Al-Qur'an adalah sumber hukum Islam yang utama. Oleh karena itu, tidak dibolehkan jika dalam memahami isi kandungan ayat Al-Qur'an hanya mengandalkan pemahaman secara tekstual belaka. Oleh sebab itu, di dalam Ulumul Qur'an terdapat pembahasan mengenai cara menentukan ayat yang menunjukan hukum secara tekstual dan secara kontekstual. Pembahasan itu terdapat pada materi manthuq dan mafhum.

Karena apabila diteliti kembali, di dalam Al-Qur'an terdapat beberapa ayat yang memberikan pemahaman secara langsung dan jelas secara tersurat, juga terdapat beberapa ayat yang memberikan pemahaman secara tersirat. 

Oleh karena itu, untuk memahami dan menentukan hukum serta makna yang terkandung dalam suatu ayat, maka sebaiknya memahami pembahasan tentang manthuq dan mafhum terlebih dahulu.

Pengertian Manthuq Serta Macam-macamnya Dalam Ulumul Qur’an

Secara bahasa manthuq berasal dari نطق- ينطق yang artinya berbicara atau berkata. Sedangkan istilah, manthuq adalah sesuatu (makna) yang ditunjukan oleh lafadz menurut ucapannya, yakni penunjukan makna berdasarkan materi huruf-huruf yang diucapkan.

Manthuq terdiri dari nash, zahir, muawwal, dan dilalah. Akan tetapi dilalah dibagi menjadi dua yaitu dilalah iqtda' dan dilalah isyarah.

1. Nash

Nash adalah lafadz yang bentuknya sendiri telah dapat menunjukan makna yang dimaksud secara tegas (sarih) dan tidak mengandung kemungkinan makna lain. Misalkan dalam firman Allah Swt:

فَمَنْ لَّمْ يَجِدْ فَصِيَا مُ ثَلٰثَةِ اَيَّا مٍ فِى الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ اِذَا رَجَعْتُمْ ۗ تِلْكَ عَشَرَةٌ كَا مِلَةٌ

“Maka barang siapa yang tidak mendapatkannya, maka (wajib) berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 196)

Penyifatan “sepuluh” dengan “sempurna” telah mematahkan kemungkinan “sepuluh” diartikan lain secara majas (metafora).

2. Zahir

Zahir adalah lafadz yang menunjukan sesuatu makna yang segera difahami ketika ia diucapkan tetapi disertai kemungkinan makna lain yang lemah (marjuh). 

Jadi, zahir sama dengan nash dalam hal penunjukan makna yang berdasarkan pada ucapan. Akan tetapi, nash memiliki makna satu dengan tegas, sedangkan zahir memiliki makna yang lain. Misalkan dalam surah Al-Baqarah ayat 173.

فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَا غٍ وَّلَا عَا دٍ فَلَاۤ اِثْمَ عَلَيْهِ

"Tetapi barang siapa terpaksa (memakannya), bukan karena menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 173)

Lafadz "al-bag" digunakan untuk makna "al-jahil" (bodoh, tidak tahu) dan "Az-zalim" (zalim, melampaui batas). Tetapi pemakaian makna yang kedua lebih tegas dan popular sehingga inilah makna yang kuat (rajih), sedangkan makna yang pertama adalah yang lemah atau marjuh.

3. Muawwal

Muawwal adalah lafadz yang diartikan dengan makna yang lemah (marjuh) karena ada sesuatu dalil yang menghalangi dimaksudkannya makna yang kuat (rajih). Berbeda dengan zahir yang mengambil makna dari yang kuat. Akan tetapi, masing-masing keduanya ditunjukan oleh lafadz yang diucapkan. Misalnya dalam surah Al-Isra ayat 24.

وَا خْفِضْ لَهُمَا جَنَا حَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًا 

"Dan rendahkan lah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, "Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil."" (QS. Al-Isra' 17: Ayat 24)

Lafadzjanaha adz-dzulli” diartikan dengan tunduk, tawadu’ dan bergaul dengan baik dengan kedua orang tua. Tidak diartikan “sayap” karena manusia tidak mempunyai sayap.

