proses. Dan aku selau percaya, tidak ada yang sia-sia dalam menuju sesuatu.

Yang hingga kini membekas dari sepenggal kenangan SKD di Hotel Cahaya Prima adalah perlakuan panitia kepada kaum prioritas. Aku mengucapkan banyak terima kasih kepada kemenag karena telah memprioritaskan bumil untuk tidak mengantre saat menuju ruang ujian CAT SKD.

Kebetulan saat itu aku tengah hamil delapan bulan. Aku hanya tidak bisa membayangkan jika harus mengantre panjang dalam jangka waktu yang lumayan. Bisa saja aku pingsan di tempat karena dua kaki yang menopang tubuhku tiba-tiba saja terasa rapuh.

/3/ Hamil Tua dan Kekuatan Doa

Ibarat mendapat angin segar tatkala ada kabar baru bahwa ada kemungkinan yang tidak lolos passing grade bisa melaju ke babak SKD dengan sistem perengkingan. Alhamdulillah, Allah mahabaik, namaku terciduk lagi untuk melaju ke SKB. Di jadwal sudah tertera bahwa 17 Desember 2018 adalah jadwal psikotes.

Yang membuatku bingung ketika itu hanya satu hal, kehamilanku sudah memasuki usia 9 bulan atau 38 minggu. Meski HPL (Hari Perkiraan Lahir) dari dokter adalah 31 Desember 2018, tetap saja aku merasa cemas, sebab dokter bilang bisa saja aku mbrojol di pertengahan Desember, atau bahkan bisa juga mundur dari HPL. Aku sungguh takut tak bisa mengikuti SKB jika saja tiba-tiba aku melahirkan. Atau aku sangat takut jika saat tes SKB, tiba-tiba terasa kontraksi melahirkan.

Dengan berani dan tebal muka, aku memohon doa kepada beberapa kontak yang kukenal di media sosial WA, FB, dan IG agar aku tidak melahirkan saat mengikuti tes SKB. Respons kebanyakan teman-teman sangat bagus. Mereka bahkan mendoakan kelulusanku.

Tak lupa pula memohon doa restu dari orang tua, terutama ibu. Meski sebelum SKD aku sudah melakukannya, kupikir memohon doa berkali-kali bukanlah hal yang rumit. Saat datang ke pesantren mengunjungi dua kemenakanku, aku juga memohon doa mereka. 

Yang bagiku lucu, Kakak pertamaku sampai menelpon anaknya, yang sedang nyantri di Gontor Putri di Kediri, hanya untuk meminta doa supaya aku lulus CPNS. Aku hanya percaya jika ada 40 orang lebih yang mendoakanku insyaalloh akan dikabulkan.

Man sara darbi ala washala. ‘Siapa yang berjalan di jalur-Nya akan sampai.’


Saat ujian psikotest di Man IC Muaro Jambi, debay di dalam perut selau menendang-nendang seperti biasa. Padahal setiap subuh sering kuajakin ngobrol, “Dedek, bantuin Mimi berjuang ya! Semua keluarga mengharapkan pekerjaan ini, baik-baik di dalam perut dan bantu doa ya!” biasanya akan dibalas dengan tendangan atau terkadang tak ada balasan sama sekali.

Pada hari kedua, 18 Desember 2018, tes berikutnya adalah wawancara dan praktik mengajar. Aku pun mendatangi panitia agar diberikan waktu wawancara pertama kali mengingat aku termasuk ibu hamil. 

Saat berhadapan dengan panitia pewawancara, yang sepertinya mereka adalah dosen UIN Sultan Thaha, aku sangat shocked dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan karena semuanya di luar yang perkiraan.

Kalau untuk tes mengaji, menulis arab, salat, membaca Quran, insyaalloh aku bisa. Namun saat diminta menafsirkan surat Al-Maidah yang aku lupa ayat berapa, dengan polos aku menjawab, “Maaf Pak, saya tidak tahu. Saya hanya tahu arti beberapa kata seperti nur artinya cahaya, rabb artinya Tuhan.” 

Satu di antara pewawancara itu menertawaiku. Juga pertanyaan-pertanyaan lain seputar khilafah, teroris, islam nusantara, dan toleransi, aku merasa menjawab seadanya saja.

Ketika aku menjawab singkat, pewawancara seolah memancing agar aku memberikan jawaban panjang. Tatkala jawaban panjang sudah terucap, mereka akan mengejar terus jawabanku. Begitu seterusnya sampai pengetahuan aku stuck sampai di situ. Aku merasa menjawab ngawur-sengawur-ngawurnya.

Hal yang menurutku sagat fatal dan membuat nilai wawancaraku paling rendah, sepertinya karena aku salah menjawab. Panitia bertanya, “Mana yang lebih prioritas antara pekerjaan dan keluarga?” lalu kujawab, “dua-duanya penting, Pak.” Namun, panitia pewawancara memojokkanku untuk memilih salah satunya.

Karena aku tidak berani bohong saat wawancara, lantas kujawab saja, yang menjadi prioritasku adalah keluarga. Mereka mengulangi pertanyaan sampai tiga kali. Tentu saja kuberikan jawaban yang sama, keluarga. Sebab, aku mengikuti tes ini karena keluargaku. Makanya kupilih keluarga saja.

Usai wawancara, aku memohon doa kepada pewawancara agar prosesi lahiranku nantinya dimudahkan. Pewawancara laki-laki berkata begini, “Nggak sekalian minta didoain, Bu, biar lulus CPNS?” aku tersenyum dan mengatakan, “Boleh juga, Pak.”

Kusalami dua pewawancara. Saat menjabat tangan si ibu pewawancara, beliau bilang begini, “Semoga lahirannya lancar ya, Bu.”

