“Sirine sekolah berbunyi dengan kerasnya, semua siswa dan guru membawa tas ditaruh d iatas kepala, sambil berteriak, awas-awas!!!!! kepala dilindungi jangan sampai kejatuhan bangunan, berlindung!!!, ayo berlindung!!! jauhi bangunan!!!”.

 

Cuplikan kata di atas adalah simulasi jika terjadi gempa bumi. Simulasi tersebut dilaksanakan di SMPN 3 Jeruklegi Cilacap Jawa Tengah. Hal ini sangat penting untuk dilakukan sebagai awal dari mitigasi bencana gempa bumi. Kabupaten Cilacap terletak di Pulau Jawa bagian selatan yang notabene rawan gempa bumi dan tsunami. Simulasi tersebut bertujuan agar siswa dan warga sekolah siaga dan peka terhadap bencana gempa bumi dan menjadi bekal pengetahuan ketika terjadi bencana gempa bumi.

Pembelajaran mitigasi bencana gempa bumi berbasis projek bukan hanya menjadikan siswa sebagai objek pembelajaran, lebih dari itu siswa menjadi peran utama. Tujuan dari pembelajaran mitigasi bencana gempa bumi berbasis projek adalah menjadikan siswa yang mampu berpikir merdeka, siswa yang kreatif,  dan inovatif. Selain itu pembelajaran ini diharapkan mampu mengembangkan daya kritis, sehingga siswa menjadi manusia yang benar-benar merdeka.

Manifestasi merdeka belajar yaitu mengikutsertakan siswa dalam merencanakan kegiatan pembelajaran. Perencanaan yang dilakukan siswa adalah membuat grand desain tentang mitigasi bencana gempa bumi. Grand desain yang dibuat mulai dari denah jalur evakuasi, membuat papan jalur evakuasi, dan spot atau titik kumpul. Siswa juga terlibat dalam perencanaan simulasi gempa bumi, sehingga siswa mengekplor kemampuannya secara penuh dalam kegiatan mitigasi ini.

Pembuatan denah jalur evakuasi melibatkan siswa secara penuh. Siswa dibentuk kedalam tiga kelompok. Kelompok pertama membuat denah jalur evakuasi, kelompok kedua membuat spot atau titik kumpul, dan yang ketiga merancang simulasi jika terjadi gempa bumi.

Ketiga kelompok tersebut tidak berdiri sendiri melainkan saling terkoneksi dan berkolaborasi agar rangkaian kegiatan mitigasi bencana gempa bumi berjalan dengan baik. Kolaborasi yang dialukan siswa tersebut saling melengkapi antar kelompok. Berhasil atau tidaknya pembelajaran berbasis projek ini tergantung bagaimana para siswa mengembangkan kemampuan berkolaborasi. Hal ini sangat baik untuk dilakukan agar kemampuan kolaborasi siswa menjadi lebih baik.

Pembelajaran mitigasi bencana gempa bumi juga dapat mengembangkan daya kritis siswa. Daya kritis muncul ketika siswa berdiskusi dalam kelompok maupun antar kelompok. Siswa mengembangkan ide-idenya tentang mitigasi bencana, misalnya mereka berdiskusi dimanakah tempat yang pas meletakkan papan jalur evakuasi, dan titik kumpul. Mereka juga berdiskusi bagaimana simulasi jika terjadi gempa bumi.

Pembelajaran ini tentunya juga menggugah siswa dalam mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, hal ini juga menambah daya kritis. Siswa akan mencari informasi terkait mitigasi bencana gempa bumi  dari artikel online, youtube, buku dan lainnya. Hal ini akan membawa dampak positif bagi siswa yaitu siswa dapat memilah dan memilih informasi yang benar dan informasi yang salah.

Peran guru dalam pengumpulan informasi yang dilakukan siswa adalah memberi saran terkait informasi yang relevan dan yang tidak. Hal ini siswa lebih mandiri dalam belajarnya, sehingga guru tidak lagi menjadi hakim mutlak dalam kelas melainnya sharing partner. Selain itu kebenaran dalam belajar juga bukan hanya dari guru tetapi juga bisa informasi yang didapat oleh siswa dari berbagai sumber.

Penerapan pembelajaran berbasis projek menjadikan siswa sebagai subjek utuh dalam pembelajaran disekolah. Guru hanya menjadi komposer untuk menggali potensi-potensi siswa. 

Pembelajaran ini juga akan menumbuhkan bakat tertentu dari siswa, misalnya siswa membuat desain denah jalur evakuasi, secara tidak langsung siswa yang mempunyai bakat dibidang desain grafis akan tersalurkan. Selain itu siswa yang mempunyai kemampuan leadership juga akan terfasilitasi dalam pembelajaran ini, serta kemampuan-kemampuan yang lainnya.

Potensi-potensi yang dimiliki siswa diharapkan bisa membuat mereka semakin semangat dalam belajar. Sebagai seorang guru harus bisa memaksimalkan kemampuan siswa sesuai dengan potensi yang ia miliki. Sehingga dalam kehidupan sehari-hari siswa dapat menerapkan apa yang ia peroleh dari sekolah.

Pembelajaran gempa bumi berbasis projek juga tidak menjauhkan siswa dari realitas kehidupan nyata. Pembelajaran ini memfasilitasi siswa agar lebih dekat dengan kondisi lingkungan, baik lingkungan fisik ataupun lingkungan sosial dan budaya. 

Pembelajaran ini menjadi jawaban tentang permasalahan siswa dilingkungannya. Mereka lebih siap dalam menghadapi gempa bumi yang bisa terjadi dimana saja dan kapan saja. Dengan adanya pembelajaran ini tentunya mereka diharapkan mampu menerapkan prinsip dasar dalam mitigasi bencana. Yaitu pra bencana, saat bencana, dan pasca bencana.

Prabencana adalah segala sesuatu yang perlu disiapkan sebelum bencana. Prabencana ini sebagai persiapan baik secara material maupun secara immaterial. Dalam kontek gempa bumi siswa menyiapkan denah evakuasi, papan jalur evakuasi, titik kumpul, dan pengetahuan yang memadai saat terjadinya gempa.

Saat bencana apa saja yang harus dilakukan oleh siswa, misalnya mereka ketika mendengarkan sirine mereka tidak panik tetapi secara sigap dan tenang mengikuti prosedur. Mereka melindungi kepala dari jatuhan bangunan. Kemudian mereka mencari jalur evakuasi sesuai petunjuk dan arahan.

Pasca bencana siswa menolong temannya yang menjadi korban, tentunya dengan prosedur 3 Aman, yaitu aman diri, aman lingkungan dan aman korban. Prinsip-prinsip tersebut dibutuhkan siswa sebagai bekal nantinya jika terjadi bencana gempa bumi. Dengan adanya pembelajaran seperti ini diharapkan siswa dapat berperan lebih dalam lingkungannya, baik lingkungan fisik mereka tinggal, ataupun lingkungan sosial dan budaya.

Pada intinya pembelajaran berbasis projek ini diharapakan menumbuhkan kreativitas siswa yang berdasarkan kolaborasi. Pembelajaran ini dapat menjawab masalah yang ada di sekitar siswa. Kemudian dalam pembelajaran juga diharapkan siswa yang berkarakter, misalnya peduli, inovatif, kritis, dan mampu menjadi inisiator di lingkungannya.