4. Dalalah Iqtda’

Dalalah Iqtida’ adalah kebenaran petunjuk sebuah lafadz terhadap makna yang tergantung sesuatu yang tidak disebutkan. Jadi pada redaksi tertentu harus memiliki sisipan lafadz, agar bisa dipahami dengan lurus. Misalnya dalam surah Al-Baqarah ayat 184.

فَمَنْ كَا نَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّا مٍ اُخَرَ

"Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 184)

Ayat ini memerlukan lafadz yang tidak disebutkan, yaitu “fa afthara” (lalu ia berbuka). Sebab kewajiban qadha puasa hanya bagi yang membatalkan puasa. Oleh karena itu, orang yang dalam perjalanan atau yang sedang sakit, jika tetap berpuasa maka tidak wajib qadha puasa.

5. Dalalah Isyarah

Dalalah isyarah adalah makna yang diambil dari lafadz, akan tetapi memiliki hubungan kelaziman dengan konteks uraiannya. Misalkan dalam surah Al-Baqarah ayat 187.

اُحِلَّ لَـکُمْ لَيْلَةَ الصِّيَا مِ الرَّفَثُ اِلٰى نِسَآئِكُمْ ۗ هُنَّ لِبَا سٌ لَّـكُمْ وَاَ نْـتُمْ لِبَا سٌ لَّهُنَّ ۗ عَلِمَ اللّٰهُ اَنَّکُمْ كُنْتُمْ تَخْتَا نُوْنَ اَنْفُسَکُمْ فَتَا بَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۚ فَا لْــئٰنَ بَا شِرُوْهُنَّ وَا بْتَغُوْا مَا کَتَبَ اللّٰهُ لَـكُمْ ۗ وَكُلُوْا وَا شْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَـكُمُ الْخَـيْطُ الْاَ بْيَضُ مِنَ الْخَـيْطِ الْاَ سْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَا مَ اِلَى الَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَا شِرُوْهُنَّ وَاَ نْـتُمْ عٰكِفُوْنَ ۙ فِى الْمَسٰجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَقْرَبُوْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّا سِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ

"Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobat mu dan memaafkan kamu. 

Maka sekarang campuri lah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. 

Tetapi jangan kamu campuri mereka ketika kamu beritikaf dalam masjid. Itulah ketentuan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka bertakwa." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 187)

Ayat ini memperbolehkan hubungan suami-istri pada malam hari puasa, yakni sampai batas berakhirnya malam. Hal ini mengisyaratkan bahwa seseorang dalam keadaan junub tidak batal puasanya.

Kedua dalalah ini, yaitu iqtidha’ dan isyarah, juga didasarkan pada lafadz maka keduanya termasuk dalam kategori manthuq.

Pengertian Mafhum Serta Macam-macamnya Dalam Ulumul Qur’an

Mafhum berasal dari فهم yang artinya pengertian. Mafhum adalah makna yang tidak terucapkan yang terdapat pada lafadz dan dipahami dari manthuq. Mafhum terbagi menjadi dua, yakni mafhum muwafaqah dan mafhum mukhalafah.

1. Mafhum Muwafaqah

Mafhum muwafaqah ialah makna yang sesuai dengan manthuq. Mafhum Muwafaqah dibagi menjadi dua macam: 

a. Fahwal Khitab, yaitu apabila mafhum lebih berat hukumnya daripada mantuq. Misalnya keharaman mencaci-maki dan memukul kedua orang tua yang dipahami dari surah Al-Isra' ayat 23:

اِمَّا يَـبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَاۤ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَاۤ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا

"Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaan mu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik." (QS. Al-Isra' 17: Ayat 23)

Manthuq ayat ini adalah haramnya mengatakan “ah”, oleh karena itu keharaman mencaci-maki dan memukul lebih pantas diambil karena keduanya lebih berat.

b. Lahnul Khitab, yaitu apabila hukum mafhum sama nilainya dengan hukum manthuq. Misalnya dalam surah An-Nisa' Ayat 10:

اِنَّ الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ اَمْوَا لَ الْيَتٰمٰى ظُلْمًا اِنَّمَا يَأْكُلُوْنَ فِيْ بُطُوْنِهِمْ نَا رًا ۗ وَسَيَـصْلَوْنَ سَعِيْرًا

"Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api dalam perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)." (QS. An-Nisa' 4: Ayat 10)

Ayat ini menunjukkan pula keharaman membakar harta anak yatim atau menyia-nyiakannya dengan cara perusakan yang bagaimanapun juga. Disebut lahnul khitab karena ia sama nilainya dengan memakannya sampai habis.