“Terima kasih, Bu” jawabku.

Aku pun keluar ruangan. Waktu masih menunjukkan pukul 09.30 WIB. Pikiranku sungguh campur aduk mengingat jawaban yang kulontarkan saat wawancara tadi. Karena jadwal microteaching-ku pukul 13.00 WIB, aku pun menenangkan diri ke musola bersama seorang teman.

Usai makan siang yang diantarkan suamiku ke lokasi tes, yang kebetulan tidak jauh dari kampus tempat suamiku mengajar, aku dan suami pun menuju ruangan tes. Di sana, aku memohon kepada panitia agar diberikan kesempatan tes pertama. Berbekal powerpoint, spidol tiga warna (merah, biru, hitam), dan juga laptop, aku berhasil melewati saat-saat terakhir paling menegangkan.

Saat diminta mengajar dalam bahasa Arab dan bahasa Inggris, aku hanya bisa menggunakan bahasa Inggris yang terbata-bata. Kupikir khusus guru Bahasa Indonesia tidak diminta mempraktikkan itu, namun Kemenag memang beda. Aku suka tantangan yang tak mudah ditebak itu.

Kusalami dua penguji dan aku senang sekali saat ibu penguji tiba-tiba mendoakanku agar nantinya proses persalinan bisa lancar. Sementara bapak  pengujinya berpesan agar aku perlu banyak berdoa supaya bisa lulus CPNS. Aku pun pamit dengan perasaan lega. Lalu kutemui suamiku yang telah menunggu di depan ruangan. Kami pun menuju parkiran dan bergegas pulang.

Di hadapanku, tiba-tiba ada peserta perempuan yang hendak meminjam spidol merah yang masih berada di tanganku. Kuberikan saja spidol itu kepadanya. Saat ia menanyakan bagaimana caranya ia akan mengembalikannya kelak, kukatakan agar ia tak perlu memikirkan hal itu. Aku percaya ketika kita memudahkan urusan orang lain, insyaalloh nanti urusan kita juga akan dimudahkan.

/4/ Sebuah Kabar Hangat dari Selatan

Awal tahun 2019 seperti berkah bagi keluarga kecilku. Dikaruniai bayi laki-laki menjadi kebahagiaan tersendiri setelah sebelumnya aku mengalami keguguran. Saat itu aku sangat ingin melahirkan normal, namun pembukaannya sangat lambat. 

Dua hari aku sudah berada di klinik bidan sehingga akhirnya aku dirujuk ke rumah sakituntuk melahirkan secara caesar. Tidak mengapa. Aku mensyukuri segala yang telah ditetapkan. Di saat aku merencanakan A, tetapi Allah memberikan solusi B. Aku yakin ini yang terbaik buatku dan keluarga.

Hingga pengumuman itu tiba, rumah yang biasanya kami huni berdua saja kini sudah ramai dengan tangis si kecil. Abang ipar tiba-tiba menelpon dan memberi tahu kelulusanku. Di grup WA juga sudah ramai kiriman PDF kelulusan. Karena saat itu kuotaku sekarat, aku hanya mampu mengunduh file dengan kapasitas kecil. 

Baca Juga: PNS Nongkrong

Beberapa teman mengirimi foto nilai untuk meyakinkan bahwa aku benar-benar lulus CPNS. Nilai tertinggiku ada di praktik mengajar, menyusul keduanya di psikotes, dan wawancara.

Tak ada yang bisa kulakukan selain berucap syukur. Aku benar-benar terharu dan setengah tak percaya. Tiba-tiba dari mulutku keluar kalimat Fabiayyi aalaa’i rabbikumaa tukadzdzibaan ‘Maka nikmat Tuhanmu yang manakah engkau dustakan?’ juga, aku teringat QS. Ibrohim : 7, Lain Syakartum laazidannakum ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu.’

Seminggu pasca operasi, aku menjemput seorang teman untuk tes urine ke  BNN. Dengan pelahan, aku mengendarai motor dan memboncengnya. Saat ada jalan berlubang atau polisi tidur, aku perlu berhati-hati karena hentakannya akan membuat jahitanku terasa nyeri. Beberapa kali aku gagal menghindar, namun aku bisa menyembunyikan rasa nyeri itu. Sungguh, aku hanya tidak ingin terlihat lemah di depan siapa pun. Malu!!!

Beberapa hari berikutnya, aku masih bolak-balik kampus dan rumah sakit untuk mengurus beberapa surat. Dengan menahan nyeri dan berjalan ekstralambat, aku mampu melewati semuanya. Aku hanya menyugesti diri bahwa aku kuat dan harus kuat. Ya, aku kuat dan harus kuat. Kalimat itu yang kuulang-ulang beberapa kai di saat aku merasakan nyeri di bekas jahitan operasiku.

Keesokannya, seorang teman dari Palu mengirimiku pesan. Ia mengucapkan selamat dan terima kasih. Kukatakan pula bahwa akulah yang seharusnya berterima kasih karena berkat doanya, aku bisa diterima menjadi CPNS. Teman yang lain juga mengirimi pesan agar kelak bisa menjadi ASN yang amanah. Ditambah lagi ia mengingatkan agar aku tidak berhenti menulis. Senang masih banyak yang peduli terhadapku.

Dalam hati aku hanya membatin, sungguh hebat sekali kekuatan doa. Tentu aku ingin menjadi ASN yang amanah. Kelak, aku juga ingin menjadi orang baik yang bisa menolong siapa saja. Mungkin selama ini aku belum sempurna di mata teman-temanku.

Seperti kata ungkapan Man yazro yashud ‘Siapa yang menanam akan menuai.’

Semoga siapa saja yang menanam kebaikan akan menuai kebaikan yang berlimpah pula. Amin.

Artikel Terkait