2. Mafhum Mukhalafah

Mafhum mukhalafah ialah makna yang berbeda hukumnya dengan manthuq. Macam-macam mafhum mukhalafah:

a. Mafhum Shifat, yaitu menetapkan sebuah hukum yang berkaitan dengan sifat apabila sifat tersebut tidak menyertainya. Yang dimaksud ialah sifat ma'nawiseperti:

=> Musytaq (kata turunan). Misalnya dalam ayat: 

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنْ جَآءَكُمْ فَا سِقٌ   بِۢنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْۤا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا   بِۢجَهَا لَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka teliti lah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatan mu itu." (QS. Al-Hujurat 49: Ayat 6)

Pengertian yang diambil dari ungkapan kata “fasik” ialah bahwa orang yang tidak fasik tidak wajib diteliti beritanya. Ini berarti bahwa berita yang disampaikan oleh seorang yang adil wajib diterima.

=> Hal (keadaan)

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَاَ نْـتُمْ حُرُمٌ ۗ وَمَنْ قَتَلَهٗ مِنْكُمْ مُّتَعَمِّدًا فَجَزَآءٌ مِّثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu membunuh hewan buruan, ketika kamu sedang ihram (haji atau umrah). Barang siapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan hewan ternak yang sepadan dengan buruan yang dibunuhnya, ..." (QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 95)

Ayat ini menunjukkan tiadanya hukum bagi orang yang membunuhnya karena tak sengaja. Sebab penentuan “sengaja” dengan kewajiban membayar denda menunjukkan tiadanya kewajiban membayar denda dalam pembunuhan binatang buruan tidak sengaja.

=> 'Adad (bilangan)

وَا لَّذِيْنَ يَرْمُوْنَ الْمُحْصَنٰتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوْا بِاَ رْبَعَةِ شُهَدَآءَ فَا جْلِدُوْهُمْ ثَمٰنِيْنَ جَلْدَةً وَّلَا تَقْبَلُوْا لَهُمْ شَهَا دَةً اَبَدًا ۚ وَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ

"Dan orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan yang baik (berzina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka delapan puluh kali, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka untuk selama-lamanya. Mereka itulah orang-orang yang fasik" (QS. An-Nur 24: Ayat 4)

Mafhum-nya ialah mereka tidak boleh didera kurang atau lebih dari 80 kali.

b. Mafhum Syarat, yaitu menetapkan suatu hukum yang berkaitan dengan syarat apabila syarat tersebut tidak menyertainya. Misalnya:

وَاِ نْ كُنَّ اُولَا تِ حَمْلٍ فَاَ نْفِقُوا عَلَيْهِنَّ حَتّٰى يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ 

"Dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalak) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya sampai mereka melahirkan kandungannya" (QS. At-Talaq 65: Ayat 6)

Makna atau mafhum-nya ialah istri yang dicerai tetapi tidak sedang hamil, tidak wajib diberi nafkah.

c. Mafhum Ghayah, disebut juga batasan atau maksimalitas.

وَكُلُوْا وَا شْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَـكُمُ الْخَـيْطُ الْاَ بْيَضُ مِنَ الْخَـيْطِ الْاَ سْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

"Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. " (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 187)

Kebolehan makan dan minum pada bulan Ramadhan sampai terbit fajar. Mafhum-nya larangan makan dan minum setelah terbit fajar.

d. Mafhum Hasr (pembatasan atau pengkhususan).

اِيَّا كَ نَعْبُدُ وَاِ يَّا كَ نَسْتَعِيْنُ

"Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan." (QS. Al-Fatihah 1: Ayat 5)

Mafhum-nya yaitu bahwa selain Allah tidak disembah dan dimintai pertolongan. Oleh karena itu, ayat tersebut menunjukkan bahwa hanya Dia-lah yang berhak disembah dan dimintai pertolongan.

Sekian pembahasan mengenai manthuq dan mafhum. Semoga bermanfaat :)